Episode Cinta (Bag. 4) : Semburat Cinta Langit dan Bumi
Banyak rumah tangga telah terbentuk. Taman jiwa tempat dua hati bertemu dan taman hati tempat dua cinta berpadu. Keindahan taman hati ini tidak akan tercipta jika penghuninya tidak pernah menghiasinya. Taman hati ini tidak mungkin memiliki kekuatan untuk memberikan ketentraman bila penghuninya tidak berupaya mengusahakannya. Lalu bagaimanakah agar taman ini tetap dipenuhi pohon cinta yang memberikan penghuninya kekuatan untuk selalu tumbuh?
Sejenak kita keluar dari diri kita. Belajar pada alam yang telah dikaruniakanNya. Para penghuni taman hati itu hendaknya menyaksikan kemesraan cinta antara langit dan bumi yang tersemburat indah melalui kemegahan ciptaanNya ini. Bagaimana keduanya menjaga romantisme cinta hingga mampu membangun dan menumbuhkan semesta.
Langit senantiasa memayungi kekasihnya, bumi. Saat bumi gersang kehausan, langit dengan penuh kelembutan menurunkan air penyejuk. Melepas dahaga, agar sang kekasih tetap dapat hidup. Saat bumi menggigil kedinginan, langit dengan penuh kemesraan menyelimutkan panas mentarinya. Memberi kehangatan, agar sang kekasih tetap dapat tumbuh. Indah nian cinta sang langit ini. Memberi, tanpa mengharap yang dicinta membalas cintanya. Memberi kehidupan, memberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Dan cinta mereka pun menjadi lebih sempurna, karena bumi tidak lantas menyia-nyiakan tanda cinta sang imam : langit. Bumi pun menebarkan cintanya. Tenggelam dalam hakikat cinta, yaitu semangat memberi.. memberi.. dan memberi. Hingga tumbuhlah hijau pepohonan. Keluarlah ranum bebuahan. Menghambur nafas kehidupan, menyejukkan, menghidupi dan menumbuhkan penghuni-penghuni diatasnya.
Ada kalanya cinta mengalami kebekuan. Saat-saat dimana kalimat “aku mencintamu sayang” terasa hambar. Dan pandangan mata tak lagi menyejukkan. Disinilah kepiawaian sang imam dibutuhkan. Perhatikanlah bagaimana langit menjaga dan menghidupkan romantisme cintanya. Langit menyuguhkan gelap malam. Sesaat membuat bumi ketakutan. Perlahan langit mulai memegang tangan bumi. Hendak mengatakan bahwa sang kekasih tidak sendirian. Dengan romantis, mereka duduk berdua, hingga langit memberi kejutan dengan kerlap-kerlip bintang. Serta purnama yang indah menawan. Bumi pun tersenyum manis, hingga jangkrik ikut bertasbih, angin ikut berdesir, dan pohon ikut bersenandung.
Itulah cinta antara langit dan bumi. Menyemburat indah, mencipta keharmonisan alam semesta.
Wahai jiwa-jiwa maskulin, belajarlah engkau pada langit agar mampu membahagiakan, melindungi dan menginspirasi istrimu untuk menjadi jiwa yang lebih baik. Wahai jiwa-jiwa feminim, belajarlah engkau pada bumi agar mampu membahagiakan, membantu dan mendorong suamimu mencapai derajat jiwa-jiwa unggulan. Saling melengkapilah, sebagaimana langit melengkapi bumi, dan bumi melengkapi langit.
Selamat menjadi langit yang bijak
Dan selamat menjadi bumi yang subur saat dipijak (Insan Sains)
Jakarta, 18 Desember 2008, 05:12 WIB
Next episode : …..

menunggu postingan terbaru bung Insan…,
“aku mencintamu sayang”
well, kata-kata yang luar biasa…,
dan analogi yang penuh makna…
akhirnya…, hipotesa ini sudah menjadi bulat…
tinggal menunggu saja episode berikutnya…
menunggu mekarnya bunga cinta dari pohon cinta yang terpupuk dan disirami oleh embun cinta…
[sabar menunggu mode On]
-gbaiq-
[senyum]
____________________________________________
gbaiquni
19 Desember 2008 at 10:53 pm
salam dari bandung
saya suka membaca tulisan anda, cukup memberi inspirasi
artikel terbaruku …..wahai perempuan
http://esaifoto.wordpress.com
____________________________________________
dunia sunyi
20 Desember 2008 at 12:04 am
yesssss, no. 2 , angka favorit ni senpai ^^,memang bener “lebih baik banyak memberi daripada memberi” hehehehe, bertanya-tanya, kapan senpai mengeluarkan buku????? & kok temanya cinta melulu ya??? jangan-jangan senpai lagi jatuh cinta ni?? (bercanda lho)
____________________________________________
ari
20 Desember 2008 at 3:35 am
Hmmmm…^^ ini pelajaran yg kudu diperhatikan untuk yg akan menikah dan yg telah menikah yah, agar tetap harmonis
Makasih banyak sharingnya…
____________________________________________
sweetstrawberry
20 Desember 2008 at 4:32 am
Wah wah barusan sie berkunjung balasan ke sini
http://www.guidelife.wordpress.com/2008/11/12/menu-pernikahan/
Kayanya ada korelasinya sama artikel ini, bagus untuk yang mau menikah atau yang sudah menikah xixi
____________________________________________
Sassie Kirana
20 Desember 2008 at 7:35 am
Waduh jadi hetrick ,link yang bener yang kedua tuh..
yang pertama dihapus aja mas, link nya ada kelebihan satu huruf jd gak kebaca ma wp he he
____________________________________________
Sassie Kirana
20 Desember 2008 at 7:38 am
Sip..sip…
menjejak ke bumi
Sebuah analogi yang penuh romansa
____________________________________________
syelviapoe3
20 Desember 2008 at 9:32 am
Hemmm…Bingung mo comment apa..^^
____________________________________________
Toto
20 Desember 2008 at 11:10 am
langit dan bumi dalam hubungan intim dan mesra
yang lainnya juga, seluruh alam semesta ini
punya cara berhubungan yang indah dan harmonis
semuanya bertasbih dalam keserasian
kita tinggal meniru
apakah hati ini jernih
untuk menangkap keseimbangan itu?
____________________________________________
tren di bandung
20 Desember 2008 at 2:46 pm
aku senang membaca karya abangku ini.
met akhirpekan ya,sahabatku
moga menyenangkan apapun yang nanti abang lakukan
salam hangat selalu
____________________________________________
bluethunderheart
20 Desember 2008 at 4:40 pm
Jadi pesan saya ( http://romisatriawahono.net/2008/11/18/ketika-cinta-ini-membunuhmu/) , wahai para pemuda, mari letakkan posisi hati kita pada tempatnya. Cinta itu tidak akan membunuhmu, kesalahan posisi hati itulah yang akan membunuhmu.
Terima kasih telah mengunjungi blog saya
“Ya Allah, tempatkan dunia di tanganku, bukan di hatiku”
Salam,
Basir
Brainmatics Cipta Informatika
http://Brainmatics.Com
Tlp. +62-21-83793383
Fax. +62-21-83793384
My Blog : Guidelife.wordpress.com
Yahoo!ID : basir_edu
____________________________________________
guidelife
21 Desember 2008 at 11:36 am
“Wahai jiwa-jiwa maskulin, belajarlah engkau pada langit agar mampu membahagiakan, melindungi dan menginspirasi istrimu untuk menjadi jiwa yang lebih baik. Wahai jiwa-jiwa feminim, belajarlah engkau pada bumi agar mampu membahagiakan, membantu dan mendorong suamimu mencapai derajat jiwa-jiwa unggulan. Saling melengkapilah, sebagaimana langit melengkapi bumi, dan bumi melengkapi langit..”
Ah, Sesungguhnya tiada Allah menciptakan langit dan bumi selain sebagai pemberi pelajaran…dan tentu saja, tanda-tanda Kekuasaannya..Subhanallah…
thx sudah mengingatkan mas..
____________________________________________
anintadiary
22 Desember 2008 at 10:18 am
aku in9!n memberi sebanyakbanyakna,bukan meminta sebanyak banyaknya,jadi in9et pak harfan di LaskaR Pelan9!…
doch insan..postin9an dirimu kale inih yan9 entah berapa episode la9i membuatQ terpukur..
be9itu dalaM…
episode cinta man9 ka9ak ada matinyee..hehhe
____________________________________________
wi3nd
22 Desember 2008 at 1:00 pm