. : : I N S A N – S A I N S : : .

INSAN perindu IHSAN : : Mencari hikmah di telaga SAINS

Arsip untuk April 2010

Tujuan Lintas Masa

dengan 11 komentar

Serial Samurai Muslim

Bagian 04 : Tujuan Lintas Masa

Pedang Musashi

Suatu ketika seorang shugyosha bernama Kihei Arima melakukan perjalanan dari satu kampung ke kampung lain. Bukan sekedar pengembaraan biasa, melainkan sebuah perjalanan untuk sebuh pembuktian bahwa dirinyalah shugyosha terhebat. Maka di setiap kampung yang dilewati, dia menantang samurai-samurai yang ada di kampung tersebut untuk berduel. Duel pedang hingga mati.

Kepercayaan dirinya makin bertambah, banyak pertarungan dimenangkannya. Artinya banyak samurai yang bertemu dengannya sebagai malaikat maut. Pedangnya lahap memakan nyawa. Hingga suatu saat tibalah dia di suatu kampung. Seperti biasa. Memasang pengumuman pada selembar kertas bertinta emas. Tentang duel maut bagi samurai yang berani menjawab tantangannya.

Keesokan harinya dia melihat pengumuman tantangannya itu terisi sebuah jawaban. Ada yang berani ternyata. Singkat kata, hari maut pun tiba. Arima datang dengan gagah, penuh percaya diri. Bak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa seseorang.

Dari kejauhan dia melihat penerima tantangannya samar. Dahinya mulai mengerut, matanya menipis tajam, mencoba melihat lawannya dari kejauhan. Masih samar juga. Langkahnya terus mendekat, hingga jelaslah siapa penantangnya. Tapi kejelasan itu malah mengerucut kesal. Karena ternyata penantangnya itu tidak pernah ia kira sebelumnya. Seorang bocah berumur 13 tahun, yang sedang melipat tangan sambil memegang pedang kayu.

Merasa terhina dipermainkan, “shugyosha tak terkalahkan” ini menitah si anak kecil meminta maaf. Di depan umum, esok. Arima berbalik pulang dengan kekesalan yang teramat sangat, sebuah penghinaan luar biasa bagi seorang jawara kelas kakap. Mana mungkin shugyosha sekelasnya berduel apalagi sampai harus membunuh anak kecil yang hanya menggunakan pedang kayu? Apa kata orang nantinya!

Keesokan harinya, anak kecil itu pun datang beserta dengan seorang kakek tua, mungkin sebagai penengah. Namun diluar perkiraan, bocah tersebut melancarkan serangan pedang kayu ke kepala Arima. Sambil mengelak, gesit, Arima mengeluarkan pedangnya dari sarung. Berkilauan. Sangat tajam pastinya. Arima siap menyerang balik. Dua tangannya memegang gagang pedang. Di depan tubuhnya. Si anak kecil lantas menjatuhkan pedang kayunya. Menyerah? Ketakutan? Ternyata tidak. Dengan sekali gerakan, kakinya menghentak tanah. Melesat mendekat. Arima yang setengah kaget, salah perhitungan. Kuda-kudanya belum kokoh. Sebuah pukulan mendarat di perutnya. Mual bukan main. Musuhnya tiba-tiba dibelakangnya. Mencekik. Dan memelintir tangannya. Pedangnya jatuh. Di sini gelar “tak terkalahkan” sedang diuji.

Dalam nafas yang tersendat, dan posisi kuda-kuda yang tak punya tumpuan. Arima tidak diberikan kesempatan. Si anak kecil lantas menarik tafas, mengumpulkan kekuatan, kemudian berteriak sambil mengangkat tubuh Arima. “Hiyaaaaaaaaaa” Beberapa detik, ditahannya di udara. Dan brugg. Arima dijatuhkan dengan kepala lebih dulu. Si anak kecil berlari, menuju pedang kayunya. Dan dua ayunan dahsyat pedang kayu memecah tengkorak Arima. Darah mengucur. Tamatlah riwayat petarung yang katanya tak terkalahkan tersebut.

Sejak saat itulah anak kecil tersebut menjadi buah bibir. Samurai kecil itu bernama, Musashi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Insan

26 April 2010 pada 7:19 pm

Chemistry Hidup dan Kehormatan

dengan 6 komentar

Serial Samurai Muslim

Bagian 03 : Chemistry Hidup dan Kehormatan

Tak ada yang lebih penting bagi seorang samurai dibanding kehormatan. Seorang samurai akan tegas berkata, “Kehormatan adalah hidupku, keduanya tumbuh dalam satu. Ambillah kehormatan dariku, maka hidupku berakhir”. Yang dijaganya adalah kehormatan bukan ingin penghormatan. Yang dibelakang hanyalah implikasi, bukan misi. Implikasi itu bisa didapat bisa juga tidak. Tapi itu tak penting, karena yang terpenting diantara yang penting itu adalah hidup terhomat. Titik! Itulah prinsip wahid seorang samurai. Di satu sisi ada kehidupan di sisi yang lain ada kehormatan, bukan sebuah entitas berbeda, melainkan sebuah kesatuan, tak terbelah, tak terpisah. Layaknya mata uang.

Oleh sebab itulah dalam klan samurai dikenal istilah “seppuku”. Pernah mendengar istilah yang satu ini? Satu istilah yang mungkin lebih melekat di telinga kita sebagai “harakiri”. Menghubung ke ensiklopedia online Wikipedia. Kita menemukan arti secara bahasa bahwa “harakiri” berarti “cutting the belly” atau “stomatch-cutting”. Orang awam seperti saya membahasakannya sebagai “bunuh diri”. Tapi bagi seorang samurai itulah salah satu jalan kehormatan, atau paling tidak menutup hidup yang telah dia jaga pada jalur kehormatan.

Seorang samurai akan selalu membawa dua bilah pedang. Satu pedang berukuran panjang, yang lain lebih pendek. Yang panjang digunakannya untuk bertarung, sedangkan yang lain untuk menjaga kehormatannya. Harakiri. Pedang pendek ini akan dihunuskan pada perut sebelah kirinya yang kemudian dengan sisa tenaga dan nafas terakhirnya dia gesekan ke sebelah kanan. Sssrrrtttt! Dan itulah kematian terhormat bagi seorang samurai. Ini lebih terhormat daripada menjadi tawanan musuh, gagal melakukan tugas, atau berbuat hal memalukan.

Kembali menyoal tentang kehormatan. Menjadi manusia terhormat itu tidak bisa lepas dari bagaimana seseorang senantiasa berlaku berlandaskan nilai-nilai moralitas. Singkatnya mereka yang terhormat adalah mereka yang bermoral tinggi. Perlu ditekankan disini adalah kata “bermoral tinggi”, jadi bukan sekedar “moral” (baca : mαrǝl) yang merupakan “corcerning principles of right and wrong” melainkan “virtue” (baca : v3:t∫u:) yaitu “behavior or attitudes that shows a high moral standards”. Melebihi standar moral yang berlaku.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Insan

22 April 2010 pada 6:30 am

Mengimajinasi Mati

dengan 12 komentar

Serial Samurai Muslim

Bagian 02 : Mengimajinasi Mati

Pintu pertama yang mesti dilalui dalam sebuah keluarga samurai adalah kematian. Iya. Akhir hayat. Akhir nafas. Akhir dari kehidupan. Sebuah akhir yang menjadi batas kontrak abdinya di bumi. Setiap pagi, keluarga samurai bangun dengan sebuah ide besar di kepalanya tentang bagaimana menjemput kematian terbaiknya. Mereka meyakini bahwa hari ini adalah hari terakhir pengabdiannya, hari terakhir pemberian perlindungan pada tuannya.

Gelimangan darah dan putusnya anggota tubuhnya, bukan lagi hal yang ditakuti. Seorang samurai telah puas membayangkan pedang musuh menghunus dadanya. Atau tebasan pedang memutus kepala dari lehernya. Bayangan kematiannya telah sempurna dia imajinasi, hari demi hari. Hingga kelak ketakutan yang mengiringi kematian hilang sirna. Tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah sebuah tekad bagaimana merangkai laku tanpa cacat agar memperoleh kematian yang sempurna.

Luar biasa memang, seorang anak kecil dari keluarga samurai telah dilatih paksa menjemput kematian sempurna. Yang dengannya dia bisa memaknai arti kehidupan. Tiup angin yang berhembus, gelayut jatuh bunga yang gugur, riak air beradu batu menjadi begitu indah dan anugerah dalam pandangan mereka. Duduk, makan, dan minum teh dilakukan dengan rileks, hati-hati. Dan sempurna. Pertemuannya dengan orang lain adalah arena penghargaan tiada tara. Membungkuk tanda hormat, tak mengangkat punggung sebelum yang dihormat mengangkat lebih dulu. Ucapannya senantiasa terjaga. Tak berani berucap bila ragu menyinggung perasaan, apalagi menghina orang lain.

Inilah benih pertama yang ditanamkan dalam benak seorang samurai. Bagaimana dengan seorang muslim? Menjadi seorang muslim justru menjadi umat perdana yang diingatkan kematian berulang-ulang. Menjadi muslim berarti menjadi abdi (khalifah) yang pasrah menyerah sekaligus rela bersedia mengejar kematian terbaiknya. Bukankah dalam banyak ayat disebutkan :

Kullu nafsin dzaa iqatul mauut…”
(ingatlah) semua yang memiliki nyawa (tanpa kecuali) pasti mengalami kematian…. (QS. Al-Ankabut, 29:57)

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Insan

20 April 2010 pada 12:49 pm

Fatihah

dengan 12 komentar

Serial Samurai Muslim

Bagian 01 : Fatihah

Beberapa bulan terakhir saya dibuat terkesan dengan mempelajari budaya-budaya Jepang. Banyak buku serta pengalaman-pengalaman dari rekan maupun dosen yang pernah tinggal cukup lama di sana. Ketertarikan ini menyulut rasa ingin tahu lebih dalam sehingga dilanjutkan dengan mempelajari catatan sejarah negeri sakura ini. Yang pada akhirnya, sampailah saya pada satu titik kulminasi, kesimpulan sementara bahwa ada sebuah jati diri yang telah mengakar kuat di negeri bertanah sempit ini. Jati diri dan jalan hidup itu bernama, “Samurai”.

Catatan kecil ini tidak berbicara tentang sejarah klan Samurai dan pertarungan-pertarungannya. Tidak juga berbicara tentang pengagungan bangsa lain. Tidak! Catatan ini murni berbicara tentang bagaimana hidup terhormat. Hanya karena kebudayaan Jepanglah yang nampak saat ini, maka tidak ada yang dapat menyangkal fakta hidup ini. Meski jika boleh kita membandingkan dengan lembaran sejarah silam, tentu ada kebudayaan yang lebih “fantastis”, yaitu kebudayaan Islam.

Catatan kecil ini pula merupakan “kuliah-kuliah” singkat saya di kantor. Catatan seorang insan yang menginginkan perubahan di jamannya, di tempatnya menggarap ladang, yang panennya mudah-mudahan bisa ditukar dengan keridhaan Allah. Catatan kecil ini saya beri nama “Serial Samurai Muslim”.

Membuka kuliah pertama ini, saya share tulisan yang sudah banyak tersebar di milis-milis. Tulisan seorang mahasiswa WNI yang menyelesaikan S3 di Jepang. Selamat “kabita” ^_^ (Insan Sains)

Samurai Muslim

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Insan

19 April 2010 pada 5:17 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.