Archive for November 2009
Menanti Pahlawan Kembali

Alhamdulillah, akhirnya kumpulan cerpen fiksi ilmiah-nya terbit juga. Dan cerpen berjudul “Menanti Pahlawan Kembali” terpilih jadi judul bukunya. InsyaAllah sedang menggarap novelnya. Kalau biasanya saya meresensi buku penulis lain, kali ini nyoba ngasih over-view cerpen sendiri.
Sebelumnya trims buat anak-anak ForSa (Forum Sains Indonesia) yang udah sharing ide-ide segarnya lewat postingan-postingan ilmiahnya, especially mimin dan momodnya (Larry & Ratna yang bentar lagi segera merit ^_^, Harry, Widy, Melnick, Ndar, etc). Lalu sahabat2 ex-pintunet yang gak bisa saya lupain sharing2-nya dan sudah ngajarin saya nulis (mba Apriel, mba Rina, mba Oline, mba Nisa, SUHU alias Alid, bang Jutawan, kang Darmawan, mas Eka, mas Ari, mas Chox, etc). Sahabat-sahabat blogger (Wi3nd, Rindu, Putri, Ari, Atik, Bunga, Al-Qifty, Nenyok, mas Hanifa, mas Ganjar, etc). Lalu sahabat2 di Daarut Tauhiid dan temen-temen kantor.
Cerpen ini saya buat dalam rasa bangga menjadi bagian dari negeri ini. Bukan hanya soal sumber daya alam kita yang melimpah dan menjadi incaran, namun di sisi lain negeri ini memiliki manusia-manusia yang cerdas. Anehnya, dua kelebihan tersebut belum bertemu pada satu titik potong, dan menemukan momentum sejarahnya. Bukan satu dua, generasi kita mencatat rekor prestasi dalam pertandingan tingkat internasional. Tapi lagi-lagi prestasi itu dibenam masalah-masalah lain negeri ini sehingga membuat kita serba kehilangan.
* * *
“You’re a great women, honey”, ucap Hans sambil mengusap keringat di kening istrinya. Menciumnya kemudian. Membelai rambut pirangnya serta. Nafas Lana masih tersenggal, namun ada sedikit lega merasuk, meski di ujung yang lain perih terasa. Setidaknya ia bahagia masih merasakan ciuman suami di keningnya. Ia selamat, dan mata birunya meng-isyaratkan syukur yang amat dalam. Pupilnya mengecil, menerawang syukur entah kemana. Yang jelas jatuh di wajah suaminya sambil menyungging senyum.
Kelegaan itu segera meredup. Bergulir menjadi ketegangan baru yang tak kalah hebat. Dulu, orang tua sangat bersyukur ketika melihat anaknya terlahir sempurna. Sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, dua mata berbinar, dan segala pesona lahir yang nampak tak ada cacat. Namun tidak demikian di jaman ini, dimana segala kesempurnaan baru di-judge bila hasil analisa GAR menyatakan bahwa gen bayi yang terlahir benar-benar memiliki nilai “raport” sempurna.
* * *
“Indonesia tak mungkin memberi kehidupan bagi kita”,
desak Hans ketika memaksa Purnama untuk mengubah keputusan.
“Seratus tahun Indonesia masih ada, tapi kita telah menjadi bangkai yang dilupakan dan sama sekali tak ada karya yang patut dikenang dan dibanggakan. Kita tetap hidup miskin, meski otak dan tenaga kita peras untuk menghiasi Indonesia.”
Keduanya terdiam sejenak.
“Indonesia terlalu kecil bagi otak secemerlang kau Pur. Di Swiss ini kau bisa menjadi dewa bagi para ilmuwan, tapi mengapa kau memilih menjadi budak di negeri yang tak bisa menjadi surga?”
Singkat jawab Purnama waktu itu, “Karena aku lahir di Indonesia”, sambil melangkah pergi meninggalkan Hans.
* * *
Kita dilahirkan di Indonesia, mengapa keringat kita harus tertumpah di tanah yang lain? Jika pahlawan itu mampu memberikan raganya untuk mempertahankan negeri, maka kita bisa memberikan ilmu kita untuk membangun negeri. “Kamu dihidupi… Aku menghidupi” Selamat membaca… ^_^ (Insan Sains)
Surabaya, 17 November 2009, 20:26
Rembulan, Pesona Seorang Mukmin
Semalam, bulan bulat sempurna. Sinarnya indah luar biasa, tak terhalang awan. Gelapnya malam yang dibalut pemadaman listrik di beberapa tempat di Jakarta, menambah sempurnanya gulita. Namun kegelapan itu benar-benar menambah pesona sang rembulan. Sangat kontras, dan makin memikat. Di waiting room sebelum bertolak ke Pekanbaru, saya sedikit berandai-andai.
Saya membayangkan, bila sayalah yang menjadi bulan (dan kamu yang jadi langitnya, ups.. kok malah ngelantur). Kita bayangkan, kitalah yang menjadi bulan. Dalam posisi sebagai bulan, kita tidak memiliki apapun untuk memercik cahaya yang bisa menerangi. Tidak sama sekali. Namun meski dipenuhi segala keterbatasan, bukan berarti kita ciptaan yang gelap mutlak, tanpa pesona. Karena ada sumber cahaya di dekat kita, yaitu matahari.
Namun cahaya matahari tidak seutuhnya langsung menjadikan kita purnama penuh pesona. Untuk menjadi purnama, kita mesti menyorong diri kita mendekati sumber cahaya. Pada posisi paling tepat. Hingga tiap sudut dan lengkung kita, terlihat utuh tak terbelah. Pada momentum seperti itulah, kita mampu menangkap sempurna cahaya matahari, dan memunculkan pesona ulung kita sebagai ciptaan yang bernama rembulan.
Maka begitu pula menjadi seorang muslim. Tak ubahnya dengan 6 milyard manusia yang berjalan di muka bumi. Yang menjadi pembeda adalah, seorang muslim memiliki “sumber cahaya”. Namun sumber cahaya itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak menyorong diri kita untuk menangkap cahayanya. Menyorong diri mendekati sumber cahaya membuat kita bukan lagi sebagai bulan melainkan rembulan, bukan lagi seorang muslim melainkan mukmin. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menyorong diri kita mendekati cahaya diatas cahaya tersebut?
Sebagaimana kita ketahui, berislam berarti berserah diri. Ketundukan. Jadi seorang mukmin bukanlah orang yang bertanya “saya ingin seperti apa?”. Tidak bertanya apa yang menjadi keinginannya. Tapi seorang mukmin, adalah manusia yang selalu bertanya “Allah menginginkan saya seperti apa?”. Karena memang Allahlah yang telah mendesain pribadi kita. Maka hanya dialah yang mengetahui fungsi kita sebagai apa.
Berbicara apa yang Allah inginkan bagi kita, masih merupakan sebuah konsep pribadi yang ideal. Pribadi diatas rata-rata yang sedikit sekali ruang inisiatif. Ini mungkin lebih cocok kita sebut sebagai malaikat yang berjalan di alam manusia. Realitasnya, kita memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja, mungkin telah paten melekat. Inilah yang bisa kita sebut, diri kita secara realitas. Membiarkan diri kita lebur dalam ruang realitas, tanpa mengukur standar idealitas, dipastikan menjadi orang yang paling merugi. Karena desain diri kita, jelas dimuati kekurangan-kekurangan fitrah, seperti sering tergesa-gesa, malas, ingin sesuatu yang instant, lalai, dan yang lainnya.
Maka berbicara bagaimana memunculkan pesona seorang mukmin, berarti berbicara tentang bagaimana menyorong diri kita untuk mempertemukan antara pribadi realitas kita dengan pribadi idealis yang telah dipetakan oleh sang Creator kita.
Pribadi realitas kita tentu bisa beragam. Dan penilaiannya kita kembalikan pada diri kita masing-masing. Yang perlu kita fahami adalah pribadi idealis seperti apa yang dapat memunculkan pesona kita sebagai seorang mukmin. Ada beberapa ayat dalam al-Quran, yang paling sederhana tentang konsep pribadi idealis ada pada surat An-Ashr yang tentu sudah kita hafal bersama.
Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasehati dalam kesabaran (QS. Al-Ashr : 1-3)
Allah menekankan pentingnya ayat-ayat ini dengan meletakkan sumpah pada perjalanan waktu. Para ahli tafsir sepakat, bahwa jika Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, itu berarti betapa pentingnya keberadaan makhluk tersebut. Ambil contoh, langit. Apa yang terjadi jika langit tidak ada? Demi bumi. Apa yang terjadi jika bumi tidak ada? Begitu pun dengan waktu. Apa yang terjadi jika waktu tidak ada? Maka merugilah mereka yang tidak memanfaatkan waktunya.
Menurut pada pemikir, waktu adalah sebuah konsep perbandingan yang diciptakan untuk membedakan peristiwa masa lalu dan masa sekarang. Perbedaan rentetan peristiwa dalam suatu kurun itu kita namakan dengan waktu. Jadi bagi seorang mukmin, waktu dapat diartikan sebagai batas masa memupuk amal yang membentang sejak kelahiran hingga kematiannya.
Ayat selanjutnya dari surat tersebut menyatakan persyaratan ideal seorang pribadi mukmin. Idealisme pertama bernama iman dan amal shalih. Kedua hal ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipecahkan. Iman yang dibangun dari dimensi akal dan berujung pada pertumbuhan keyakinan yang mendalam. Namun iman saja tidak cukup, mesti ada buah yang bisa dipetik. Buah itu bernama amal shaleh dalam bentuk gerak nyata. Saat akal, hati, dan raga telah menyatu, maka sampai disini kita bisa disebut pribadi ideal yang realistis.
Persyaratan ideal kedua yaitu saling mengingatkan dalam kebenaran. Dakwahlah ujung tombak kegemilangan ummat. Mencegah orang lain berbuat mungkar, dan mengajak orang lain mengerjakan yang ma’ruf. Maka ketika persyaratan ideal kedua ini dapat kita penuhi, kata Ibnu Qayyim kita telah menjadi pribadi sosial. Pribadi yang bermanfaat bukan hanya bagi keshalehan dirinya, melainkan pula bagi kemashalatan umat yang lain.
Persyaratan terakhir untuk memunculkan pesona kita sebagai seorang mukmin adalah menyangkut tentang bagaimana bertahan memunculkan pesona tersebut sampai akhir hayat. Hal ini terangkum dalam sebuah kata yang kita sebut Istiqomah. Dan satu-satunya perlengkapan untuk mencapai derajat istiqomah adalah kesabaran. Dan kesabaran tidak pernah bisa dilepaskan dari sebuah konsep yang kita sepakat menyebutnya dengan waktu.
Selamat menjadi rembulan. Menjadi mukmin “tebar pesona” (dalam pandangan positif). Saya yakin negeri ini akan kembali mempesona, dan menjadi “model sejarah”. Ada yang tahu kenapa? Jawabnya, karena ada engkau, aku, dan kita… (Insan Sains)
Pekanbaru 3 November 2009, 22:08 WIB
