Kesia-siaan besar bagi para “Penghafal Al-Quran”

Posted on 28 Oktober 2008

15



Sebelumnya saya beristighfar bila ada readers yang hanya membaca judul tulisan ini saja. Tadinya tulisan ini saya beri judul “Ingin hafal Al-Quran atau ingin jadi Penghafal Al-Quran?” yang terinspirasi dari perkataan seorang hafidz yang dipertemukan dengan saya saat Itikaf di Daarut Tauhiid, Ramadhan kemarin. Hanya saja supaya lebih bombastis, judulnya sedikit dibuat slengekan. Jadi lupakan sejenak permainan bahasa EYD kita.

Lupakan masalah judul diatas. Jika masih dirasa menggangu anggap saja judul tulisan ini adalah “Ingin Hafal Al-Quran atau ingin menjadi Penghafal Al-Quran?”. Dan saya yakin, jika tulisan ini mengandung kebenaran maka pembaca akan dipertemukan dengan kesimpulan yang senada dengan judul tulisan ini.

Sangat sederhana sekali pertanyaannya. Ingin hafal Al-Quran atau ingin menjadi penghafal Al-Quran? Dua pilihan yang serupa namun sangat berbeda makna. Pilihan yang pertama, ingin hafal Al-Quran, bermakna bahwa si pemilih berharap dan berusaha agar seluruh isi Al-Quran ada dalam ingatannya. Sedangkan pilihan kedua, ingin jadi penghafal Al-Quran. Terkesan hampir mirip dengan pilihan pertama, hanya bedanya, untuk pilihan yang kedua, si pemilih secara tidak langsung menerjunkan dirinya menjadi seorang penghafal abadi. Maksudnya, tiap ada bagian yang dia hafal, bagian yang lain terlupa. Begitu yang terlupa dihafal lagi, bagian yang lainnya balik terlupa. Benar-benar menghafal tak ada habisnya.

Hal inilah yang seyogyanya sedang saya alami. Benar-benar bisa bikin “babak belur”. Berputar-putar menghabiskan waktu, namun tak ada hasil. Sebuah surat selesai di hafal. Berlanjutlah menghafal surat yang lainnya. Begitu berhasil terhafal, surat yang sebelumnya sudah hafal malah terlupakan lagi. Jadi sampai kapankah akan hafal Al-Quran? :D

Salah satu hal yang menyebabkan seseorang menjadi penghafal Al-Quran adalah karena surat-surat yang telah dihafalnya jarang sekali di muraja’ah. Dan kenapa jarang di muraja’ah? Jawabannya….. Ada banyak faktor. Diantaranya :

  • Terlalu PD pada ingatan yang menurutnya sangat kuat, dan mustahil lupa. Padahal manusia pada fitrahnya selalu dibuat lupa.
  • Tidak ada guru atau pun teman untuk bermuraja’ah. Bagaimana mungkin bisa mengetahui hafalan kita bagus atau tidak, jika tidak diuji, minimal di hadapan teman kita yang pandai tahsin Al-Quran.
  • Sedikit “jam terbang” untuk mengetes hafalannya. Jika bacaan surat ketika shalat selalu menggunakan surat-surat pendek, lantas surat-surat panjang yang telah dihafal mau dikemanakan?
  • Dll (Dan Lupa Lagi…..) :D

Mungkin kendala-kendala inilah yang membuat Muhammaf Yasin mantap mengambil pilihan hidup. Yasin adalah salah seorang sahabat baru yang saya kenal sejak itikaf kemarin. Dia sering curhat dengan saya tentang diri dan keluarganya. Dalam sebuah dialog, dia mengungkapkan bahwa dirinya ingin hafal Al-Quran. Selain mengikuti kuliah khusus menghafal Al-Quran, dia juga memberikan satu kriteria untuk calon istrinya kelak. Perempuan itu haruslah seorang hafidzah. Benar-benar mantap. Tak ada kriteria lain. Kaya? Cantik? Pintar? Dia geleng-geleng kepala. Tak penting… asal perempuan itu hafal Al-Quran, titik. Jawaban yang membuat bulu kuduk saya merinding bukan main. Merinding, karena memang kriteria itu tidak pernah terlintas dalam benak saya. se… di… kit…. pun.

* * *

Sin…. ana mungkin tidak seyakin antum untuk mendapatkan gadis seorang hafidzah. Mengingat ana sendiri belum mampu konsisten untuk menghafal Al-Quran. Tapi setidaknya ana berharap Allah mengkaruniakan kepada ana pasangan hidup yang “ber-azzam untuk hafal Al-Quran”. Dan mudah-mudahan Allah menganugerahi kemampuan kepada kita agar bisa “hafal Al-Quran”, dan melahirkan generasi-generasi yang hafal Al-Quran.

Saudaraku Yasin, mari kita ingat kembali akan keutamaan-keutamaan insan yang hafal Al-Quran. Betapa mulianya ia dihadapan Sang Khaliq, betapa mudahnya ia melewati sirath, betapa orang-tuanya menjadi orang tua termulia kelak di hari penghisaban. Ah.. masih banyak lagi tentunya bukan akhi? Mudah-mudahan ingatan itu menjadi penyemangat bagi kita untuk istiqamah menuju cita-cita “hafal Al-Quran”. Selamat berjuang! Jangan lupa saling mendoakan, dan jangan sungkan untuk memberi kabar sampai juz berapa hafalan antum, agar ana menjadi termotivasi untuk mengejar ketertinggalan.

Ah.. ana beruntung antum tidak mau menerima tantangan ana waktu itu. “Barang siapa yang hafal Al-Quran terlebih dahulu. Maka dia berhak untuk menikah duluan”. Huh… coba kalau antum menerima tantangan itu. Bisa-bisa saat umur ana menjelang 40 tahun baru bisa nikah… :D

Allahu Rabbi…! Berikan kekuatan-Mu kepada kami. Ijinkan hati kami terisi penuh dengan ayat-ayatMu. Dan pilihlah kami menjadi salah seorang penjaga kalimat-kalimat suci-Mu.

About these ads
Posted in: Renungan