. : : I N S A N – S A I N S : : .

INSAN perindu IHSAN : : Mencari hikmah di telaga SAINS

Archive for Oktober 2008

Asma Allah – by Sami Yusuf

with 16 comments

Sebuah nasyid yang syairnya asmaul husna dan dihadirkan dalam format video yang “cantik”. Pengambilan dan pengeditan gambarnya sangat menarik sehingga terkesan elegan. Penuh warna putih. Bersih sekali. Dan diakhiri dengan nuansa hitam, memberikan kesan sendu. Nadanya pun enak di dengar. Silahkan coba dengarkan sendiri nasyid yang dibawakan oleh Sami Yusuf ini.

JIka ada yang ingin mendownload file FLV-nya, bisa klik disini. Untuk file MP3-nya bisa klik disini.

Written by Insan

30 Oktober 2008 at 7:25 am

Ditulis dalam Film & Music

Ditandai dengan , , ,

Komputer Masa Depan

with 6 comments

Minggu ke-2 November, alhamdulillah mendapat ladang untuk berbagi ilmu. Saya diminta menjadi nara sumber untuk mengisi acara pelatihan perakitan dan troubleshooting komputer. Sebenarnya agak kurang PD untuk menyanggupinya, dikarenakan bidang itu sudah tidak saya ikuti lagi perkembangannya. Saya lebih asyik untuk mendalami bagaimana komputer bisa lebih cerdas dari umumnya. Nah… itulah yang lebih greget, dan bikin bulu kuduk saya merinding, namun justru membuat saya ingin terjun mereguk “keindahan” di dalamnya…!! Tapi mudah-mudahan keputusan saya untuk menerima permintaan itu, tidak menjadikan acara tersebut sia-sia.

Sambil membuat animasi presentasi Flashnya, saya membaca-baca kembali buku dan referensi-referensi lain. Setelah dibaca-baca lagi, kok rasanya gak nge-taste banget yach.. buku-bukunya. Nggak up2date. Jadul. Ah.. sungguh buku-buku yang memuakkan. Daya khayal saya kembali berlarian, membayangkan bahwa di bumi belahan sana, komputer dan teknologi sudah jauh meninggalkan negara kita puluhan tahun. Sedangkan kita masih saja ngutak-ngutik komputer. Bongkar pasang komputer. Mempelajari hardware-hardware yang sudah jauh tertinggal.

Akhirnya saya putuskan, akan sedikit menyimpang dari tema yang diberikan oleh panitia. Setidaknya saya ingin mengompori peserta-peserta agar tidak terpaku pada teknologi komputer saat ini. Berharap saya bisa menyampaikan ide dasar perkembangan komputer. Sehingga sekalipun komputer terus berkembang, ide dasarnya tentulah akan selalu menjadi pijakannya. Tapi bukan hal yang mudah tentunya untuk menyampaikan hal tersebut kepada orang umum.

Coba simak video youtube berikut ini. Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

29 Oktober 2008 at 3:37 pm

Kesia-siaan besar bagi para “Penghafal Al-Quran”

with 13 comments

Sebelumnya saya beristighfar bila ada readers yang hanya membaca judul tulisan ini saja. Tadinya tulisan ini saya beri judul “Ingin hafal Al-Quran atau ingin jadi Penghafal Al-Quran?” yang terinspirasi dari perkataan seorang hafidz yang dipertemukan dengan saya saat Itikaf di Daarut Tauhiid, Ramadhan kemarin. Hanya saja supaya lebih bombastis, judulnya sedikit dibuat slengekan. Jadi lupakan sejenak permainan bahasa EYD kita.

Lupakan masalah judul diatas. Jika masih dirasa menggangu anggap saja judul tulisan ini adalah “Ingin Hafal Al-Quran atau ingin menjadi Penghafal Al-Quran?”. Dan saya yakin, jika tulisan ini mengandung kebenaran maka pembaca akan dipertemukan dengan kesimpulan yang senada dengan judul tulisan ini.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

28 Oktober 2008 at 7:30 am

A Thousand Splendid Suns

with 10 comments

Judul : A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tahun : 2007
Genre : Novel
Tebal : 516 Halaman
ISBN : 979-3269-68-5























A thousand splendid suns. Seribu mentari surga. Sebuah novel yang mengetengahkan konflik demi konflik seorang perempuan yang terlahir sebagai anak haram anak yang lahir dari hubungan tidak sah, yang berjuang untuk memberi makna pada hidupnya. Novel ini ditulis oleh seorang penulis yang namanya terkenal setelah karyanya yang berjudul “The Kite Runner”. Bahkan “A Thousand Splendid Suns” ini diprediksi akan mengikuti jejak pendahulunya menjadi sebuah film layar lebar di Hollywood.

Penulis novel ini sangat jeli menggambarkan detail-detail kehidupan, mulai dari pakaian, mimik muka hingga setting latar tiap episode-episode. Benar-benar memberikan gambaran yang hidup. Tak hanya itu, pilihan kata-kata yang digunakan oleh Hosseini sungguh mengagumkan, hingga mampu mengorek, mengaduk-ngaduk bahkan mengoyak-ngoyak perasaan para pembacanya. Novel setebal 516 halaman ini dirangkai secara apik. Sang penulis sangat lihai menghubungkan alur-alur cerita yang sedang berlangsung dengan cerita-cerita sebelumnya. Sehingga tidak terkesan terputus atau terlupakan begitu saja. Bahkan tiap kalimat yang ada pada episode-episode awal, justru dihidupkan kembali di episode selanjutnya. Bahkan menjadi pemanis saat diketengahkan kembali di episode penutup. Luar biasa. Patut diacungi jempol karena mampu menghadirkan pergolakan batin, konflik yang sedemikian rumit, dan terkesan tak ada harapan bahagia untuk si tokoh utama, namun pada akhirnya, justru semua itu diakhiri dengan secuil episode yang sangat menawan, walaupun harus berakhir haru menyedihkan.

Antara bab pertama dan bab kedua dalam novel ini, terkesan tidak ada sangkut pautnya. Tokoh utama seakang hilang tak berbekas, yang ada adalah tokoh utama kedua. Namun ternyata kedua tokoh tersebut akhirnya disatukan dalam episode-episode berikutnya dimulai dari sebuah moment yang sangat unik, tak terduga. Di novel ini pula, pembaca akan dapat melihat sebuah kesabaran tanpa batas dari seorang perempuan yang tak pernah diinginkan lahir ke dunia. Kesabaran yang harus ditebusnya dengan penderitaan tak kunjung reda sejak ia lahir ke dunia, namun akhirnya ia mendapatkan cinta dan keindahan hidup walaupun harus berakhir tragis. Jadi siapkanlah tissue yang banyak sebelum membaca novel ini.

* * *

Mariam. Seorang anak perempuan yang tak pernah diakui secara sah oleh ayahnya, Jalil. Walaupun kenyataannya mereka terikat secara batin, dan saling mengasihi layaknya ayah dan anak. Hanya saja, Jalil tak mau menunjukkannya kepada khalayak. Maka ditutupinya hubungan darahnya itu dengan memberikan Mariam dan ibunya, Nana sebuah gubuk di desa terpencil, Gul Damam. Sekali dalam sepekan Jalil secara rutin mengunjungi Mariam, dan kadang-kadang membawakan hadiah sebagai bukti sayangnya kepada Mariam.

Mariam dibesarkan ditangan seorang ibu yang tak mengijinkannya bersekolah, karena ketakutannya pada olok-olokan teman-teman Mariam kelak. Sehingga Mariam kecil tumbuh tanpa pengetahuan. Satu-satunya ilmu yang dia dapat adalah dari Mullah Faizullah, seorang kakek tua yang mengajarinya membaca Al-Quran dan sembahyang. Namun kadang-kadang ayahnya, Jalil sering pula menceritakan bagaimana kehidupan-kehidupan di kota, dan kadang membacakan kepadanya syair-syair.

Hingga pada umur 15 tahun, Mariam meminta kado kepada ayahnya agar mengajak dia menonton di bioskop miliknya bersama anak-anak Jalil yang lain. Sebuah film yang pernah ayahnya ceritakan, yaitu seorang pengrajin kayu yang mendapati boneka kayunya hidup dan dapat bergerak. Namun permintaan itu, tentu saja mendapatkan penolakan, walaupun disampaikan secara halus. Hingga akhirnya, Mariam nekad pergi sendiri ke kota dan mencari rumah pengusaha terkenal, yaitu ayahnya, Jalil.

Setelah menemukan rumah yang dimaksud sampai harus tidur di jalanan, Mariam harus kecewa untuk yang kesekian kali karena ayahnya justru menyuruh sopirnya memulangkan Mariam pulang ke Gul-Damam. Dan seketika pulang ke rumahnya, Mariam mendapati ibunya telah gantung diri karena merasa kehilangan anaknya. Tak cukup disitu saja penderitaannya berakhir, setelah beberapa hari kematian ibu kandungnya, Mariam kini dipaksa ayahnya untuk menikah dengan seorang laki-laki dari Kabul, yaitu Rasheed seorang pengusaha sepatu yang umurnya 40 tahunan.

Di rumah suaminya, selama satu tahun pertama Mariam mendapat perhatian cukup baik dari Rasheed. Namun setelah Mariam keguguran, Rasheed mulai menyiksa Mariam secara fisik. Dan kekejaman Rasheed mulai menjadi-jadi kala Mariam selama 7 kali kehamilan, maka 7 kali keguguran pula.

Konflik selanjutnya pun segera muncul. Tetangga satu blok rumahnya terkena rudal Soviet, sehingga semua penghuni rumah itu tewas, kecuali anak gadisnya yang bernama Laila. Laila kemudian dirawat oleh Mariam di rumah Rasheed. Dengan dalih ingin melindungi, Rasheed kemudian menikahi Laila. Perseteruan antara Mariam dan Laila pun mulai tumbuh dan makin menyengit dari hari ke hari. Keduanya saling melemparkan pandangan sinis ketika bertemu. Mariam merasa, Laila telah merebut suaminya, walaupun pada kenyataannya Rasheed sering menyakitinya. Di sisi lain, Rasheed tentu lebih menyayangi Laila, karena ia lebih cantik dan lebih muda tentunya. Dan kecintaan Rasheed kepada Laila makin bertambah ketika Laila mulai mengandung anaknya.

Laila pun melahirkan anak perempuan cantik, Aziza. Namun bagi Rasheed, itu adalah suatu aib. Maka sejak saat itulah Rasheed mulai memperlakukan Laila sama seperti memperlakukan Mariam. Menyiksa dan mencari-cari kesalahannya. Namun kondisi yang bertolak belakang dengan suasana hati Rasheed mulai merekah. Aziza justru menjadi perekat kasih sayang diantara Mariam dan Laila. Aziza seakan memiliki dua ibu yang sangat mencintainya. Mariam dan Laila. Sungguh bagaikan ibu dan anak yang tidak bisa dipisahkan. Hingga pada suatu hari mereka merencanakan untuk lari dari rumah, keluar dari penyiksaan-penyiksaan Rasheed. Namun sayang, mereka tertangkap oleh aparat dan mengembalikannya kepada Rasheed.

Karena peristiwa percobaan lari itu, Laila dan Mariam mendapat hukuman paling sadis yang pernah dilakukan Rasheed. Yang lebih parah tentu Mariam. Konflik kemudian memuncak, saat keuangan Rasheed morat-marit gara-gara toko sepatunya kebakaran. Hal ini memaksa mereka untuk mengirim Aziza ke sebuah panti asuhan. Laila yang pada suatu kunjungannya menjenguk Aziza di panti asuhan, ternyata dipertemukan kembali dengan cinta lamanya yang disangkanya telah mati, Tariq.

Dan Tariq adalah orang yang tepat bagi Laila untuk mengadu tentang kehidupannya yang mengenaskan. Kedekatan dua cinta lama ini membuat Rasheed geram, hingga pada suatu malam Rasheed menyiksa Laila habis-habisan, bahkan hampir membunuhnya, jika saja Mariam tidak lebih dahulu menghampiri Rasheed, dan mendaratkan sekop ke wajahnya. Rasheed tewas. Hilang sudah sumber penderitaan Mariam dan Laila. Sungguh mudah jika mereka berdua ingin lari dan hidup bahagia. Tapi apa yang mereka lakukan selanjutnya? Di episode inilah, penulis mengakhiri semua cerita ini dengan sangat elegan.

Sekali lagi, salut untuk penulis yang telah mengetengahkan melodrama yang sangat apik, dan benar-benar mampu menyentuh sisi sensitif pembacanya. Kita tunggu saja, jika benar nantinya novel ini akan muncul pula di bioskop-bioskop, bahkan masuk pada jajaran film-film Hollywood. (insansains)

Written by Insan

27 Oktober 2008 at 4:31 pm

Ditulis dalam Buku

Ditandai dengan , , ,

Orang Terakhir

with 7 comments

Di satu bulan terakhir ini, sudah 5 undangan bersarang di meja kerja saya. Undangan pernikahan tepatnya yang saya maksud. Terakhir kali, saya datang ke walimah-an teman saya yang bernama Basar Saeful Muluk, di Cililin. Sebuah resepsi yang sederhana namun sangat memberi kesan bagi saya. Bukan hanya hari itu saya mesti pulang pergi Jakara-Bandung-Cimahi-Cililin, bertemu teman-teman lama, dan tentunya peristiwa terguyurnya Afina dengan segelas bandrek susu. Panas tentunya bandrek susu tersebut. :D Ah.. tapi yang jelas ada kesan yang sangat dalam di acara resepsi tersebut yang sungguh tidak bisa saya ungkapkan.

Nah, kemarin (Minggu, 26 Oktober 2008) ada sebuah peristiwa menghadiri walimah-an yang sangat memberi kesan juga bagi saya.

Aduuh.. San.. kapan sih ada peristiwa yang biasa-biasa aja di mata kamu?
Semuanya kok tetap memberi kesan.

Hehehe… Life is Beautiful bukan?

Jadi ceritanya begini…
Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

27 Oktober 2008 at 7:22 am

Manusia mengawini Robot

with 7 comments

[postingan ini sudah pernah dipublikasikan di Forum Sains dan mengalami pengeditan]

Tahun kemarin (2007) sempet nyari artikel-artikel tentang robot untuk mengisi presentasi tentang perkembangan teknologi robot. Saya bener-bener kaget, pas baca di website LIFESCIENCE (seperti artikel ini) disana dikatakan bahwa salah seorang mahasiswa Netherlands University bernama David Levy melakukan riset tentang prediksi hubungan manusia dan robot. Dia mengatakan, bahwa pada tahun 2050, manusia bakalan menikahi robot.

“My forecast is that around 2050, the state of Massachusetts will be the first jurisdiction to legalize marriages with robots,” (David Levy)

WHATS ? ? ? ?

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

26 Oktober 2008 at 3:18 pm

Ditulis dalam Teknologi

Ditandai dengan , , ,

Mengontrol Perangkat Elektronik melalui Pikiran

with one comment

[postingan ini sudah pernah dipublikasikan di Forum Sains dan mengalami pengeditan]

Sejak tahun 1970, beberapa ilmuwan telah mulai mengkaji bagaimana otak manusia bisa mengontrol device (peralatan) elektronik. Huh.. dan tidak sia-sia juga hasilnya, buktinya teknologi itu sekarang sudah dinamakan dengan Brain Computer Interface (BCI) atau yang lain menamakannya Direct Neural Interface atau Brain-Machine Interface.

Otak sejatinya ketika sedang bekerja akan secara kontinyu mengirimkan sinyal. Nah.. sinyal inilah yang kemudian akan diterjemahkan kedalam sinyal-sinyal listrik yang kemudian akan diteruskan ke sebuah chip microcontroller yang bisa digunakan untuk mengontrol peralatan dari luar. Aplikasi teknologi ini tentu akan banyak sekali, mulai dari automatisasi, security, medis, komputer, gadget, dan lain sebagainya. Salah satu contohnya, bagi orang yang cacat hampir semua fisiknya, dan hanya pikirannya saja yang mampu bekerja, bisa dibantu menggunakan alat ini, baik itu untuk menjalankan kursi rodanya, menyalakan televisi, komputer, dan lain sebagainya. Bahkan seandainya pun tidak bisa berbicara, dengan teknologi ini saya rasa bisa dibuatkan alatnya, toh teknologi text to speech sudah ada, jadi bukan lagi hambatan untuk mengubah sinyal digital ke dalam text kemudian diubah lagi menjadi suara.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

25 Oktober 2008 at 2:49 pm

NarSis Pict (Part 2)

with 10 comments

Dimension : 593 x 777 px with low Resolution

Written by Insan

25 Oktober 2008 at 2:12 pm

Ditulis dalam Foto

Ditandai dengan , ,

Syukur diatas Syukur di hari Jumat

with 3 comments

Engkau menghadirkan Jum’at sebagai hari teristimewa. Maka aku pun berusaha menspesialkannya. Kubuka lembaran nafasku dengan menyebut asma-Mu. Kubasahi lisanku membaca surat cintaMu. Ku berharap Engkau sekarang menoleh kepadaku.

Ku keramasi rambutku, ku bersihkan sekujur tubuhku. Ku semprotkan wangi-wangian ke tubuh. Pakaian terbaik yang kumiliki pun aku kenakan di Jumat ini. Kadang baju taqwa bersetelan jas, kadang baju taqwa putih, atau kadang kemeja batik lengan pendek. Ku potong juga kuku-kuku panjangku. Semua itu aku lakukan untuk mendapatkan perhatian-Mu, duhai Rabb.

Ku sisir dan ku minyaki pula rambutku yang mulai menipis. Tak sedikit pun kubiarkan rambut kasar tumbuh dibagian atas bibir. Kupelihara rambut yang melingkar dari kedua ujung bibir turun ke bawah hingga keduanya bertemu dan lebat di dagu. Tak pernah panjang menjuntai, tapi meliuk ke dagu bagian dalam. Tak kucukur habis karena akan membuatnya kasar. Sekali lagi aku berharap, Engkau menoleh kepadaku sekali saja karena telah menjalankan sunnah rosulMu.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

24 Oktober 2008 at 5:48 pm

Ditulis dalam Renungan

Ditandai dengan ,

Perpisahan (lagi)

with 10 comments

To : *******-san (insan sains, red)

Hereby, I give u your book.

“Life is beautiful”, but I found it more beautiful outside *** (your paradise, red)

I know the decision to get out from here sooner is hard,

but i’ll never regret 4 what I’ve choosen.

Thanks for d book

Nice to know u, pal.

Ganbatte!!!

Many thanks,

** (your friend, red)

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

23 Oktober 2008 at 12:03 pm

Ditulis dalam Personal

Ditandai dengan ,