Archive for Desember 2008
Rembulan di Langit Hatiku
Dalam salah satu sujud, saya teringat kenangan dengan salah satu sahabat terbaik saya. Yang telah menjadi roommate saya selama beberapa tahun. Ada kebiasaan yang sering kami (lebih tepatnya sahabat saya) lakukan, yaitu bersenandung.
“Rembulan di Langit Hatiku” adalah senandung favoritenya. Dan saya dengan setianya melihat dan mendengarkan sahabat saya ini menyenandungkannya dengan sepenuh hati. Dan kini ia telah menemukan cinta sejatinya… Berbahagialah duhai sahabat! Kenangan itu akan selalu ada di hati dan menghiasi persahabatan kita.
Saya jadi ingin menyenandungkannya pula. Ada yang mau memetikkan gitar untuk saya?
Judul : Rembulan Di Langit Hatiku
Munsyid : Seismic
Rembulan di langit hatiku
Menyalalah engkau selalu
Temani kemana meski kupergi
Mencari tempat kita tuju
Kan ku jaga nyalamu selalu
Pelita perjalananku
Kan ku jaga nyalamu selalu
Rembulan di langit hatiku
Rembulan di langit hatiku
Teguhlah engkau pandu aku
Ingatkanlahku bila tersalah
Menempuh tempat kita tuju
Doakanlahku di shalat malammu
Pelita perjalananku
Doakanlahku di shalat malammu
Rembulan di langit hatiku
Episode Cinta (Bag. 9) : Love is Beautiful
Judul diatas bukan lahir dari luapan jiwa yang sedang berbunga-bunga. Bukan pula hadir dari jiwa yang sedang merasakan keindahan cinta. Bukan…! Baru saja saya membaca buku yang berjudul “Life is Beatiful” untuk yang ke sekian kalinya. Tak hanya itu, tiga hari sebelumnya saya juga telah menonton film yang berjudul “Life is Beautiful”. Kedua sumber inspirasi inilah yang kemudian membangkitkan keisengan saya untuk mempelesetkan judul tersebut menjadi “Love is Beautiful”. Cinta itu indah.
“Life is Beautiful” = “Love is Beautiful”
Jika disederhanakan (dengan mencoret kata yang sama), maka akan diperoleh :
“Life” = “Love”
Disederhanakan lagi (dengan mencoret huruf yang sama), maka akan menjadi :
“if” = “ov”
Jika “if” adalah kependekan dari “infinite”, dan “ov” adalah kependekan dari “overview”. Maka inilah cerita antara kehidupan (Life) dan cinta (Love) yang akhirnya menghadirkan keindahan (Beautiful). Mula-mula embun cinta bersemayam, menyejukkan, menentramkan, kemudian memetamorfosis jiwa. Menghadirkan kekuatan tak terbatas (infinite) untuk menciptakan kehidupan bahagia (beautiful) yang tak berbatas ruang dan waktu. Jiwa itu pun kini mampu memvisualisasi gambaran menyeluruh (overview) tentang kehidupan indah (beautiful) yang hendak dicapainya.
Begitulah peran cinta (Love) dalam kehidupan (Life). Senantiasa memberikan kekuatan bagi jiwa-jiwa pecinta. Sebuah kekuatan untuk mewujudkan taman hati yang dipenuhi keindahan (Beautiful), sehingga menciptakan surga sebelum surga yang sebenarnya.
Dalam film “Life is Beautiful” tersebut dikisahkan tentang penganiayaan para tahanan Nazi. Sebuah keluarga penuh cinta hadir disana. Sang suami dengan tampang biasa, sang istri yang cantik luar biasa, serta pangeran kecil mereka yang berumur 7 tahun. Tak pernah ada kebahagiaan di camp penganiayaan itu. Dan tak usah membayangkan kesenangan bisa dirasa disana.
Tapi cinta yang bersemayam dalam jiwa sang pemimpin keluarga itu telah memberi kekuatan yang tidak terbatas untuk menjadikan kehidupan mereka tetap bahagia. Penganiayaan fisik yang diterima sang suami tak menumpulkan cintanya untuk tetap mengundang simpul senyum sang istri yang juga dikuras tenaga. Kekejaman sang penguasa tak menyurutkan cinta sang ayah itu untuk tetap menghibur sang anak, dengan mengatakan bahwa mereka tengah berada dalam sebuah permainan besar untuk mendapatkan kebahagiaan dan hadiah yang sangat besar pula. Sebuah gambaran menyeluruh tentang akhir kehidupan bahagia yang ingin dicapai dengan cinta.
Itulah jiwa yang dipenuhi dengan cinta. Jiwa yang masih bisa memberi dalam keterbatasan, masih bersedia tersenyum dalam rintih tangisan, masih bersedia membahagiakan walau dalam kesedihan, masih mau mencintai walau teraniaya, masih berkenan mendoakan walau terdzalimi, masih bersedia menolong walau dalam kesempitan. Lain hal dengan jiwa-jiwa yang fakir cinta, menatap kondisi yang sama dengan merintih kesakitan, mengeluh kelaparan, menatap nanar siksaan demi siksaan. Sungguh tak ada kebahagiaan pada jiwa yang fakir cinta.
Film itu telah menggugah naluri kepemimpinan saya. Hingga timbul satu pertanyaan mendasar, “Siapkah jiwa kita diisi dengan cinta?” Menyemayamkan embun cinta dalam jiwa. Mengejewantahkan satu-satunya hakikat mencintai, yaitu memberi. Memberikan segala kebahagiaan kepada orang yang dicintai. Raga boleh ditelan bumi, tapi mudah-mudahan cinta karena Zat yang mengkaruniakan cinta mengantarkan kita pada kehidupan abadi penuh keindahan. (Insan Sains)
Jakarta, 27 Desember 2008, 20:33 WIB
Next Episode : ……
Episode Cinta (Bag. 8) : Desir Cinta di Taman Jiwa
Kegelapan dan keheningan adalah hak paten sang malam. Saat sang malam tiba, kelelahan dan ketakutan mungkin dapat merasuk raga. Mendekap jiwa-jiwa dengan selimut mesra hingga mentari menyapa. Lain hal bagi jiwa-jiwa pecinta, malam adalah sebuah taman jiwa. Taman hati tempatnya memadu kasih membenam lelah, melepas rindu mendatangkan bahagia, membelah langit mengantarkan cinta, merobek gelap mengundang cahaya, memecah hening mencipta desir. Dan desir itu bernama, desir cinta.
Sesekali, jauhkanlah lambungmu dari nyamannya tempat tidur. Bukalah jiwamu. Niscaya dirimu akan menyaksikan jamuan penuh cinta. Jika pendengaran jiwamu awas, desir itu niscaya akan terdengar. Jika penglihatan jiwamu tajam, semburat cinta itu niscaya akan terlihat jelas. Coba dengarlah dengan jiwamu salah satu desir cinta ini.
* * *
Bismillahi rahmani rahim
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Duhai pemilik jiwa ini…
Apakah orang yang telah mencicipi manisnya cintaMu
akan mengharapkan pengganti dariMu?
Apakah orang yang telah merasa tenang dekat denganMu
akan menginginkan pertukaran dariMu?
Duhai Cahaya diatas cahaya…
Jadikan kami diantara orang-orang :
yang Kau pilih untuk berada di dekatMu,
yang Kau sucikan untuk mencintaiMu,
yang Kau ridhakan untuk menerima qada’Mu,
yang Kau anugerahkan untuk melihat wajahMu,
yang Kau hadiahkan ridhaMu,
yang Kau lindungi dari pengusiran dan kebencianMu,
yang Kau dudukkan diatas kursi kejujuran di sisiMu,
yang Kau istimewakan dengan makrifatMu,
yang Kau pantaskan untuk menghamba kepadaMu,
yang Kau tenggelamkan jiwanya dalam kehendakMu,
yang Kau pilih untuk menyaksikanMu,
yang Kau pusatkan perhatiannya untukMu,
yang Kau kosongkan hatinya untuk cintaMu,
yang Kau bangkitkan hasratnya untuk menggapai apa yang ada di sisiMu,
yang Kau ilhami untuk mengingatMu,
yang Kau dorong untuk mensyukuriMu,
dan yang Kau jadikan dari makhlukMu yang saleh (shalehah).
Ya Allah…
Jadikan kami diantara orang-orang :
yang dambaannya adalah mencintai dan merindukanMu,
yang seluruh usianya adalah merintih dan menangis kepadaMu,
yang dahinya bersujud karena keagunganMu,
yang matanya terjaga (di malam hari) dalam berbakti kepadaMu,
yang air matanya mengalir karena takut kepadaMu,
yang hatinya terikat pada cintaMu,
dan yang jiwanya terpesona dengan kewibawaanMu.
Wahai yang cahaya qudusNya bersinar terang
dan kesucian ZatNya membahagiakan hati orang-orang yang mengenalnya
Wahai harapan hati orang-orang yang rindu
dan wahai puncak cita-cita para pecinta
Jiwa ini memelas memohon cintaMu,
memohon cinta jiwa yang mencintaiMu,
karuniakan jiwa ini kecintaan terhadap setiap amalan yang mengundang cintaMu,
Jadikan diriMu lebih aku cintai daripada selainMu,
jadikan cintaku kepadaMu membimbingku ke arah ridhaMu,
kerinduanku kepadaMu mencegahku dari bermaksiat kepadaMu,
anugerahkanlah kepadaku untuk melihatMu,
tataplah aku dengan mata kecintaan dan kasih sayang,
jangan Kau palingkan wajahMu dariku,
dan jadikan aku diantara orang-orang yang telah berbahagia untuk menempuh jalan menujuMu,
Wahai pengabul doa, istajib du’a ana ya Allah.
Wahai yang lebih kasih dari para pengasih.
(Insan Sains)
*do’a dikutip (dan mengalami pengeditan) dari kitab Mafatih Al-Jinan, Syekh Abbas al-Qummi
Jakarta, 24 Desember 2008, 05:19 WIB
Next episode : ….
Episode Cinta (Bag. 7) : Garam, Simbol Kesempurnaan Cinta
Pada setiap jiwa yang dipenuhi cinta, tertanam hasrat untuk menemukan belahan cintanya. Sebuah sunnatullah yang tintanya telah mengering. Yang tidak mungkin dibantah gelengan kepala, ataupun ucapan “tidak”. Sunnatullah inilah yang menghidupkan jiwa-jiwa pecinta. Menggelorakan semangat pencarian cinta yang disembunyikan tangan kanan takdir yang bernama, waktu. Terus menggelora, hingga cinta yang dibawa tak hanya sekedar menepuk angin. Melainkan cinta yang berbalas cinta. Memeluk rindu yang telah Allah janjikan.
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS. Adz-Dzariat, 51:49)
“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan” (QS. 53:45)
“Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan” (QS. An-Naba, 78:8)
Namun bukan cinta namanya jika belum datang ujian yang ingin menumbangkan. Salah satu ujian diantara ujian-ujian cinta adalah masalah kesetaraan. Syetan senantiasa menghembuskan keragu-raguan dalam hati para pecinta. Mulai dari meragukan yang dicinta hingga meragukan jiwa pencari cinta itu sendiri. Merasa berjiwa kerdil, merasa tak pantas mendampingi, merasa minder, merasa tak pernah bisa sempurna.
Jika ujian ini yang sedang kita hadapi. Maka ingatlah bagaimana garam (NaCl) menyempurnakan cintanya. Natrium (Na) bukanlah unsur kimia yang dapat berdiri sendiri. Begitu pula dengan Klorida (Cl). Mereka membutuhkan pasangan untuk membuat kehadiran mereka diyakini dan memberi manfaat. Ketika masih sendiri, Klorida (Cl) termasuk unsur kimia yang berbahaya bagi tubuh. Biasanya berbentuk asam (HCl). Demikian pula dengan Natrium Karbonat, walaupun tidak sebahaya HCl.
Keduanya sama-sama memiliki sisi “negatif”. Namun begitu mereka berdua dengan ikhlas menerima setiap kekurangan dan ketidaksempurnaan, dan kejernihan air diundang untuk menyaksikan ikatan cinta mereka. Maka saat itulah kuncup cinta itu mekar menjadi bunga cinta yang indah sempurna. Terciptalah kristal-kristal garam yang telah kehilangan sifat-sifat “negatif” dari Natrium maupun Klorida yang menyusunnya. Yang tertinggal hanyalah sisi “positif” yang memberikan manfaat.
Itulah kesempurnaan cinta yang dibangun dari dua jiwa yang tidak sempurna. Menghasilkan jiwa baru yang saling genap-menggenapi, saling tumbuh-menumbuhkan, saling menyempurnakan maha karya kehidupan yang dititipkan sang Khaliq.
Kesempurnaan cinta garam ini senada dengan senandungnya Rumi :
Tak ubahnya langit dan bumi dikaruniai kecerdasan
karena mereka melaksanakan pekerjaan makhluk yang memiliki kecerdasan.
Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan
mengapa mereka bersanding layaknya sepasang kekasih?
Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat pada laki-laki dan perempuan
sehingga menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka
Tuhan juga menanamkan ke semua eksistensi, hasrat untuk mencari belahannya
Masing-masing saling mencintai untuk menyempurnakan karya bersama mereka
Jangan berhenti mencintai hanya karena ketidaksempurnaan diri. Senantiasalah meluruskan niat, bulatkanlah tekad, halalkanlah cinta jiwa ini dengan ikatan cinta jiwa yang mengharap cintaNya. Jagalah cintanya, hingga rindu ini senantiasa bersemayam dalam jiwa. Rindu akan perjumpaan dengan Rabb-mu.
Selamat meng-garam-kan cintamu. (Insan Sains)
Jakarta, 22 Desember 2008, 23:11 WIB
Next episode : ….
Mother by Sami Yusuf
To my beloved mother
Happy mothers day in all of the days
Blessed is your face
Blessed is your name
My beloved
Blessed is your smile
Which makes my soul want to fly
My beloved
All the nights that
All the times that
You cared for me
But I never realised it
Now it’s too late
Forgive me
Now I’m alone
Filled with so much shame
For all the years
I caused you pain
If only I could sleep in your arms again
Mother I’m lost without you
You were the sun that brightened my day
Now who’s gonna wipe my tears away
If only I knew what I know today
Mother I’m lost without you
Ummahu , ummahu , ya ummi
wa shawqahu ila luqyaki ya ummi
Ummuka, ummuka, ummuka ummuka
Qawlu rasulika Fi qalbi , fi hulumi
Anti ma’i ya ummi
Ruhti wa taraktini
Ya nura ‘aynayya
Ya unsa layli
Ya Ruhti wa taraktini
Man siwaki yahdhununi
Man siwaki yasturuni
Man siwaki yahrusuni
‘Afwaki ummi Samihini …
Episode Cinta (Bag. 6) : Ayat-ayat Cinta
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165)
“Katakanlah : ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (melaksanakan sunnah-sunnah nabi Muhammad saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS. Ali-Imran, 3 : 31)
Bersabda rosulullah saw : “Ada tiga sifat yang jika salah satu sifat tersebut ada pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu (1) jika Allah dan rosul-Nya lebih dicintainya dari semua hal; (2) atau orang yang mencintai saudaranya sesama mukmin semata-mata karena Allah; (3) atau orang yang membenci kekafiran setelah merasakan keimanan sama seperti kebenciannya jika ia dilemparkan ke dalam api neraka” (HR. Bukhari Muslim)
Sabda Rosulullah saw : “Allah swt berfirman (dalam hadist qudsi), Aku wajibkan cinta-Ku bagi orang-orang yang mencintai karena Aku, saling berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku” (HR. Malik dalam Al Muwaththa‘)
Bersabda Rosulullah saw : “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada segolongan umat, mereka bukanlah para Rosul dan bukan pula para syuhada, tetapi para rosul dan para syuhada sangat menginginkan untuk mencapai derajat mereka disisi Allah. Maka para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, ya rosulullah?” jawab Rosulullah saw “Mereka adalah orang-orang yang saling bekerja dan saling mencintai karena Allah tanpa adanya hubungan kekerabatan dan hubungan duniawi. Demi Allah! Wajah-wajah mereka bermandikan cahaya dan mereka berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya, dan mereka tidak merasa takut dan tidak merasa sedih ketika manusia lainnya merasa takut dan sedih” (HR. Abu Daud)
Sabda Rosulullah saw : “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah, (3) seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah dan di jalan Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, (5) seseorang yang diajak (berzina) oleh perempuan yang berkedudukan dan cantik, tapi ia mengatakan “aku takut kepada Allah”, (6) seseorang yang bersedekah kemudian merahasiakannya, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, (7) dan seseorang yang berdzikir dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.” (HR. Bukhari Muslim)
Selamat menyemaikan cinta, duhai para perindu cintaNya (Insan Sains)
Jakarta, 21 Desember 2008, 21:13 WIB
Next episode : Garam, Simbol Kesempurnaan Cinta
Episode Cinta (Bag. 5) : Meminang Ketidaksempurnaan Rembulan
Kita hidup di penghujung jaman. Saat segala kesempurnaan telah diberikan habis pada orang-orang pilihan. Kesempurnaan kecantikan telah diberikan habis pada Sarah (istri nabi Ibrahim). Kesempurnaan ketampanan telah diberikan habis pada nabi Yusuf. Kesempurnaan akhlaq telah diberikan habis pada nabi Muhammad. Kesempurnaan iman telah diberikan habis pada nabi Ibrahim. Kesempurnaan kelembutan hati telah diberikan habis pada Aisyah. Kesempurnaan kekayaan telah diberikan habis pada nabi Sulaiman.
Segala kesempurnaan tersebut telah direguk habis oleh manusia-manusia pilihan Allah. Maka dari itu, tak mungkin ada seorang gadis yang menolak pria semisal nabi Yusuf, yang selain pria paling tampan di dunia juga memiliki kekuatan iman yang luar biasa. Dan tak mungkin pula ada seorang pria akan menyia-nyiakan gadis semisal Aisyah yang selain diberikan wajah yang cantik, umur yang muda, memiliki kelembutan hati yang luar biasa, juga ketawakalan yang tak perlu diragukan lagi.
Sayangnya, segala kesempurnaan itu telah habis terbagi pada mereka. Itulah yang menjadikan masalah cinta kita selalu klasik. Pilihan-pilihannya menjadi rumit. Ada pria tampan, tapi sayang agamanya lemah. Tapi ada pula pria shaleh, tapi wajahnya gagal untuk disebut tampan. Begitu pula dengan perempuan. Ada perempuan cantik, tapi sayang tampilan dan perilakunya tidak islami. Ada pula perempuan yang shalehah, tapi lagi-lagi wajahnya tidak begitu menarik. Ada si kaya, namun sayang miskin iman. Sebaliknya, ada si miskin, tapi taat bukan main.
Segala pesona yang kita miliki selalu pincang. Padahal untuk dapat berlari, kita membutuhkan dua kaki untuk melangkah. Inilah persoalan cinta kita. Kita selalu mengharap kesempurnaan pada orang yang ingin kita cintai padahal segala kesempurnaan telah direguk habis oleh manusia-manusia pilihan. Yang tersisa tinggallah cacat dan ketidaksempurnaan yang melekat pada diri kita.
Namun apakah karena ketidaksempurnaan itu lantas jiwa ini tak pantas mencintai dan dicintai?
Sejenak kita mengunjungi rembulan di malam hari. Lebih dekat.. Lebih dekat… Hingga kita dapat menginjakkan kaki padanya. Banyak lubang dimana-mana. Permukaan yang sama sekali tidak mulus dan rata. Sungguh pemandangan yang tak pernah membuat mata betah lekat-lekat memandangnya. Inilah ketidaksempurnaan rembulan. Namun saat kita kembali menginjakkan kaki di bumi. Betapa disini, kita dapat melihat cahaya putih menawan sang rembulan. Indah menyemburat. Menghiasi langit saat kelam.
* * *
Temuilah Tuhanmu. Kuatkan azzammu. Pinanglah ketidaksempurnaan rembulan. Jadikan pesona jiwa menjadi pilihan. Terimalah ketidaksempurnaan lahirnya. Niscaya celupan Allah akan menjadikan indah menawan pada kanvas ketidaksempurnaan itu, dengan kuas cinta yang diusung karena mengharap pertemuan denganNya.
Pesona jiwa akan selalu memberikan getaran rindu bagi si pecinta. Dengan getaran rindu inilah, cahaya cinta bisa terawat tanpa berbatas waktu dan usia. Namun jika pilihannya adalah pesona lahiriah (kecantikan, ketampanan, kekayaan) maka tunggulah hingga pesona tersebut sirna, kecantikan itu mengkerut, ketampanan itu memudar, kekayaan itu habis terkuras. Dan saat itulah, cinta yang didasarkan pada pesona yang akan sirna, maka cinta pasti habis tak bersisa.
Selamat meminang ketidaksempurnaan rembulan
Atau hanya bermimpi membayangkan indahnya rembulan.. (Insan Sains)
Jakarta, 19 Desember 2008, 10:42 WIB
Next episode : …..
Episode Cinta (Bag. 4) : Semburat Cinta Langit dan Bumi
Banyak rumah tangga telah terbentuk. Taman jiwa tempat dua hati bertemu dan taman hati tempat dua cinta berpadu. Keindahan taman hati ini tidak akan tercipta jika penghuninya tidak pernah menghiasinya. Taman hati ini tidak mungkin memiliki kekuatan untuk memberikan ketentraman bila penghuninya tidak berupaya mengusahakannya. Lalu bagaimanakah agar taman ini tetap dipenuhi pohon cinta yang memberikan penghuninya kekuatan untuk selalu tumbuh?
Sejenak kita keluar dari diri kita. Belajar pada alam yang telah dikaruniakanNya. Para penghuni taman hati itu hendaknya menyaksikan kemesraan cinta antara langit dan bumi yang tersemburat indah melalui kemegahan ciptaanNya ini. Bagaimana keduanya menjaga romantisme cinta hingga mampu membangun dan menumbuhkan semesta.
Langit senantiasa memayungi kekasihnya, bumi. Saat bumi gersang kehausan, langit dengan penuh kelembutan menurunkan air penyejuk. Melepas dahaga, agar sang kekasih tetap dapat hidup. Saat bumi menggigil kedinginan, langit dengan penuh kemesraan menyelimutkan panas mentarinya. Memberi kehangatan, agar sang kekasih tetap dapat tumbuh. Indah nian cinta sang langit ini. Memberi, tanpa mengharap yang dicinta membalas cintanya. Memberi kehidupan, memberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Dan cinta mereka pun menjadi lebih sempurna, karena bumi tidak lantas menyia-nyiakan tanda cinta sang imam : langit. Bumi pun menebarkan cintanya. Tenggelam dalam hakikat cinta, yaitu semangat memberi.. memberi.. dan memberi. Hingga tumbuhlah hijau pepohonan. Keluarlah ranum bebuahan. Menghambur nafas kehidupan, menyejukkan, menghidupi dan menumbuhkan penghuni-penghuni diatasnya.
Ada kalanya cinta mengalami kebekuan. Saat-saat dimana kalimat “aku mencintamu sayang” terasa hambar. Dan pandangan mata tak lagi menyejukkan. Disinilah kepiawaian sang imam dibutuhkan. Perhatikanlah bagaimana langit menjaga dan menghidupkan romantisme cintanya. Langit menyuguhkan gelap malam. Sesaat membuat bumi ketakutan. Perlahan langit mulai memegang tangan bumi. Hendak mengatakan bahwa sang kekasih tidak sendirian. Dengan romantis, mereka duduk berdua, hingga langit memberi kejutan dengan kerlap-kerlip bintang. Serta purnama yang indah menawan. Bumi pun tersenyum manis, hingga jangkrik ikut bertasbih, angin ikut berdesir, dan pohon ikut bersenandung.
Itulah cinta antara langit dan bumi. Menyemburat indah, mencipta keharmonisan alam semesta.
Wahai jiwa-jiwa maskulin, belajarlah engkau pada langit agar mampu membahagiakan, melindungi dan menginspirasi istrimu untuk menjadi jiwa yang lebih baik. Wahai jiwa-jiwa feminim, belajarlah engkau pada bumi agar mampu membahagiakan, membantu dan mendorong suamimu mencapai derajat jiwa-jiwa unggulan. Saling melengkapilah, sebagaimana langit melengkapi bumi, dan bumi melengkapi langit.
Selamat menjadi langit yang bijak
Dan selamat menjadi bumi yang subur saat dipijak (Insan Sains)
Jakarta, 18 Desember 2008, 05:12 WIB
Next episode : …..
Episode Cinta (Bag. 3) : Cinta vs Takdir
Cinta melanda siapa saja. Tak terkecuali para pahlawan. Cintalah yang telah memberikan kekuatan pada mereka hingga rela meregang nyawa, membahagiakan orang-orang yang mereka cinta. Cinta itu pula yang berdiri di belakang orang-orang besar (termasuk para ulama), memompa semangat, menguatkan kesabaran, meneduhkan kegusaran, hingga mampu membuat orang-orang itu bangkit saat terjatuh, dan terus berlari mengukir prestasi hingga akhirnya namanya terpahat indah di tanah yang bernama bumi ini.
Saat dua luapan cinta beradu, muncul gelombang dahsyat bagai ombak yang lama terpisah. Memerpercik embun-embun cinta. Memancing mentari mengangkatnya, mengangkasa ke langit. Sayang, embun-embun cinta itu tak pernah benar-benar sampai ke puncak langit. Awan takdir tak pernah luput mendekap dan mengaraknya. Bersyukurlah bila awan takdir tak lantas menjatuhkannya kembali ke bumi. Namun, tidak semua cinta berakhir bahagia. Ada kalanya takdir tak cukup bermurah hati untuk terus mengarak cinta, membumbungkannya di langit, membahagiakan para pecinta. Ada saat dimana langit berwajah mendung, menjatuhkan cinta-cinta yang tak lagi ingin dibawa sang awan takdir berarak di langit. Hujan air mata tak pelak lagi, menangisi harapan yang tak kunjung menjadi nyata. Mengundang petir kesedihan. Getir. Menggoreskan luka batin yang mengaga. Entah kapan dapat terobati?
Mari kita tengok perjalanan cinta salah seorang ulama besar Islam. Siapa yang tak mengenal Sayyid Qutb seorang ulama ternama yang menulis tafsir Fi Dzilalil Qur’an. Namun tak banyak orang yang mengetahui sisi personal dari ulama besar ini. Apalagi jika itu menyangkut episode cinta yang beliau alami. Ulama besar ini pun pernah tersentuh oleh embun-embun cinta. DR. Abdul Fattah Al-Khalidi dalam tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Qutb, menulis bahwa Sayyid pernah mengalami dua kali jatuh cinta, serta dua kali patah hati pula.
Luar biasa bukan? Ternyata bukan hanya manusia biasa saja yang bisa mengalamai patah hati, seorang ulama pun bisa demikian. Embun cinta pertama datang menyentuh jiwa sang Sayyid. Dialah gadis pertama yang membangkitkan kerinduan sang Sayyid untuk menautkan cintanya. Embun cinta itu datang dari desa kelahiran. Namun 3 tahun sejak beliau harus menjauhkan raganya dari gadis pujaan ke Kairo untuk menuntut ilmu agama, gadis tersebut ternyata memilih menyerahkan cintanya kepada orang lain. Tak pelak lagi begitu terpukulnya sang Sayyid mengetahui berita ini. Tak kuasa menahan sedih, seguk tangis tak terbendung. Sangat dimaklumi bagaimana rasanya merelakan kepergian embun cinta pertama yang pernah mengisi relung jiwanya, yang pernah melambungkan asa dan melejitkan potensi kebaikannya. Cinta pertama memang indah, namun sakitnya menusuk ulu hati hingga menganga.
Embun cinta kedua lahir, menyejukkan dan membangkitkan kembali kerinduaan jiwa sang Sayyid untuk menautkan cintanya karena kecintaan kepada Allah. Gadis kedua ini berasal dari Kairo. Mengenai gadis ini sang Sayyid pernah menggambarkan bahwa paras gadis pembawa embun cinta ini tidaklah buruk namun gagal untuk dibilang cantik. Nampaknya ada pesona lain yang memikat sang Sayyid sehingga merindukannya. Mungkin tatapan menyejukkan yang dibawa embun cinta ini. Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak bermurah hati dengan cinta sang Sayyid. Di hari pertunangannya, sang Sayyid seakan disambar petir, pasalnya gadis tersebut sambil menangis menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang hadir dihatinya. Perkataan gadis itu seakan meruntuhkan harapan sang Sayyid untuk mendapatkan gadis yang perawan fisiknya, perawan juga hatinya.
Sang Sayyid akhirnya memutuskan hubungan dengan gadis Kairo tersebut, pergi membawa raganya jauh dari embun cintanya. Raga sang Sayyid boleh saja menjauh, namun jiwanya ternyata tak mampu melepaskan pesona sang embun cinta. Selanjutnya apa yang terjadi? Sang Sayyid tenggelam dalam penderitaan jiwa yang selalu dibawa atas nama cinta. Kesedihan bercampur kerinduan ternyata lebih menyiksa sang Sayyid dibanding goresan pedang yang menyayat tubuhnya. Akhirnya sang Sayyid mengorbankan idealismenya kemudian pergi menjemput dan rujuk kembali dengan gadis pembawa embun cinta tersebut. Namun sayang, kali ini gadis itulah yang menolak cinta sang Sayyid.
Perih bukan main gejolak rasa yang dialami sang Sayyid. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan yang dirasakan sang Sayyid tersebut. Bahkan tercipta roman-roman yang merupakan bayang-bayang romansa cinta tersebut. Inilah peristiwa kedua yang membuat luka batin sang Sayyid. Saat harapannya menggantungkan cinta terputus oleh kekuasaan takdir. Menorehkan luka yang menganga menabur kepedihan.
Bukan Sayyid Qutb namanya bila beliau harus hancur gara-gara cintanya yang terhempas takdir. Dengan kebesaran hati dan sikap husnudzon terhadap takdir Allah, tanpa menafikkan kesedihan yang melanda hatinya, beliau berujar kepada sang Pemilik takdir “Apakah dunia tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah pernikahan tidak sesuai dengan kondisiku?”. Saat cinta yang dirindu tak kunjung menerimanya, maka beliau menggantungkan seluruh cintanya pada zat yang selalu mencintainya, yang cintanya tidak akan pernah terputus, yang cintanya kekal abadi. Cintanya Allah. Ya, Allah. KepadaNyalah beliau menumpah ruahkan seluruh cinta dan mimpi-mimpinya yang tertolak takdir, sambil berlari menjemput takdirnya yang lain.
Setelah peristiwa terakhir tersebut sang Sayyid dipenjara selama 15 tahun. Dan di penjara itulah beliau dengan gemilang berhasil menulis tafsir Fi Dzilalil Qur’an dengan cinta. Sebelum akhirnya harus meregang nyawa di tiang gantungan. Sendiri…! Dengan cinta yang sudah tertumpah ruah semua untuk Rabbnya, hanya kepada Rabbnya. (Moga Allah memberkahi engkau duhai sang Sayyid)
Begitulah cinta ketika ia harus berhadapan dengan takdir. Cinta memang terkadang harus selalu mengalah untuk membahagiakan siapapun yang dicintainya. Tak perlu takut untuk menautkan cinta, selama kecintaan itu tertuju untuk mengharap keridhaan Allah. Bukankah dalam sebuah hadist yang shahih Allah swt pernah mengingatkan bahwa Ridha dan pertolonganNya (saat tidak ada pertolongan selain pertolonganNya) ada untuk 7 golongan, salah satu diantaranya adalah mereka yang saling mencinta, bertemu karena Allah dan berpisah pun karena Allah.
* * *
Dan teruntuk gadis yang membawa embun cinta bagi jiwa ini, dan yang menghadirkan cintanya untuk jiwa ini. Jadikan kalimat ini menjadi pengingat bagi kita untuk saling mencintai karenaNya. Mari kita senantiasa memperhatikan dan meluruskan niat kita setiap saat. Jika Dia ridha dan berkenan mempersatukan cinta kita, maka puja dan puji menjadi kewajiban bagi kita untuk memanjatkannya kepada Allah. Dan itulah awal perjalanan panjang kita membangun surga sebelum surga yang sebenarnya, hingga kelak kita memandang wajah Rabb Yang Maha Suci. Namun, jika takdirNya berkehendak lain, marilah kita bertakbir. Bukankah Dia satu-satunya zat yang Maha Besar dan Maha Berkehendak itu? Betapa tak berartinya jiwa-jiwa kecil kita dihadapanNya. Maka teguhkanlah kesabaran, dan kuatkanlah kecintaan kepadaNya. Mudah-mudahan cinta membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, bukan manusia penyembah berhala atas nama cinta.
* * *
Selamat belajar untuk saling mencintai karena Allah
Dan selamat belajar ikhlas untuk menerima takdir yang diberikan Allah (Insan Sains)
Surabaya, 17 Desember 2008, 23:03
Next episode : Semburat Cinta Langit dan Bumi
Episode Cinta (Bag. 2) : Surga Sebelum Surga Sebenarnya
Rumah berteduh itu boleh saja sempit. Pun tak perlu luas membentang. Selama mampu menghadirkannya menjadi taman jiwa yang rimbun dengan pohon cinta, cukuplah. Di taman itulah, jiwa-jiwa akan senantiasa mendapat keteduhan di tengah teriknya ujian hidup yang disembur langit, mendapat kenyamanan di tengah hiruk pikuk bumi yang menggoncang raga, menyesakkan batin.
Hanya di rumah yang mampu menghadirkan keteduhan dan kenyamananlah, jiwa-jiwa akan senantiasa tumbuh. Luapan masalah yang datang tak pernah menjadi besar, kebimbangan yang dirasa mampu direduksi, kegelisahan yang melanda mampu diredam. Semua ini terjadi karena pohon cinta menyerap semuanya sebagaimana pohon menyerap air dan teriknya mentari. Kemudian yang nampak hanyalah buah hikmah yang bisa dipetik jiwa. Buah hikmah itulah yang menjadikan jiwa-jiwa disayangi bumi, serta dirindukan langit.
Oleh karena itu, di taman jiwa yang penuh cinta inilah, isak tangis dapat berubah menjadi senyum manis, ketakutan dapat berubah menjadi kekuatan untuk membangun. Di taman ini pulalah, jiwa-jiwa itu senantiasa akan merasakan kelapangan. Bukankah jiwa yang lapang jauh mempesona dibandingkan istana yang lapang? Inilah yang kemudian menjadikan rumah mungil itu menjadi rumah yang penuh berkah. Rumah yang mampu menghadirkan surga sebelum surga sebenarnya.
Bangunlah surga itu dengan cinta untuk mengharap cintaNya. Jaga dan pupuklah pohon cinta itu. Jangan biarkan ia meranggas dan layu, hingga kering kerontang dan akhirnya mati tanpa menyisakan buah. Cinta itu harus dinamis dan berkembang. Agar tiap kata yang terucap jiwa di rumah itu tetap memiliki getaran bagi jiwa-jiwa lain yang mendengarkannya. Agar kalimat cinta yang terucap jiwa tidak kehilangan efek dahsyat yang dapat membahagiakan jiwa-jiwa lainnya. Agar pandangan penuh cinta yang terpancar jiwa tetap dapat menyejukkan jiwa-jiwa lainnya. Agar perbuatan jiwa tetap mampu menjadi inspirasi bagi jiwa-jiwa lainnya.
Tanam dan senantiasa pupuklah pohon cinta itu. Dan sebaik-baik memupuk yaitu memupuk pohon cinta kita dengan memperkuat kecintaan kepada Allah. Penuhilah dindingnya dengan dzikir, tegakkanlah tiangnya dengan shalat fardhu, terangilah ruangannya dengan tilawah Al-Quran, hiasilah rumah itu dengan shalat malam, semerbakkanlah isinya dengan meneladani rumah tangga rosulullah. Dengan demikian, rumah mungil itu kini telah menjadi surga sebelum surga yang sebenarnya. Tempat kita tumbuh, tempat kita memadu kasih, tempat kita berharap pertemuan dengan Zat yang memberikan kita cinta.
Selamat membangun surga sebelum surga sebenarnya..! (Insan Sains)
Surabaya, 16 Desember 2008, 22:46
Next Episode : Cinta vs Taqdir
