Archive for Oktober 2009
Bila Sisa Nafas Bisa Terhitung

Diantara seluruh sahabat saya, ada satu sahabat yang selalu spesial dimata saya. Belum lama saya mengenalnya, lebih kurang 1,5 tahun. Perkenalan ini menjadi luar biasa, setelah satu demi satu lembaran kehidupan dan sampul keluarganya menjadi novel hidup yang memberikan saya hikmah yang tidak bisa dibilang biasa.
“A, cobaan ini berat banget, nyaris bikin hilang akal. Doakan saya bisa lulus cumlaude” smsnya ketika dia sedang diuji dengan ujian paling berat saat Allah mengambil titipan yang dia (bahkan semua orang) anggap berharga. Namun, kemampuannya menyembuhkan diri sendiri setelah sehari sebelumnya nangis terisak bukan main, patut diacungi jempol.
Satu-satunya pelajaran hidup yang saya ambil darinya selama 1,5 tahun ini adalah “Tidak ada waktu lain selain bertasbih memuja Allah”. Di umurnya yang kepala dua, sahabat saya ini lebih mirip Rabi’ah abad 21. Bukan hanya terlahir dengan titipan wajah sempurna dari Allah, melainkan Allah telah menganugerahkan keluarga, status sosial, dan kecerdasan yang bukan biasa. Namun apa yang dipunyainya itu, tidak lantas menjadikannya lupa kepada Allah yang Maha Memberi Rezeki.
Jika orang lain tertidur pulas menekuk lutut, maka jam 02:30 dia membangunkan diri, membasuh anggota wudhu melawan dingin membiarkan beberapa saat menggigil. Sajadah kemudian digelar, mukena putih menjumbai, takbir pun lirih terdengar. Bila shubuh belum datang, tak lantas kantuknya memanja dia bersembunyi dibalik selimut, melainkan asyik bercengkrama dengan Al-Quran.
Tanyalah kepada waktu dhuha, kapan saja hari selain dia dilarang shalat, dia menyempurnakan shalat sunnahnya? Tanyakan pula pada kencleng mesjid berapa kali dia absen setiap waktu shalat wajib tanpa dia rogoh dari sakunya 5 ribu?
Kalau kita tanya kepadanya, kenapa bisa seperti itu? Dia akan menjawab “ini semua karena kebaikan dan pertolongan Allah”. Jawaban ini telak dia berikan. Tapi hari ini tanpa seijinnya saya hendak membocorkan jawaban lain yang mungkin akal awam kita mampu mencernanya. “A, apa sih yang saya harapkan lagi? Sudah habis semua, sekarang saya hanya ingin mendekat sama Allah saja”. Inilah pernyataan seorang perempuan yang Allah takdirkan kanker darah menyerang tubuhnya, menggerogoti tubuh semampainya hingga payah bahkan terkapar. Muntah darah dan menggigil luar biasa sudah biasa. Selang infus ketika cuci darah adalah sarapan rutinnya. “A, ini mungkin jalan Allah menarik saya kembali ke jalan-Nya, setelah sekian lama saya membandel. Bagian tubuh yang dulu sering menjadi bahan pamer, sekarang saya tutup sempurna dengan kerudung sebagai penyempurna keindahan perempuan muslim. Yang saya inginkan adalah mati khusnul khatimah di nafas-nafas terakhir.”
Kata-kata terakhirnya membuat saya tertegun. Baginya nafas akhir bisa diprediksi medis, meski di tangan Allahlah segala takdir pasti terjadi. Namun pelajaran yang saya dapatkan adalah, betapa berharganya arti tiap desah nafas bagi sahabat saya ini. Ah, seandainya kita diberitahu bahwa umur kita adalah hingga minggu depan. Masihkah kita akan menunda-nunda shalat saat adzan berkumandang? Berapa juz Al-Quran-kah yang akan kita baca? Atau mungkin akan berapa kali khatamkah? Berapa pula rupiah yang hendak kita infaqkan?
Bila jatah satu minggu saja sudah sedemikian hebat rencana ibadah yang ingin kita lakukan, maka bagaimanakah bila pengumuman kematian itu hanyalah satu hari sebelum hari yang pasti tiba itu?
Niscaya bukan hanya ibadah wajib yang kita kebut. Ibadah sunnah pun kita tumpuk. Kita akan mengatur sedemikian rupa, sehingga waktu terakhir kita berada dalam waktu terbaik, dalam tempat kebaikan, dalam posisi terbaik, dalam amal terbaik. Berharap semua orang menjadi pemaaf saat kita memelas maaf atas setiap ucapan yang menyakiti, atas perbuatan mendzalimi.
Jika kita berani lebih dalam lagi berandai-andai. Jikalau berita kematian itu datang satu menit sebelum tiba. Kira-kira adakah lisan kita masih lupa berdzikir? Dalam waktu 60 detik yang tersisa itu adakah kita masih memikirkan harta di genggaman? Saat itu kita mungkin akan tersadar, bahwa tak ada gunanya lagi harta yang kita cari dengan kepayahan, toh beberapa detik lagi, kitalah manusia bangkrut yang hasilnya hanya dinikmati orang lain.
Lalu mampukah kita membayangkan bila berita kematian itu sampai sempit sekali waktunya? Hasilnya seharusnya memunculkan dua kebiasaan. Pertama, kebiasaan tidak menyia-nyiakan waktu kecuali untuk beribadah. Kedua, kebiasaan untuk selalu mensyukuri hidup karena ternyata Allah masih memberikan jatah umur. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa Allah merahasikan datangnya waktu kematian. Agar kita berada dalam ruh dan jasad yang siap dengan perbekalan ibadah, dan membalutnya dengan syukur kala raga dan ruh masih menyatu.
Namun kita akan merasa aneh pada diri kita sendiri, saat justru kematian itu dirahasiakan kita malah berleha-leha. Ibadah yang seharusnya berada dalam tataran kuantitas malah babak belur. Kualitas apa lagi. Kita seakan merasa yakin bahwa kita masih bisa bernafas hingga esok bahkan tahun depan.
Ataukah kita hendak menunggu ujian hidup layaknya sahabat saya tersebut?
Ya Allah, sembuhkanlah dia. Angkat penyakit yang telah menghakimi umur singkatnya. Hilangkan duka dan laranya. Kabulkan permintaannya bila itu baik menurut-Mu, dan gantilah dengan yang lebih baik karena Engkau yang maha Mengetahui. Ya Allah mudahkan dia mencapai apa yang dicita-citakannya. Karuniakan kepadanya sisa nafas yang makin mendekatkan kepada-Mu. (Insan Sains)
Medan, 30 Oktober 05:02 WIB
Berbahagialah Indonesia

(Gambar diambil dari Flickr : Dragonroy-Two boys laughing Indonesia-15Jul07)
Setelah membuka file-file lama, saya ternyata masih menyimpan catatan dialog bersama Syaikh Aidh Al-Qarni (penulis buku best seller, La Tahzan) secara langsung di Islamic Book Fair (4 Maret 2005), Senayan. Berikut kutipan taujih beliau :
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Ba’da tahmid wa shalawat
Saya merasa senang menginjakkan kaki di Indonesia. Karena disinilah surganya dunia. Ada dua bait syair yang ingin saya berikan. Perlu kalian ketahui bahwa di negeri kalian ini ada 3 kenikmatan. Kenikmatan pertama, air. Kedua, alam yang kaya.
*Beliau terdiam sejenak*
Ketiga, wajah yang cantik-cantik.
*Hadirin pun tergelak bersama Syaikh yang tersenyum ringan*
Dan saya ingatkan kepada kalian, bersyukurlah atas kenikmatan yang telah Allah limpahkan ini. Tidak ada satupun negara yang dikaruniai Allah dengan karunia yang sedemikian besarnya, selain negara kalian ini. Maka bersyukurlah. Janganlah kalian bersedih, kalian mendapatkan segala kenikmatan di sini. InsyaAllah, kalau saya kembali ke negara saya, dan berceramah ke negara-negara lain, maka akan saya katakan, La Tahzan, Janganlah kamu bersedih. Pergilah kamu ke Indonesia, maka kamu akan merasa senang dengan segala kenikmatannya.
Dan saya mohon kepada kalian, agar mengirimkan saya air, dan wajah-wajah yang cantik, setibanya saya di negara saya, karena ditempat kelahiran saya hanya ada tanah yang gersang. Setibanya saya di negara saya, akan saya ceritakan kepada semua orang, segala yang bagus-bagus pada mereka tentang kalian.
Kami sangat menghargai dan selalu memperhatikan kalian, terutama dalam aksi-aksi yang menyangkut permasalahan umat Islam. Terutama aksi kalian memprotes karikatur nabi Muhammad saw. Tidak ada negara yang memiliki potensi seperti kalian. Seperti kalian ketahui, bahwa kalian adalah umat Muslim terbesar, secara mutlak di seluruh dunia, dengan 200 juta umat muslim. Maka saya berpesan, hindarilah perpecahan, sehingga jika suatu saat Amerika dan sekutu-sekutunya menjelek-jelekkan Islam. Maka kami, dengan bangga akan berkata, “Di sana ada saudara-saudara kami yang jumlahnya ratusan juta, kami tidak akan takut dengan kalian. Cukup bagi kami memiliki Indonesia.”
*Bulu kudukku merinding mendengarnya*
Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang baik, kalaupun ada perdebatan, maka berdebatlah dengan cara yang baik pula. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Kita bukan teroris. Teroris adalah mereka yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah, teroris adalah mereka yang membunuh anak-anak dan wanita.
Saya menyambut baik adanya Book Fair ini. Kalau sekiranya 1 juta orang saja, dari jumlah kalian yang 200 juta jiwa membaca buku La Tahzan, maka saya yakin Islam akan bangkit. Islam akan disegani. Maka saya pesankan kepada kalian, banyak-banyaklah membaca, baca buku apapun. Teknologi, kedokteran, filsafat, dll. Dan jadikan semua bermanfaat. Kami berharap, suatu saat kami tidak perlu lagi membeli mobil, membeli pesawat, dan yang lainnya dari Amerika, dan sekutu-sekutunya, tapi kami akan membeli semua itu dari kalian, Indonesia. Perlu kalian ketahui, saya telah menulis tafsir Al-Qur’an singkat, dan insyaAllah akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, khusus untuk kalian, maka saya berharap penerbit Qisty Press, dapat memberikan diskon khusus pada mereka semua agar dapat memiliki tafsir tersebut. Dan semoga tafsir tersebut bisa bermanfaat bagi kalian.
Saya juga berpesan, jika adzan sudah berkumandang, segeralah shalat, dan tinggalkanlah segala kesibukan kalian, tutuplah toko-toko kalian, tinggalkanlah pekerjaan kalian. Karena yang demikian itu adalah ciri mukmin yang sesungguhnya.
Saya pun menaruh rasa bangga kepada seluruh wanita-wanita kalian. Saya bangga karena sikap kalian yang baik, yang ramah, saya melihat wanita-wanita kalian ketika musim haji. Perasaan bangga ini, tidak hanya bagi wanita kalian yang sudah menutup kepala mereka dengan kerudung, tapi bagi mereka yang masih terbuka pun demikian. Mereka semua sangat sopan. Saya berharap, wanita yang masih terbuka dapat menutup kepala mereka kemudian hari.
Adapun mengenai musibah yang menimpa kalian silih berganti. Maka berbaik sangkalah kepada Allah, bisa jadi ini adalah ampunan dan kasih sayang Allah kepada kalian. Kita berharap mereka yang menjadi korban setiap musibah yang menimpa ini dikumpulkan di surga, karena surga lebih indah daripada Indonesia. Jangan kalian anggap ini sebagai adzab dari Allah, karena kalaulah ini adzab dari Allah, maka yang seharusnya mendapatkan adzab ini adalah Amerika dan Israel. Maka Berbahagialah. (Insan Sains)
Jakarta, 22 Syawal 1430H, 22:33 WIB
Membelah Arus
(Sumber gambar : Nuvailia – Rindu Allah – 10jan07)
Dalam bus kopaja 609 dari arah Blok M, saya sempat ditanya berulang-ulang oleh seorang gadis berjilbab rapi yang duduk di samping saya. “Jam berapa sekarang ya mas?”. Meski saya lebih menyukai panggilan “Kang” atau “Aa” (panggilan di rumah), saya memaklumi panggilan “Mas”-nya karena kami baru bertemu. Tak berani saya memandang wajahnya, dan nampaknya dia pun begitu.
Tak selang beberapa lama, untuk kedua kalinya ia menanyakan pertanyaan yang sama, “Jam berapa sekarang ya mas?” Saya pun menjawab “10 menit lagi jam enam mba”. Tak lama terdengarlah suara adzan maghrib, “Allahu akbar.. Allahu akbar...”. Dan gadis itu pun terlihat tergesa merobek resleting tasnya dan mengambil sebotol air mineral. Matanya memejam, bibirnya berbisik pelan, sedangkan ujung botol air mineral itu menempel di bibir bawahnya. Berdoa adalah satu-satunya hal yang terpikir oleh saya terhadap apa yang tengah dilakukan oleh gadis yang memancing saya memutar beberapa derajat sudut pandangan saya. Dia pun kemudian meneguk perlahan. Saya seakan merasakan tenggorokannya yang semula kering, kini basah. Ibarat bunga yang nyaris layu, namun kembali segar tersirami.
Oh… ternyata tadi ia sedang berpuasa. Subhanallah…! Setelah seperempat botol air tersebut berpindah ke lambungnya, kini ia membuka plastik hitam yang sejak tadi digenggamnya. “Mau gorengan mas?” tanya wanita muda itu. “Oh… tidak terima kasih” tolak saya halus. “Susah banget puasa kalau bukan di bulan Ramadhan!”, katanya disela kunyahan pisang molennya, “Banyak sekali godaannya!” lanjutnya setelah menelan kunyahan halus di mulutnya.
Kepalanya jelas terlihat menengok kiri-kanan. Tak tahu apa yang dicari. Tiba-tiba dia pun berdiri, “kiri bang.. kiri..”. Gadis itu turun dan bus kopaja pun berjalan. Saya menengok ke sebelah kanan ternyata terlihat kubah mesjid, saya pun dengan tergesa berdiri dan minta turun hendak mendirikan shalat maghrib. Berharap masih bisa ikut jamaah masjid tersebut.
Air keran membasahi anggota wudhu saya. Dingin sekaligus meninggalkan kesegaran. Saya jadi teringat pada gadis di kopaja tadi. Mungkin inilah yang dirasakannya ketika berbuka tadi, panas Jakarta dan dahaga yang menyiksa tiba-tiba lenyap dengan hadirnya bahagia ketika tegukan pertama.
Berpuasa di bulan Ramadhan tentunya tidak lebih sulit dibandingkan berpuasa di bulan lainnya. Sangat sulit untuk menjadi berbeda dan mempertahankan prinsip yang berbeda dengan yang diyakini kebanyakan orang. Memegang teguh prinsip di tengah desakan dari pihak yang berseberangan tentulah sangat sulit. Jika prinsip yang berseberangan dengan kita adalah hal positif dan kita terdesak untuk berbuat positif juga, maka hal tersebut justu sangat baik. Tetapi jika hal yang sebaliknya terjadi, dimana prinsip yang negatif yang berkembang pada orang kebanyakan, saat kita tidak kuat, maka dengan sangat mudah kita terseret di dalamnya.
Ketika teman-teman kampus pulang sebelum mata kuliah berakhir, meskipun tak jelas dosen hadir atau tidak, maka sangat sulit untuk membendung hasrat ingin pulang juga. Ketika teman-teman kantor bekerja sebagai individu terpisah dari kerjasama sebagai suatu team besar, maka susah sekali untuk tidak mengikuti pola mereka, tidak menerapkan pola elu-elu-gue-gue. Ketika banyak teman memilih jalan pintas, mampukah kita untuk tegas dan berkata “Tidak”?
Di tengah renungan saya sambil berjalan menuju mihrab mesjid, ternyata jamaah telah bubar. Di shaf depan saya menunggu, mencari teman untuk shalat berjamaah. Nihil. Namun tiba-tiba seorang perempuan yang baru saja saya temui di kopaja datang. Mukanya basah oleh air wudhu. “Mba.. kita berjamaah ya…” pinta saya. Dia pun tersenyum dan mengangguk.
Pertemuan kami hanya sesingkat itu, tapi dengan pertemuan itu Allah telah mengajarkan saya satu hal. Benar sekali perkataan rosul, bahwa suatu saat orang yang memegang teguh prinsip keislaman itu, ibarat seorang yang memegang besi yang telah menjadi bara api. Panas bahkan melukai. Pertanyaannya mampukah kita?
Jawabannya : Tentu saja mampu. Buktinya, gadis yang duduk disamping saya kala itu berhasil mempertahankan shaumnya ditengah godaan-godaan yang datang padanya. (Insan Sains)
Jakarta, 17 Syawal 1430H, 23:31 WIB
I’m Home…

Malam ini saya menemukan satu buku harian saya yang hilang. Pengalaman hidup saya selama tahun 2006 yang lampau. Lembar demi lembar patuh membalik mengikuti sapuan jemari. Tertahan sejenak, mengurai kalimat demi kalimat hingga tergambar gerak. Dalam sebuah ruang yang kita sebut ruang sejarah. Kadang bibir tersimpul senyum, terkadang mata yang dibujuk cengeng. Kadang mengharu biru, namun kadang menyesakkan batin.
Ah.. buku harian yang indah. Di mana saat itulah saya pertama kali jatuh cinta. Penuh bunga-bunga, meski di buku harian yang sama rasa itu tiba-tiba menjadi danau air mata, karena cinta itu pun harus kandas pada akhirnya. Tapi ada rasa syukur, karena rasa itu telah membuat kami dewasa dan bergerak terus lebih baik. Ada pula pengalaman ketika saya ketakutan dimaki-maki pemabuk, meski pada ujung buku harian, pemabuk tersebut bertaubat minta diajari shalat. Ada pula nama-nama yang tercatat jelas disana, yang tiap nama itu membangkitkan pelangi emosi tersendiri dalam jiwa saya.
Mengaitkan peristiwa demi peristiwa dalam buku harian tersebut telah membangkitkan kenangan yang mungkin sangat mahal bagi saya pribadi. Hingga saya menyadari ada satu buku harian digital yang nyaris saya lupakan. Yaitu BLOG. Ya.. sudah lama saya meninggalkan blog saya. Ada semacam kerinduan yang membuat saya ingin membaca ulang beberapa postingan. Tidak lupa komentar-komentar yang masuk. Ugggh… luar biasa. Inilah mungkin karunia memory yang Allah berikan. Saya merasa bahagia membaca kembali pengalaman saya di ruang sejarah ini. Meski ada pahit yang tidak bisa saya lupakan. Dan hari ini, saya akan kembali menempati rumah maya ini. Dengan segala suka dan duka yang ada di dalamnya. (Insan Sains)
Jakarta, 30 September 2009, 21:57 WIB
