. : : I N S A N – S A I N S : : .

INSAN perindu IHSAN : : Mencari hikmah di telaga SAINS

Aku dan Tempat Nafkahku (Part IV – Tamat)

with 17 comments

Agak berat bagiku untuk meneruskan kisah suka dan dukaku dengan tempat nafkahku ini. Nyaris kuputuskan tak akan menyambung cerita ini lagi. Cukup pada part III saja berakhir. Namun nampaknya suasana hatiku tergerak untuk meneruskannya setelah dua hari kemarin seorang sahabat jauh-jauh datang dari rumahnya menggunakan sepeda motor menuju kontrakanku yang sederhana di sebelah selatan Jakarta ini. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk menumpah ruahkan seluruh uneg-uneg tentang diri dan pekerjaannya.

Duhai sahabat, ijinkan aku menjadikan dialog kita malam itu menjadi pelajaran bagi yang ingin menggali hikmah, menjadi penerang bagi yang berada dalam gelap gulita, memberi sekepal semangat bagi yang kehabisan bensin penggerak. Mudah-mudahan Allah ridha ya kawan!

* * *

Langit malam kala itu hitam bercampur biru tua. Dan makin indah karena beberapa bintang tersipu-sipu malu antara ingin menampakkan diri atau larut dalam kemegahan langit malam. Allah dan bintang-bintang itu menjadi saksi kehadiranmu di gubuk sederhanaku. Tanpa banyak basa-basi, kau duduk bersila di ruangan yang hanya ada engkau dan aku. Tak sempat tikar tergelar. Nampaknya ada urusan yang bagimu sangat penting.

“San.. aku sebenarnya cukup nyaman dengan tempat kerjaku sekarang. Tapi salarynya itu loh yang menurutku kurang sesuai dengan pekerjaanku”, keluhmu membuka percakapan. Manusiawi, tapi jujur…. saat itu aku tak punya kalimat untuk membesarkan hatimu. Aku hanya bisa menatap matamu dalam, dan memposisikan diri sebagai pendengar dan sahabat yang baik. Ingin ku sela dengan menyuguhkan segelas air putih sekedarnya. Sayang, saat itu air minum di kontrakan benar-benar habis. Maafkan tuan rumah yang tidak memuliakan tamu ini, kawan.

Kau pun lanjut bercerita tentang betapa hidup keluargamu yang masih serba kekurangan. Tak lupa kau pun menggambarkan betapa pahitnya pengalaman-pengalaman bekerjamu yang selama ini pernah kau alami. Dimarah-marah, dimaki, dimusuhi karena menolak berbohong, dan belasan keluhan lainnya. Keluhanmu itu akhirnya bermuara pada satu hal. Gaji yang tidak sesuai menurut hitung-hitunganmu. Aku terus memperhatikan tiap keluh lisanmu yang sambil memutar-mutar handphone canggihmu dengan kedua tangan diantara lipatan sila kakimu. Ku lirik handhoneku, dan coba membandingkan. Bah.. punyaku jadul banget ya kawan!

Lisanmu mulai kehabisan kata. Gurat beban diwajahmu mulai terurai. Itulah saatnya aku gantian bersuara, “Kalau boleh tahu. Memang berapa jumlah gaji yang kamu terima?” tanya ku polos. “Satu juta lima puluh ribu rupiah” jawabmu lirih sambil memain-mainkan, membolak-balikkan kunci motormu. Kapan aku memiliki kendaaran ya kawan? khayalku dalam benak.

Jumlah yang bagiku bukan jumlah uang yang kecil. Tapi mengapa matamu mulai membasah? Apakah jawaban itu seperih irisan cabe yang mengiritasi mata? Menyayat hatimu? Kau mungkin beranggapan, kaulah makhluk paling malang di ruangan itu. Bahkan mungkin di dunia ini.

“Kawan..!” panggilku lembut sambil mengharap kau menengadahkan pandangan, membalas tatapanku. Berhasil. Kau pun menoleh dan menatap lekat wajahku. Bibir kusimpulkan, memberimu sedikit senyum. Bukan senyum menertawakan kemalanganmu kawan, tapi senyum menebar ketegaran. Bukankah jika setiap masalah dihadapi dengan senyuman, maka akan terasa lebih mudah? Itulah yang ingin aku sampaikan dari senyumanku itu. Namun wajahmu nampaknya masih tak bergeming, muram.

“Menurutmu antara pekerjaanmu dan pekerjaanku mana yang bakal menuai gaji yang lebih besar!” tanyaku yang tentunya sudah tahu jawabannya. “Tentu pekerjaanmu, yang banyak menguras otak”. jawabmu sambil malu-malu.

“Coba tebak gaji yang aku dapatkan perbulan!” lanjutku

Kau pun geleng-geleng kepala. “Gak tahu…!”

“Tebak saja…! salah wajar..!”

Kemudian kau pun menyebutkan jumlah yang seyogyanya berkali-kali lipat dari yang aku dapatkan. Dengan senyum aku menjawab mantap, “Itu untuk ukuran perusahaan bonafite. Gajiku di perusahaan ini alhamdulillah satu koma dua”. Alhamdulillah, karena sekecil apapun rizqi (menurut kita), itulah yang diperuntukkan untuk kita, dan wajib kita syukuri.

Kau pun kaget bukan kepalang mendengar ucapanku itu. Tanganmu berhenti memainkan sesuatu. Handphone dan kunci motor kau geletakkan di lantai. Tatapanmu berubah menjadi tatapan penasaran. Tanganmu kau buat saling menggenggam. Badanmu condong ke depan. Bukan salah telingamu, tapi kau butuh kalimat penjelas tentunya.

Ya.. aku yang sudah tujuh tahun bekerja, baru tahun ini aku mendapatkan gaji satu juta dua ratus ribu. Sedangkan kau yang belum setahun ini sudah mendapatkan satu koma lima puluh ribu. Dengan pekerjaan yang teramat jauh berbeda untuk dibandingkan. Seperti yang bisa kau hitung kawan, aku memulai gajiku dari 600 ribu rupiah.

Jika kau pikir ingin membahagiakan orang tuamu. Ingin agar mereka mencicipi buah peras keringatmu. Begitu pula diriku. Tapi coba kau bayangkan bagaimana aku membuat orangtuaku bahagia dengan gajiku yang segitu?

Bila aku berpikir sama denganmu, membahagiakan orang tua hanya dengan harta. Maka tentulah Allah mengkhususkan bakti buat orang tua hanya untuk orang-orang kaya. Kawan.. bukan dengan harta kau membahagiakan keduanya. Melihat anaknya bahagia dan menjadi orang bermanfaat sudah membuat mereka bahagia bukan kepalang. Tahu kah kau betapa bahagianya ibu dan bapak ketika mengetahui anaknya yang semula dimusuhi preman dan pemabuk di lingkungannya, tiba-tiba menjadi anak yang mengajari ngaji dan shalat pemabuk itu? Cukuplah kebahagian mereka itu melihat anaknya shaleh bukan main. Melihatnya menjadi manusia rahmatan lil alamin.

Aku amat mengerti sekali perasaanmu kawan. Karena aku pernah mengalaminya sendiri. Kamu mungkin lebih beruntung dariku. Aku anak perantauan. Dengan uang yang aku dapat aku harus membagi-bagi untuk berbagai pos keperluan. Terlebih membayar kontrakan rumah yang bukan uang yang sedikit. apalagi ini Jakarta kawan. Kau mungkin belum bisa membayangkan karena belum mengalami. Aku terseok-seok hidup di Jakarta ini. Tapi aku tak ingin orang lain mengetahui dari muramnya wajahku. Senyumlah yang akan aku berikan pada dunia.

Untuk menutupi kekurangan hidupku, pernah aku berjualan burger. Kadang-kadang jualan buku. Namun aku tak melihat dan tak ingin menengok pintu keluar untuk lari dari pekerjaan yang mungkin menurutmu tak sepadan dengan tugasmu. Aku yakin Allah tidak salah menempatkan dan mempertemukan manusia dengan tempat nafkahnya. Yang harus manusia cari adalah hikmah. Karena dengan hikmah, kita memiliki tiket untuk menuju kepada keridha-an-Nya.

Tiga kawan seperjuanganku telah lebih dahulu mengundurkan diri. Eko Setyo Wibowo si manusia segala tahu mengundurkan diri dan kini menjadi seorang guru sekalian kuliah lagi. Livan Afriyanto si jenius ganteng pun mengundurkan diri, dan kini ia telah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di sebuah produsen susu, Radi Kurniadi si aburizal bakrie jr. mengundurkan diri, ia kini akhirnya menjadi teknisi di sebuah Bank swasta. Mungkin mereka berpikir sepertimu, jenuh dengan gaji yang biasa, capek dengan hidup yang serba tak memuaskan keinginan hati dan mata, ingin mencari kehidupan pekerjaan yang luar biasa tak terkira. Luar biasa bonafite, luar bisa gede gajinya, dan luar biasa enteng kerjanya. Manusiawi. Tak perlu kita mencari tahu mana yang benar antara sikap bertahan dengan menjadi pegawai kutu loncat. Sebab hidup itu adalah pilihan.

Namun satu hal yang aku ingat dan aku yakini,

“Keraslah terhadap diri sendiri, maka dunia akan lunak kepadamu. Sedangkan lunak terhadap diri sendiri, akan membuat dunia keras kepadamu”.

Aku menyadari, aku tidak boleh menyerah di tengah jalan. Tidak boleh menyerah karena keadaan. Padahal bisa saja aku menerima tawaran pekerjaan yang memberi gaji berlipat-lipat. Dalam dollar lagi. Tapi jika aku ambil kesempatan itu, aku takut tergolong menjadi manusia materialis. Memandang sesuatu hanya jika mempunyai manfaat untuk diri. Tidak.. sekali-kali aku tidak ingin menjadi manusia pamrih seperti itu. Bukankah akan lebih indah seperti kita melihat hubungan antara lebah dan sang bunga? Lebah dengan rendah hati tak pernah memantahkan ranting bunga yang dihinggapinya. Sang bunga pun dengan rela melepaskan putik sarinya. Menunggu ranumnya bebuahan. Sang lebah pun membalasnya dengan madu yang menambah hidup semakin berwarna. Itulah azzam-ku.

Kawan…! Jangan kau melihatku dari luar. Kau berkata, aku hebat karena bisa kuliah lagi. Kau berkata, aku hebat bisa membuat warnet. Kau berkata, aku hebat punya dua buah notebook dan satu PC. Kau pun melihat rak-rak bukuku penuh dan berkata, aku hebat bisa membeli buku-buku sebegitu banyaknya. Kawan.. itu adalah tampilan luar diriku. Kenapa kau tidak menyelami dalamnya. Pernahkah kau berpikir bagaimana dengan gaji anak perantauan yang rata-rata 800 ribu selama 7 tahun di kota metropolitan bisa memiliki beberapa nikmat tersebut? Padahal nyaris aku tidak memiliki tabungan. Pernahkah kau berpikir ke arah sana kawan?

Dari daftar tersebut mungkin ada yang perlu aku tambahkan, di saat tetanggaku mengeluhkan tentang bayaran SPP anaknya yang tertunggak, tak segan-segan aku uangkan kekayaanku yang segitu-gitunya. Di saat aku pulang, aku serahkan apa yang aku punya pada orang tuaku, walaupun mereka lebih sering menolaknya. Hitunglah berapa pula uang yang aku habiskan untuk percobaan-percobaanku, yang nyatanya banyak gagalnya. Cukuplah. Tak terlalu penting untuk disebutkan.

Kawan… hari ini ingin aku bisikkan kepadamu salah satu rahasia hidup ini. Catat baik-baik ini kawan. Simpan dalam memory yang mudah kau buka kembali. Bahwa rezeki itu sudah diatur. Dan bahwa hitungan rezeki itu bukanlah hitung-hitungan matematis. Jika kau hitung, satu hari mendapat seribu, maka sepuluh hari bisa mendapat sepuluh ribu. Maka kau salah. Rezeki tidak akan bertambah sekeras apapun kau mengejarnya, dan tidak akan berkurang semalas apapun kau menantinya. Karena Dia telah menentukan, dan karena kita hanya punya satu kewajian untuk berusaha menjemputnya.

Jika kau pintar, silahkan hitung seluruh biaya dan kekayaanku yang kau sebutkan tadi. Kemudian bandingkan dengan hitung-hitungan rezekiku yang menurutmu harus secara matematis itu. Kau kalah kawan. Hitung-hitungan Allah lebih berkuasa. Dan kau harus yakin kawan. Jika kita telah berusaha, maka Allah berjanji akan menolong hamba-hambanya, dan dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tak usah kau tertawakan mimpi tukang bakso untuk pergi menjalankan haji, karena Allah tak pernah ingkar janji.

Dari dulu aku berusaha mencari peluang agar bisa sekolah lagi. Akhirnya ketemulah dengan sebuah sekolah gratis. Walaupun aku harus pulang pergi cukup jauh setelah kerja seharian. Dari ujung ke ujung Jakarta. Capek. Namun dititik jenuh itulah, rasa iba atasan muncul dan memberikanku peluang untuk mengambil kuliah di salah satu universitas swasta dan membayar penuh seluruh biayanya.

Rezeki itu Allah yang mengaturnya kawan. Kita hanya berusaha menjemputnya bila ia tiba.

Rumah orang tuaku dekat dengan lapangan terbang. Sejak kecil aku selalu berkhayal ingin berada di dalam burung besi itu, sekaliiii saja. Namun apa yang Allah berikan? Bukan hanya sekali. Sampai tulisan ini dibuat, lebih dari 50 kali. Keliling Indonesia. Jika kau pikir aku harus mengumpulkan uang, maka berapa tahun aku bisa melakukannya. Mencicipi makanan berbagai daerah. Jalan-jalan ke tempat-tempat unik? Padahal jika kau pikir, tentulah posisi pekerjaanku tak memungkinkan untuk bisa keliling Indonesia. [sujud syukurku untuk-Mu ya Rabb]

Sekali lagi, hitungan Rezeki itu bukanlah hitung-hitungan matematis kawan. Tapi tentu kau harus berusaha untuk menjemputnya.

Kawan…! Jangan takut miskin, jika engkau memiliki Allah yang Maha Kaya. Jangan takut kebutuhanmu tak terpenuhi karena engkau memiliki Allah yang Maha Pemberi Rizki. Jangan takut terdzalimi, karena engkau memiliki Allah yang Maha Adil dan Maha Penolong. Kehilangan seperti apakah yang bakal engkau rasakan, bila engkau telah menemukan Allah [zat yang memiliki segalanya] di hatimu?

Kawan…..! Sahur sudah mengajarkan kepada kita tentang keberkahan. Makan banyak, maupun makan sedikit. Siangnya pasti lapar kembali. Sedikit maupun banyak, sama-sama cukup membuat perut menjadi lapar. Itulah yang dinamakan dengan keberkahan. Tak penting seberapa banyak yang kau hasilkan, yang lebih penting adalah seberapa berkah harta yang kau miliki tersebut. Bukankah dalam setiap doa, selalu kau panjatkan “… wabarakatan fi rizqi…” Kau meminta Rizki yang berkah, bukan rizki yang banyak.

Kau jangan terlalu memiliki dan dimiliki dunia. Telah banyak hartaku yang ditenggelamkan banjir. Apakah aku kemudian bersedih karena kehilangannya? Untuk apa? Toh semua itu tidak merasa aku miliki. Usahaku selama ini tak mampu untuk mendapatkannya. Allahlah yang memberikannya dan hanya Allahlah yang memilikinya. Wajar jika Ia ingin mengambilnya kapanpun dan dengan cara apapun yang Ia sukai.

Adapun pesan terakhirku mengenai pekerjaanmu. Ingatlah akan rosulmu. Pernahkah beliau berlaku layaknya penguasa? Tidur dikasur empuk, makan makanan lezat bertelekan emas, mau apa-apa tinggal perintah pelayan. Jangankan bersikap seperti penguasa, merasa diri sebagai orang penting saja, bukan tabiat beliau. Justru beliau berbeda 180 derajat. Beliau mengganggap dirinya sebagai pelayan. Ya.. pelayan ummat. Stewardship. Pelayanan yang sungguh-sungguh.

Tidakkah kau merasa terhormat dengan mencontoh teladan, nabimu? Tidakkah kau merasa bangga melakukan apa yang ia lakukan? Dimanakah jiwamu itu? Dimanakah jiwa yang bangga karena telah memberikan pelayanan? Dimanakah jiwa yang bahagia telah memberikan pelayanan? Dimanakah jiwa itu kawan? Sudah hilangkah kebanggaanmu terhadap manusia terbaik pilihan Allah? Lalu mengapa kamu menolak memberikan pelayanan yang terbaik disaat jasadnya ditakdirkan hadiri disana? Mengapa kamu merasa jijik dengan kata-kata “pelayan” dan “melayani”? Siapakah yang terbaik antara dirimu dengan Rosulullah?

Kawan…! Berikanlah pelayanan yang terbaik sekalipun engkau adalah sesosok tukang sampah. Berikanlah pelayanan terbaik layaknya engkau adalah seorang pemimpin negara melayani rakyatnya. Jangan pernah ragu dengan pertolongan Allah. Dia akan menjadikan sesuatu itu indah, jika saatnya tiba. Berhentilah mengeluh. Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. Dia menghadirkanmu di tempat kerjamu saat ini bukan tanpa alasan. Berikanlah yang terbaik, dan biarlah Allah yang mengatur rezekimu. Berikanlah yang terbaik, dan biar dunia menyaksikan perbuatanmu wahai khairu ummah, umat terbaik.

Deras. Air matamu sudah tak bisa kau bendung. Bibirmu kelu. Kau rangkul diriku. Ah.. kau basahi juga kelopak mataku, disaat aku ingin berusaha memasukkan lagi air mataku yang setetes lagi ingin keluar. Panas sekali rasanya pelupuk mata ini. Dekapan itu mulai mengencang. Dan kau pun mulai segukan.

“Keraslah terhadap diri sendiri, maka dunia akan lunak kepadamu. Sedangkan lunak terhadap diri sendiri, akan membuat dunia keras kepadamu”.

Kawan…! hapuslah air matamu. Perjuangan kita masih panjang. Jalan dakwah ini masih terbentang di depan. Jangan kau gandrung dengan dunia. Berbahagialah. Dan bersyukurlah untuk rezeki yang Allah cukupkan untukmu. Seandainya pun Allah mentakdirkanmu dalam keadaan miskin, maka berbahagialah, karena Rosul pernah berdoa, “Ya Allah, semoga hidupku dan matiku dalam keadaan miskin. Semoga aku nanti dikumpulkan bersama orang-orang yang miskin, bukan bersama orang-orang yang kaya” (shahih, HR. At-Tirmidzi). Tidakkah engkau rindu dikumpulkan bersama Rosulullah di tendanya?

Jika kau bertanya, apakah aku akan selamanya di tempat nafkahku saat ini? Jawabannya tentu tidak. Ini adalah terminal pembelajaranku. Belajar menggali ilmu, belajar menuai hikmah, belajar mengumpulkan mozaik-mozaik pengalaman hidup. Cita-citaku masih menggantung tinggi di sana. Perjalananku masih panjang. Aku tidak akan mengundurkan diri sebagaimana orang-orang mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi aku akan mengundurkan diri dengan bangga jika aku sudah memberikan sumbangsih agar perusahaan ini lebih baik.

Tujuh tahun sudah aku rasakan pasang surut perusahaan ini. Aku cukup bangga menemaninya. Dari mulai sebuah perusahaan kampungan menjadi perusahaan modern yang memiliki standar kosmetik international. Dari mulai pintu reyot sampai pintu otomatis dengan finger print. Dari mulai komputer hanya dua ‘ekor’, hingga ratusan. Dari cabang yang asalnya hanya satu, sekarang sudah tersebar di mana-mana (hampir seluruh Indonesia) bahkan Malayasia dan Qatar. Dari mulai komputer dummy hingga dipoles jadi komputer canggih. Dari mulai banyak dikerjakan dengan tangan, hingga otomatisasi dan komputerisasi. Pengalaman yang benar-benar bisa meneteskan air mata karena haru. Mengingat perjuangan yang ditempuh tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Aku ingin keluar saat perusahaan ada di puncaknya. Cukup bagiku kesenangan bisa ikut mengantarkan sampai puncak. Tanpa mau ikut bergembira dengan kesenangan merayakan keberhasilan telah berada di puncak. Bagiku pelayananku berakhir ketika kejayaan sudah ada ditangan. Dan seorang pelayan tak layak untuk bersenang-senang di rumah tuannya. Cukup kesenangannya di rumah sebenarnya, kampung akhirat.

* * *

[Ucapan terima kasih yang tak terhingga untuk bapak Subakat yang dengan sabar dan rendah hati membimbing insan dari nol hingga bisa seperti sekarang ini].

Ya Rabb, terimalah amal-amalanku selama berada di perusahaan ini.
Ya Rabb.. cukupkah amalku ini sebagai ongkos untuk bertemu Engkau di surga kelak?

Jiwaku kembali akan melanjutkan perjalanan, mengarungi samudera kehidupan. Mengikuti panggilan pulang dari sang pemilik kehidupan. Di ujung sanalah pemberhentianku. Menuju kemuliaan hidup atau karam sebagai syahid yang dirindu. Wahai ombak, tunggulah aku akan melewatimu. Wahai badai, tunggulah aku akan bertahan dari terpaanmu. Adakah yang mau menemani perjalanan panjangku? [Pertanyaan mengerikan yang mudah-mudahan tidak ada yang menjawab]

-The End-

Written by Insan

17 September 2008 pada 7:15 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , ,

17 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Salam
    hiks..hiks..jangan kau taruh dunia di hatimu tapi di tanganmu hingga jika kau merasa kehilangan atau kekurangan bukanlah suatu sesalan karena materi hakikatnya adalah titipan belaka.
    rezeki lebih enak hitung2annya pakai kalkulasi Sang Khalik, klo pake kalkulator kita yang ada malah bisa tak menimbulkan kesyukuran. Semangat!!! tak ada yang sia-sia jika semua diniatkan karena ibadah, bukan berarti ngoyo juga seeh tapi yang ada disyukuri sembari ikhtiar.Yang penting berkah. Amin
    Sang Penggenggam nafas akan selalu menemanimu Bro, dan doa sahabat2mu juga akan menyertaimu. Amin selalu.
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ salam

    Thanks buat doamu yang nyediain ruang buat gw. Thank you so much sist. Mudah-mudahan dirimu juga senantiasa ditunjukkan pilihan terbaik dalam hidupmu. amin

    nenyok

    17 September 2008 at 10:56 am

  2. Hidup adalah proses … dan kita adalah khalifah, jika sudah cukup bekal berlayarlah, dan pulanglah jika rindu dengan saya. karena saya akan selalu menunggu mulai dari layar itu terkembang hingga kembali.

    *melambaikan tangan*
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Makasih De…!

    Di tanah manapun, di laut manapun, di langit manapun, saya insyaAllah akan ingat pada tulisan-tulisanmu yang ibarat embun yang menyejukkan dada. Tentu saya akan rindu dan akan kembali melabuhkan rindu sebelum berlabuh di penghujung kehidupan.

    Rindu

    17 September 2008 at 2:13 pm

  3. *terharu..
    hikss.hikss..spechless san..yan9 aku rasa air mata ini membasahi pipiQ,maaf tanpa bisa berkata2 apa,saluut untuk perjuan9an dirimu,terimakasih sangad karna telah mem
    berikan pelajaran y9 sangad berhar9a untuk ku..makasiihhh pisan yakh..
    9apailah mimpimu dan 9en99amlah hidupmu..
    doa daku sahabat[mayamu] selalu bersamamu,dan aku selalu merindukan setiap postin9an mu…:)
    .;*;*;.
    [-_-]
    >’]['<
    Aq BERHARAp....
    ALLAH kan menja9am
    mu...
    Tak hanya membuatmu bAiK,
    TetaPi suPaya en9kaU
    menDapaT se9aLa yan9
    TERBAIK....[amiin]
    ceman9aaaaaadddd…!!!

    sreekkk maaf meler ne idun9nya[sambil n9elap idun9][abis insan da bikin daku menan9is,untun9 nda kejilat bisa batal puasanya[canda bro piss:) heheheheh]

    san..gonna miss u forever [waach..harusnya di postin9an "perpisahan neeh,biarin dech [00T] heheh]

    san,

    duucchh man99ilin insan mulu neeh..:)
    daku menemani dlm doa sajah yakh?dlm setiap doa y9 kupanjatkan..
    just remember bahwa insan pernah punya temen[maya]y9 nyebelin”wi3nd”namanya..:)
    c’u insansains…:)
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Ini komen terpanjang nih. saya juga jadi spechless bacanya. Makacih ya Wi3nd.

    wi3nd

    17 September 2008 at 2:27 pm

  4. hiks…hiks…saya terharu dan amat sangat saluttt dengang perjuangan antum,..
    saya ingin belajar banyak dari antum ttg bagaimana menghadapi dan hidup di dunia yg sementara dan hanya sekejap mata ini…
    trim’s…postingannya bikin saya smangat lg dan ngingetin bahwa “sesuatu itu pasti ada hikmahnya..!”

    btw,saya punya banyak pertanyaan ttg rizky dll mudah2 pas chatting saya bisa bertanya langsung…

    “SmaNgattt…SmaNgattt…SmaNgattt…!! ^_^
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Cemangat…!!

    insyaAllah kalo ada waktu dan ada umur

    izna

    17 September 2008 at 3:31 pm

  5. :)

    Nice, Subhanallah…
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ [melanjutkan dzikirnya]
    wal hamdulillah, wa laa ilaha illahu wa Allahu Akbar.

    sekarang temen samping mejanya dindun lagi

    17 September 2008 at 8:22 pm

  6. Keren Abiz. Subhanallah.
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Untunglah kerennya sudah abis. Tinggal sisa-sisanya…. :D

    Wim Permana

    17 September 2008 at 10:12 pm

  7. salut…

    Semoga Alloh menjaga keistiqomahan kita

    amin…
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ amin

    Andri jatnika TP 27

    19 September 2008 at 2:08 pm

  8. Subhanallah… Tulisan yg sungguh bagus dan ‘ngena’ di hati…
    Betapa bijaknya engkau memandang hidup dan pekerjaanmu.. *jadi bertanya pada diri sendiri..* pengalaman hidupmu yg msh seperempat abad udah begitu banyak,, sedangkan saya… hiks.. hampir menitikkan air mata, masih bermanja-manja pada org tua (sudah waktunya untuk melepaskan diri untuk belajar mandiri),, tak ada apa2-nya dibandingkan dgmu.. duh, sepertinya musti banyak belajar nih.. terutama dari seorang sahabat seperti Insan. ;)
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Tulisan itu menjadi sempurna, karena ada yang membaca. Trima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan ini.

    sweetstrawberry

    21 September 2008 at 12:45 pm

  9. Subhannallah..tak terasa air mata ini menetes membaca kalimat demi kalimat.. sebelumnya hanya ingin mencari kisah sukses ttg ibu Nurhayati Subakat..lalu terpampanglah blog ini di halaman google. memang hidup penuh dengan misteri Illahi..bersyukur bisa membaca tulisan ini..mudah2an ini awal dari pertalian silaturahmi yang erat..:)
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ amin. salam kenal

    Pradipta K

    21 September 2008 at 5:21 pm

  10. Subhanallah…that’s my Insan_sains!
    I’m very proud of u
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ And i’m very happy to have a best friends like, Danish’s mom (mba Rina)

    Mama Danish

    22 September 2008 at 8:47 pm

  11. benar-benar jalan yang panjang………..

    two thumb for u…

    selama ini ga pernah tahu kehidupan lo, sans.
    tapi gw salut, lo emang patut diacungi dua jempol eh empat jempol *gw pinjem jempol temen sebelah gw*

    pokoke ma’nyos…………….*maaf ya pak Bondan, tag-nya ai pake, hehehe….*

    salut,salut,salut,salut,salut,salut,salut,
    salut,salut,salut,salut,salut,salut,salut,..
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ssssssstttttttt.. Diem-diem aja yah

    vakta

    26 September 2008 at 7:32 pm

  12. Alhamdulillah, aku menemukan blog ini… Pas pada saat posisi hatiku bimbang… Persis seperti teman Anda… Terima Kasih atas pencerahannya.. Semoga menjadi berkah…
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Alhamdulillah. Semoga keberkahan harta dan nafas selalu Allah karuniakan untuk mba

    Nitta

    7 Oktober 2008 at 4:45 pm

  13. Sebuah kisah indah buah dari perjuangan yang hebat.
    Mohon ijin membaca dan sdkt mencoba belajar mas.
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Silahkan…

    tan3ª

    13 Oktober 2008 at 1:26 am

  14. assalamu’alaikum…
    salam kenal…

    mohon izin baca tulisan2 nya yach mas,,,
    sebenernya sih bukan kunjungan pertama,tapi comment pertama yang aq berikan…he

    jujur…saat pertama kali baca aq langsung ‘jatuh hati’ pada tulisan2 mas insan

    kapan ya..aq bisa menulis spt itu…baik bahasanya….idenya….subhanallah dech…
    sangat susah untuk memulainya apalagi mencari ide

    makasih yach atas tulisan2nya yang tlh membukakan pikiranku n memberikan pencerahan bg hidupku
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ wa alaikum salam wr. wb.

    salam kenal juga

    Tak suka memberikan komentar yach?
    Terima kasih atas komentar pertamanya yang begitu “menggoda” selanjutnya terserah Anda. hehehe.. iklan banget yach…!

    Untuk bisa menulis, bisa bermula dari sering membaca, kemudian memberikan komentar, kemudian menulis walaupun seuprit. Jangan takut untuk dicemooh dan dikoreksi saat pertama-tama memulai, saya juga dulu begitu. Yang penting mah kita mau terus belajar.

    Jadi silahkan mulai saat ini juga. Karena kalo dinanti-nanti, pikiran dan niat kita akan bertambah berat untuk memulainya. Masalah ide. Sampai detik ini, saya juga sering kesusahan untuk mencari ide tulisan. Kuncinya asal mau buka mata, buka telinga, buka hati atas setiap kejadian atau apapun yang kita baca. Tentulah ide itu bisa datang dengan sendirinya, dan mendorong niat kita untuk menuliskannya.

    Sekali lagi, mulailah sekarang juga atau tidak pernah sama sekali.

    Salam.

    ima

    13 Oktober 2008 at 6:37 pm

  15. assalam…

    diriku bukannya tak suka memberikan komentar..
    tapi..bingung harus berkata apa setelah membaca blognya mas insan….
    saking terpananya….hehehehe…:)

    Makasih atas sarannya…

    beberapa hari terakhir ini aq mulai mencoba menulis..

    ternyata asyik yah….sampai2 lupa waktu ..hohoho…

    do’akan aq yach..mudah2an nggak cuma di awal2 ajah..tapinya berlangsung terus…

    salam
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Wa alaikum salam

    Ooo.. sudah mulai menulis toh?! Bagus…! Bagus..!

    Asal jangan lupa sama kerjaan aja yach…!! :D InsyaAllah, saling mendoakan saja yah. Memang yang paling susah itu menjadi konsistensi menulisnya itu. Apalagi kalau suasana hati lagi gak mood buat nulis.

    Btw… ini teh, Ima yang dari SMAKBo itu bukan? Hehehe.. sotoy…! :D Lanjutkan ya menulisnya…

    ima

    16 Oktober 2008 at 6:05 pm

  16. lho…kok tau seh….

    tau darimana mas…..

    Padahal kan aq pengen supaya identitasku nggak ketauan…
    *(biar jadi pengagum rahasia gitu…..hehehehehe…)

    ok…sip….
    ceManga……..th…….!!!!
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Ternyata betul yach.

    Untuk lebih memastikan, barusan mencari tahu sama om Google. Dan ternyata benar sekaleh. Hehehe… Makasih yach, sudah mau bulak-balik ke halaman ini dan ngasih komentar.

    Keep writing. Nanti kalo blognya launching, kasih tahu saya yach. Atau jangan-jangan sudah punya?

    ima

    18 Oktober 2008 at 1:53 pm

  17. Assalamu’alaikum, zemangat pagi ^_^
    kata-kata yg paling uni suka dr cerita di atas yg ‘hitungan Rezeki itu bukanlah hitung-hitungan matematis kawan’
    yups setuju sekali, terkadang yang sedikit itu yang berkah ^_^
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Wa alaikum salam wr. wb.
    Zemangat pagi..
    Kalo begitu, mari kita cari rezeki yang berkah. Bukan begitu kan Uni, setiap doa-doa kita yang terpanjat?

    uni

    17 Desember 2008 at 8:21 am


Tinggalkan Balasan