Menanti Pahlawan Kembali

Posted on 17 November 2009

8



Menanti Pahlawan Kembali

Alhamdulillah, akhirnya kumpulan cerpen fiksi ilmiah-nya terbit juga. Dan cerpen berjudul “Menanti Pahlawan Kembali” terpilih jadi judul bukunya. InsyaAllah sedang menggarap novelnya. Kalau biasanya saya meresensi buku penulis lain, kali ini nyoba ngasih over-view cerpen sendiri.

Sebelumnya trims buat anak-anak ForSa (Forum Sains Indonesia) yang udah sharing ide-ide segarnya lewat postingan-postingan ilmiahnya, especially mimin dan momodnya (Larry & Ratna yang bentar lagi segera merit ^_^, Harry, Widy, Melnick, Ndar, etc). Lalu sahabat2 ex-pintunet yang gak bisa saya lupain sharing2-nya dan sudah ngajarin saya nulis (mba Apriel, mba Rina, mba Oline, mba Nisa, SUHU alias Alid, bang Jutawan, kang Darmawan, mas Eka, mas Ari, mas Chox, etc). Sahabat-sahabat blogger (Wi3nd, Rindu, Putri, Ari, Atik, Bunga, Al-Qifty, Nenyok, mas Hanifa, mas Ganjar, etc). Lalu sahabat2 di Daarut Tauhiid dan temen-temen kantor.

Cerpen ini saya buat dalam rasa bangga menjadi bagian dari negeri ini. Bukan hanya soal sumber daya alam kita yang melimpah dan menjadi incaran, namun di sisi lain negeri ini memiliki manusia-manusia yang cerdas. Anehnya, dua kelebihan tersebut belum bertemu pada satu titik potong, dan menemukan momentum sejarahnya. Bukan satu dua, generasi kita mencatat rekor prestasi dalam pertandingan tingkat internasional. Tapi lagi-lagi prestasi itu dibenam masalah-masalah lain negeri ini sehingga membuat kita serba kehilangan.

* * *

You’re a great women, honey”, ucap Hans sambil mengusap keringat di kening istrinya. Menciumnya kemudian. Membelai rambut pirangnya serta. Nafas Lana masih tersenggal, namun ada sedikit lega merasuk, meski di ujung yang lain perih terasa. Setidaknya ia bahagia masih merasakan ciuman suami di keningnya. Ia selamat, dan mata birunya meng-isyaratkan syukur yang amat dalam. Pupilnya mengecil, menerawang syukur entah kemana. Yang jelas jatuh di wajah suaminya sambil menyungging senyum.

Kelegaan itu segera meredup. Bergulir menjadi ketegangan baru yang tak kalah hebat. Dulu, orang tua sangat bersyukur ketika melihat anaknya terlahir sempurna. Sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, dua mata berbinar, dan segala pesona lahir yang nampak tak ada cacat. Namun tidak demikian di jaman ini, dimana segala kesempurnaan baru di-judge bila hasil analisa GAR menyatakan bahwa gen bayi yang terlahir benar-benar memiliki nilai “raport” sempurna.

* * *

Indonesia tak mungkin memberi kehidupan bagi kita”,
desak Hans ketika memaksa Purnama untuk mengubah keputusan.

Seratus tahun Indonesia masih ada, tapi kita telah menjadi bangkai yang dilupakan dan sama sekali tak ada karya yang patut dikenang dan dibanggakan. Kita tetap hidup miskin, meski otak dan tenaga kita peras untuk menghiasi Indonesia.

Keduanya terdiam sejenak.

Indonesia terlalu kecil bagi otak secemerlang kau Pur. Di Swiss ini kau bisa menjadi dewa bagi para ilmuwan, tapi mengapa kau memilih menjadi budak di negeri yang tak bisa menjadi surga?

Singkat jawab Purnama waktu itu, “Karena aku lahir di Indonesia”, sambil melangkah pergi meninggalkan Hans.

* * *

Kita dilahirkan di Indonesia, mengapa keringat kita harus tertumpah di tanah yang lain? Jika pahlawan itu mampu memberikan raganya untuk mempertahankan negeri, maka kita bisa memberikan ilmu kita untuk membangun negeri. “Kamu dihidupi… Aku menghidupi” Selamat membaca… ^_^ (Insan Sains)

Surabaya, 17 November 2009, 20:26

About these ads
Posted in: Buku, Cerpen