. : : I N S A N – S A I N S : : .

INSAN perindu IHSAN : : Mencari hikmah di telaga SAINS

Bila Sisa Nafas Bisa Terhitung

dengan 12 komentar

batu - petervanalen - 25sep08

Diantara seluruh sahabat saya, ada satu sahabat yang selalu spesial dimata saya. Belum lama saya mengenalnya, lebih kurang 1,5 tahun. Perkenalan ini menjadi luar biasa, setelah satu demi satu lembaran kehidupan dan sampul keluarganya menjadi novel hidup yang memberikan saya hikmah yang tidak bisa dibilang biasa.

“A, cobaan ini berat banget, nyaris bikin hilang akal. Doakan saya bisa lulus cumlaude” smsnya ketika dia sedang diuji dengan ujian paling berat saat Allah mengambil titipan yang dia (bahkan semua orang) anggap berharga. Namun, kemampuannya menyembuhkan diri sendiri setelah sehari sebelumnya nangis terisak bukan main, patut diacungi jempol.

Satu-satunya pelajaran hidup yang saya ambil darinya selama 1,5 tahun ini adalah “Tidak ada waktu lain selain bertasbih memuja Allah”. Di umurnya yang kepala dua, sahabat saya ini lebih mirip Rabi’ah abad 21. Bukan hanya terlahir dengan titipan wajah sempurna dari Allah, melainkan Allah telah menganugerahkan keluarga, status sosial, dan kecerdasan yang bukan biasa. Namun apa yang dipunyainya itu, tidak lantas menjadikannya lupa kepada Allah yang Maha Memberi Rezeki.

Jika orang lain tertidur pulas menekuk lutut, maka jam 02:30 dia membangunkan diri, membasuh anggota wudhu melawan dingin membiarkan beberapa saat menggigil. Sajadah kemudian digelar, mukena putih menjumbai, takbir pun lirih terdengar. Bila shubuh belum datang, tak lantas kantuknya memanja dia bersembunyi dibalik selimut, melainkan asyik bercengkrama dengan Al-Quran.

Tanyalah kepada waktu dhuha, kapan saja hari selain dia dilarang shalat, dia menyempurnakan shalat sunnahnya? Tanyakan pula pada kencleng mesjid berapa kali dia absen setiap waktu shalat wajib tanpa dia rogoh dari sakunya 5 ribu?

Kalau kita tanya kepadanya, kenapa bisa seperti itu? Dia akan menjawab “ini semua karena kebaikan dan pertolongan Allah”. Jawaban ini telak dia berikan. Tapi hari ini tanpa seijinnya saya hendak membocorkan jawaban lain yang mungkin akal awam kita mampu mencernanya. “A, apa sih yang saya harapkan lagi? Sudah habis semua, sekarang saya hanya ingin mendekat sama Allah saja”. Inilah pernyataan seorang perempuan yang Allah takdirkan kanker darah menyerang tubuhnya, menggerogoti tubuh semampainya hingga payah bahkan terkapar. Muntah darah dan menggigil luar biasa sudah biasa. Selang infus ketika cuci darah adalah sarapan rutinnya. “A, ini mungkin jalan Allah menarik saya kembali ke jalan-Nya, setelah sekian lama saya membandel. Bagian tubuh yang dulu sering menjadi bahan pamer, sekarang saya tutup sempurna dengan kerudung sebagai penyempurna keindahan perempuan muslim. Yang saya inginkan adalah mati khusnul khatimah di nafas-nafas terakhir.”

Kata-kata terakhirnya membuat saya tertegun. Baginya nafas akhir bisa diprediksi medis, meski di tangan Allahlah segala takdir pasti terjadi. Namun pelajaran yang saya dapatkan adalah, betapa berharganya arti tiap desah nafas bagi sahabat saya ini. Ah, seandainya kita diberitahu bahwa umur kita adalah hingga minggu depan. Masihkah kita akan menunda-nunda shalat saat adzan berkumandang? Berapa juz Al-Quran-kah yang akan kita baca? Atau mungkin akan berapa kali khatamkah? Berapa pula rupiah yang hendak kita infaqkan?

Bila jatah satu minggu saja sudah sedemikian hebat rencana ibadah yang ingin kita lakukan, maka bagaimanakah bila pengumuman kematian itu hanyalah satu hari sebelum hari yang pasti tiba itu?

Niscaya bukan hanya ibadah wajib yang kita kebut. Ibadah sunnah pun kita tumpuk. Kita akan mengatur sedemikian rupa, sehingga waktu terakhir kita berada dalam waktu terbaik, dalam tempat kebaikan, dalam posisi terbaik, dalam amal terbaik. Berharap semua orang menjadi pemaaf saat kita memelas maaf atas setiap ucapan yang menyakiti, atas perbuatan mendzalimi.

Jika kita berani lebih dalam lagi berandai-andai. Jikalau berita kematian itu datang satu menit sebelum tiba. Kira-kira adakah lisan kita masih lupa berdzikir? Dalam waktu 60 detik yang tersisa itu adakah kita masih memikirkan harta di genggaman? Saat itu kita mungkin akan tersadar, bahwa tak ada gunanya lagi harta yang kita cari dengan kepayahan, toh beberapa detik lagi, kitalah manusia bangkrut yang hasilnya hanya dinikmati orang lain.

Lalu mampukah kita membayangkan bila berita kematian itu sampai sempit sekali waktunya? Hasilnya seharusnya memunculkan dua kebiasaan. Pertama, kebiasaan tidak menyia-nyiakan waktu kecuali untuk beribadah. Kedua, kebiasaan untuk selalu mensyukuri hidup karena ternyata Allah masih memberikan jatah umur. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa Allah merahasikan datangnya waktu kematian. Agar kita berada dalam ruh dan jasad yang siap dengan perbekalan ibadah, dan membalutnya dengan syukur kala raga dan ruh masih menyatu.

Namun kita akan merasa aneh pada diri kita sendiri, saat justru kematian itu dirahasiakan kita malah berleha-leha. Ibadah yang seharusnya berada dalam tataran kuantitas malah babak belur. Kualitas apa lagi. Kita seakan merasa yakin bahwa kita masih bisa bernafas hingga esok bahkan tahun depan.

Ataukah kita hendak menunggu ujian hidup layaknya sahabat saya tersebut?

Ya Allah, sembuhkanlah dia. Angkat penyakit yang telah menghakimi umur singkatnya. Hilangkan duka dan laranya. Kabulkan permintaannya bila itu baik menurut-Mu, dan gantilah dengan yang lebih baik karena Engkau yang maha Mengetahui. Ya Allah mudahkan dia mencapai apa yang dicita-citakannya. Karuniakan kepadanya sisa nafas yang makin mendekatkan kepada-Mu. (Insan Sains)

Medan, 30 Oktober 05:02 WIB

Ditulis oleh Insan

30 Oktober 2009 pada 6:25 am

Ditulis dalam Renungan

Dikaitkatakan dengan , , , , , ,

12 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Wah, postingnya sangat menyentuh hati. Aku jadi malu kepada diri sendiri. Saat … bisa tiba setiap saat. Salam.

    Achmad

    30 Oktober 2009 pada 6:51 am

  2. Subhanallah..biasakah saya mengenalnya?demi sesuatu yg tdk pernah sya miliki..,syafakillah..ttip salam untuknya,sungguh smesta jiwa yg luarbiasa..

    Alqifty

    30 Oktober 2009 pada 7:10 am

  3. Subhanallah… mudah2an Allah memberikan yang kekuatan dan ketabahan yang tiada batas padanya…
    Saya jadi ingat, betapa waktu yang saya miliki telah sangat tersia-siakan selama ini…

    Kakaakin

    30 Oktober 2009 pada 9:39 am

  4. Allahummasyfiek…
    Paragraf2 yg terlalu berharga utk dilewatkan.

    Fitri Rohma

    30 Oktober 2009 pada 7:22 pm

  5. subhanallah……..mudah-mudahan teman kang Insan diberi ketabahan dan keikhalasan untuk menghadapi smeua ini…dan cepet sembuh…amin :)

    ari

    31 Oktober 2009 pada 1:54 pm

  6. Salam,
    Ikut prihatin dan mendoakan San, semoga Alloh memberi kesembuhan toh meski secara medis ga mungkin tapi Allah kan Maha Kuasa. Katanya menjadi Khusnul Khatimah bukan didapat dari kesolehan mendadak tapi memang dari awal menjalani kehidupan mengkapasitaskan diri untuk itu, semoga kita semua tergolong yang demikian ya. Amin.

    nenyok

    1 November 2009 pada 10:10 am

  7. Klo bapakku bilang, kita tidak harus meminta untuk diberikannya sebuah Ujian berat untuk mendapatkan hikmah hidup yang besar. Tapi kita bisa melihat, dan merasakan hikmah besar dari ujian yang orang lain lalui.
    Nice post Gan!!!

    maryam

    2 November 2009 pada 9:46 pm

  8. lupa maren komen9 apa yah :rol:

    Ya Rabb,Ya Rahman Ya Rahim,Ya Malik,berikan yan9 terbaik untuk sahabat insan,sodari muslimQ..
    En9akau maHa tau,En9kau pemiLik tubuh dan Jiwanya,maka En9kau berkehendak atas dirinya..
    buatLah ia khusnul qotimah hin9a ujun9 usianya,amiin…

    salam ya san wat sahabatnya :)

    wi3nd

    5 November 2009 pada 1:06 pm

  9. Jalankan saja apa yang menjadi bagian kita, selebihnya adala urusan Allah.
    Nice Blog
    http://ocekojiro.wordpress.com/my-secret-teraphy/

    ocekojiro

    16 November 2009 pada 2:56 pm

  10. Ingin sekali mengenal temanmu i2, pak. Ingin sekali.. Boleh tahu kontaknya tidak? Gpp thohuran, insya Allah..

    duniafaiz

    25 Desember 2009 pada 5:47 pm

  11. Tarian jari ini…, bener2 menyentil…
    Membuat ana teringat.., dalam 1 minggu ini sudah bolos ngaji 2 kali… :(

    Bagaimana kabar si ukhti sekarang…?

    Lembayung Pagi

    8 April 2010 pada 11:32 am

  12. semoga yg terbaik untuknya di berikan Allah,,,,
    lukisa-lukisanmu sangat indah , merangkai cerita-cerita menjadi sebuah pelajaran
    salam,
    ana tika,
    ana suka beberapa kisahmu,
    trimaksih ,

    okeokeh_

    8 Juli 2010 pada 11:52 am


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.