Archive for Agustus 2008
Lord of Ramadhan
Masih dalam rangkaian kegembiraan menyambut datangnya bulan agung, bulan yang penuh berkah. Kemarin hunting-hunting nasyid yang bertemakan ramadhan. Cukup banyak yang didapat. Tentunya dengan bantuan om Google juga bang Youtube, akhirnya beberapa nasyid berkesempatan nge-gelontor masuk ke hardisknya Afina. Postingan kali ini sekedar menyambut kegembiraan Ramadhan lewat sebuah nasyid yang dibawakan oleh artis asing yang bernama CoTU. CoTU merupakan sebuah kependekan dari Companion of True Unity.
Nasyid ini mirip dengan nasyidnya Snada yang menggabungkan beberapa bahasa dalam liriknya. Apa yach judulnya? saya lupa. Yang jelas nasyid yang berjudul Lord of Ramadhan ini mengandung empat bahasa, Inggris, Turki, German dan Arab. Kalau telinga saya sih, enak mendengarkannya. Plus diselipin rap, yang kurang lebih lirik rapnya sebagai berikut :
Ramazan’ın efendisi
Bana ışığı gösterdin
İlk günden son güne kadar
Cennetin sanki o kadar yakında ki
Varlığını hissedebiliyorum
Gündüzümde ve gecemde
Geleceği dolduruyorum
Bu kadar doğru ve gerçek sözlerle
Jangan minta diartiin yah? Coz saya mah gak ngerti.
Yang paling easy hearing itu adalah reff-nya. Apalagi ketika disuarakan oleh personal yang menggunakan baju merah (maaf, gak kenal, jadi gak tahu namanya siapa ^_^). Suaranya merdu dan halus.
Ramadhan Rauhul Rahman
Ramadhan Shahrul Qur’an
Ramadhan Faidul Mannan
Futihat fiihil jiinan
Jika ada yang ingin mendownload, silahkan klik disini atau silahkan buka halaman Free Downloads. Nasyid ini sudah dalam format mp4. Atau kalau mau hunting-hunting di youtube juga boleh. Silahkan saja. Selamat berjuang untuk memaksimalkan ibadah shaum Ramadhan. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diundang Allah dalam jamuan bulan agung, dan dimasukan-Nya ke dalam golongan orang-orang yang mendapat ampunan dan rahman serta rahimnya.
Marhaban Yaa.. Ramadhan…!
Kawan…!!
Aura Ramadhan sudah mulai terasa. Penuh harap, kita menyambut kedatangannya. Bulan dimana kefitrahan manusia bisa diraih, seluruh dosa bisa dilebur, pahala berhamburan, karunia berlipat-lipat. Pintu taubat terbuka lebar, setan-setan dibelenggu. Sudah saatnya kita kembali kawan. Kembali menjadi manusia. Ya.. manusia yang membuat malaikat-malaikat iri, hingga setan pun dikutuk dan diusir karena keiriannya yang terungkap.
Lalu apakah yang membuat kita -manusia- lebih mulia dari malaikat? Karena kita memiliki akal dan nafsu. Akal dan nafsu itulah yang membuat manusia yang mampu menguasainya, memiliki derajat yang lebih mulia dari para malaikat. Ramadhan inilah bulan yang Allah hidangkan untuk kita, agar kita mampu memimpin kembali akal dan nafsu tersebut. Bukan akal dan nafsu yang memimpin kita. Betapa Allah mencintai kita kawan. Sujud kami hanyalah untuk-Mu duhai Rabb yang telah menghadirkan bulan agung ini.
Tapi apakah umur kita mampu mencapai Ramadhan yang tinggal sehasta ini? Lalu bila pun kita bertemu dengan Ramadhan, apakah kita pun mampu memaksimalkannya? Tidakkah rosulullah pernah bersabda, “Begitu banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapat lapar dan haus semata“, naudzubillahi mindzalik. Mudah-mudahan, shaum kita tidaklah demikian.
Duh.. kayak menggurui jadinya ya!. Udah ah..!
Ini adalah komitmen saya pribadi untuk ramadhan 1429 H kali ini. Mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kekuatan untuk menggapainya. Dan mudah-mudahan bisa menginspirasi bagi yang membaca sehingga kita bisa ber-fastabiqul khairat di Ramadhan ini
Visi Ramadhan 1429 H :
Lunturkan dosa, hilaf dan keangkuhan diri
Lejitkan Potensi untuk meraih Prestasi
Lekatkan hati dengan Rabbul Izzati
Songsong Keluarga Muslim yang Islami
Demi tercipta Generasi Rabbani
Aku dan Tempat Nafkahku (Part III)
Aku hampir tak punya otak waras. Benar-benar peristiwa yang memalukan. Hanya gara-gara miscommunication. Untunglah di saat seperti itu, bukan aku sendirian yang mengalaminya, melainkan bersama ke empat rekanku. Suasana yang seharusnya menegangkan itu kini telah berubah menjadi tawa nyinyir yang kadang merangsang gelak tawa bersama. Hampir saja kami berpikir untuk tidak pulang ke rumah, jika tidak berjiwa besar untuk menerima rasa malu tersebut. Ah… akhirnya dengan tekad yang sudah membulat utuh, aku putuskan harus pulang dulu, biarlah orang lain akan berkata apa. Aku akan tetap menunggu satu minggu keberangkatanku ke Jakarta dengan sabar.
* * *
Hari keberangkatan yang dijanjikan pun tiba. Dengan menggunakan kereta api kami berlima plus pemilik toko komputer itu, sebutlah bapak Ateng akhirnya tiba di stasiun Gambir, Jakarta. Cukup lama aku tercenung dan menerawang ingin menggambarkan suasana saat itu kepadamu kawan. Sayang, nihil. Memoriku ini tak cukup kuat untuk mengingatnya. Bahkan aku pun tak mampu mengingat saat pertama kaliku bertemu dengan seseorang yang cukup tua bernama bapak Subakat, yang datang menjemput kami menggunakan mobil. Dan belakangan aku ketahui, bahwa beliaulah pemilik tempatku magang (PT. Pusaka Tradisi Ibu). Ah.. penyakitku yang satu ini ternyata tambah akut, “susah ingat dan mudah lupa”. Tapi biarlah, ini sudah jatah memori yang Tuhan karuniakan kepadaku.
Sepanjang perjalanan dari stasiun Gambir itu pikiranku melayang mengagumi betapa Jakarta adalah surganya gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan besar dengan mobil berseliweran di mana-mana. SUGOI! (baca : Great! dalam bahasa Jepang). Namun tiba-tiba byaaaar… Lamunanku terbangun kala mobil yang mengantar kami melewati jalanan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil dan hanya terlihat rumah-rumah biasa. Tak beda dengan pemandangan di kampungku. Mataku ku kucek-kucek. Memastikan aku tidak sedang bermimpi. Apakah aku masih berada di Jakarta?
Tiiiittt.. Tit.. Tiiiiiiiitttt... Mobil itu membunyikan klakson di depan sebuah pagar hitam setinggi 3-meteran. Tak lama seseorang dibalik pagar hitam itupun membukakan. Mobil pun masuk ke dalam. Aku yang setengah penasaran itu berbisik halus kepada temanku Radi si aburizal backrie jr. yang ada disebelahku, “bukannya tadi kita mau diajak ke kantornya? kok kita diajak ke rumahnya?”. Belum sempat backrie jr. itu berekspresi apalagi menjawab, bapak Subakat yang ada di jok depan menoleh kebelakang dan angkat bicara, “Nah.. ini dia kantor kita.”. Kantor?? tanyaku dalam hati sambil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena kaget. Ku lihat seksama dan memastikan sekeliling tempat yang dikatakan “kantor” ini. Ah… ternyata pikiranku terlalu melayang tinggi… Jakarta dan tempatku magang tidak seperti dugaanku sebelumnya kawan.
Matahari hari itu mulai merangkak menuju peraduan. Langit seperti kanvas yang diguyur cat hitam. Kami semua turun dari mobil. Bapak Subakat mengantar kami memasuki kantor yang sudah gelap itu, menyalakan lampu dan memperkenalkan ruangan yang akan kami gunakan. Ku perhatikan dengan seksama seluruh isi ruangan tersebut. Tak lebih dari 4 komputer saja yang ada. Dua digunakan sebagai komputer administrasi, dan dua lagi tak jelas penggunaannya. Sebentar… sebentar… aku pun memincingkan mata ke sebelah pojok ruangan. Ku lihat sekitar 5 buah CPU yang tertumpuk dan masih teronggok begitu saja. Dari jauh dapat kupastikan, ke-5 CPU tersebut bukanlah CPU terbaru, paling banter Pentium III. Loh tahu darimana? Tentu dari bentuk casingnya. Aku pernah melihat bentuk CPU yang serupa di gudang sekolah. Disana tertumpuk CPU-CPU lama yang kebanyakan tidak bisa digunakan lagi. Diam-diam aku menertawakan dalam hati ke-5 CPU itu. Sayangnya yang aku tertawakan justru disediakan untukku salah satunya. Nasiiiib.. nasiiiib.
Acara perkenalan dengan tempat kerja kami selesai. Saatnya kami harus tidur untuk istirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan ini. Kami memang dijanjikan mendapat mess. Tapi siapa menyangka, ternyata kami harus melalui malam pertama di langit Jakarta di sebuah mushala kantor. Sebuah mushala yang tidak tertutup. Tidak mempunyai pintu. Satu sisi dibiarkan terbuka, tanpa dinding. Tapi lumayanlah untuk merebahkan badan setelah shalat jama’ maghrib dan isya itu. Malam itu pula, kami menjadi pendonor darah secara terpaksa. Nyamuk-nyamuk itu menyambut kami dengan girangnya bak menemukan makanan yang masih segar. Tak lupa udara Jakarta yang walaupun malam tapi masih terasa gerahnya. Aku pun yang notabene cepat sekali untuk mengeluarkan keringat, tak kuasa lagi membendung peluh keringat yang keluar deras bercucuran. Terutama keningku. Ah.. tapi toh, akhirnya aku bisa tertidur juga.
* * *
Ipung
| Judul | : Ipung |
| Penulis | : Prie GS |
| Penerbit | : Republika |
| Tahun | : 2008 |
| Genre | : Novel Remaja |
| Tebal | : 194 Halaman |
| ISBN | : - |
Tunggu…. biarkan bibir ini mengembangkan senyumnya. Masih terpatri dengan pesona cerita yang dibangun budayawan nyentrik -mas Prie- dalam novel remaja ini. Satu kata, “excelent”, benar-benar luar biasa, ada rasa haru, lucu, bangga, bahagia, komplit deh. Awalnya beranggapan novel ini mirip cerita-cerita remaja ABG yang klasik dan penuh dengan roman percintaan. Ah.. ternyata salah…! Memang bumbu percintaan itu ada di novel ini, tapi bukan hal ini yang hendak digali oleh sang penulis piawai ini. Melainkan semangat hidup yang penuh dengan pesan-pesan moral ditambah sedikit humor segar.
Kepiawaian dan keluasan pengalaman penulis pun jelas terlihat. Konflik-konflik yang dibangunnya tidak membosankan, dan apik tertata. Cukup banyak novel yang miskin konflik sehingga terasa hambar, namun ada juga yang terlalu banyak konflik sehingga terkesan berbelit-belit dan tidak tentu arah. Novel ini bisa dibilang benar-benar pas. Mantap. Tak hanya itu, jarang ada novel yang mampu menjaga dan mengembangkan karakter-karakter pemainnya. Novel berjudul Ipung ini benar-benar memperhatikan hal tersebut. Pembaca akan melihat dengan jelas karakter-karakter lain selain Ipung dan Paulin, seperti : Pak Bakri, Marjikun, Pak Bahrun dan Surtini benar-benar dijaga dengan baik.
Dalam segi bahasa, jelas tidak perlu diragukan lagi kualitas novel ini. Seperti hal-nya tulisan-tulisan Mas Prie yang lain, semuanya serba sederhana, tapi menyelipkan makna yang dalam. Tak salah bila kemudian di halaman awal dihadirkan prolog dari penulis yang namanya melejit dengan novel “Ayat-Ayat Cinta”nya, Habiburrahman El-Shirazy. Dalam sisi design cover pun, cukup menarik dan menggambarkan isi cerita novelnya.
Tokoh utama itu sendiri bernama Ipung, seorang anak kampung. Dan mungkin sedikit kampungan. Yang terbawa nasib baik untuk sekolah di sekolah favorite, SMA Budi Luhur, bahkan lebih dari itu, anak ceking dan terkesan acak-acakan ini masuk pula ke dalam kelas unggulan. Ya.. kelas unggulan, bukan kelas biasa. Sebuah gengsi tersendiri tentunya, bukan hanya bagi anak kampung seperti Ipung ini. Tapi benarkah prestasi ini didapat hanya karena nasib baiknya?
Karakter Ipung mampu menyihir pembacanya untuk diam-diam mengidolakan kehadiran remaja seperti ini. Apakah remaja seperti Ipung benar-benar ada? Seorang remaja yang dekat dan berbaur dengan kemiskinan. Seorang remaja yang bentuk fisiknya tidak terlalu menarik. Badan yang kurus ceking, wajah yang tidak cukup untuk dibilang ganteng, namun salah bila dibilang jelek, pas-pas-an lah. Tapi ternyata dibalik kemiskinan dan segala kekurangannya itu, Ipung tidak pernah merasa rendah diri, tidak pernah merasa minder untuk mengakuinya. Baginya tak ada beda, kaya atau miskin, ganteng atau jelek, yang ada adalah dia harus berjuang memberikan yang terbaik.
Aura inilah yang ternyata memberikan Ipung kekuatan untuk menyihir karakter-karakter lain dalam cerita ini untuk tidak mungkin bila tidak mengagumi Ipung. Tak terkecuali, gadis primadona SMA Budi Luhur tersebut, Paulin. Entah setan apa yang merasuki Paulin, hingga gadis secantik dia, punya orang tua kaya raya, mau-maunya mengejar si kerempeng Ipung habis-habisan. Tak hanya gadis primadona yang berhasil Ipung sihir, guru tergalak di SMA itu pun luluh dengan kecerdikan dan sikap polos nan tenang Ipung. Nama Ipung justru makin meroket, mengalahkan popularitas nama sekolah unggulan itu sendiri. Ipung masuk majalah remaja populer, lebih dari itu Ipung diterima menjadi reporter majalah MM. Dari kegiatan sebagai reporter inilah Ipung akhirnya bisa membiayai sekolahnya sendiri, bahkan mengirimkan wesel untuk orang tuanya.
Dan juga tak usah heran, bila akhirnya beberapa temannya ada yang merasa iri. Bahkan menghasut teman-teman yang lainnya untuk mempermalukan Ipung di depan umum. Tapi sekali lagi pembaca akan dibuat tersentak dan mungkin akan menitikkan air mata bangga ketika sang Ipung di tengah pengadilan massal, dipermalukan sejadi-jadinya di depan 200 atau 300-an siswa lainnya, diantara rasa marah, malu dan sedih, Ipung akhirnya mampu menguasai keadaan dan membuat lawan yang membencinya menjadi sayang, dan membuat kawan yang mengaguminya makin mencintai keberadaannya. Berikut kutipan kata-kata pembelaannya :
Sedekah untuk Penipu via SMS

Fyiuh….!!!
Alhamdulillah… Hampir saja saya tertipu dengan penipuan lewat SMS (Short Message Service) dari seseorang yang tidak saya kenal. Dua hari ini memang agak sedikit aneh bagi saya. Saat touring ke Ciwidey hari Sabtu, 24 Agustus 2008 kemarin, ada beberapa orang baru yang ingin berkenalan melalui handphone. Ketika ditanya, dapat dari mana nomor handphone saya, orang itu menjawab, cuman nomor acak saja sekalian pengen nambah teman baru. Agak sedikit aneh pikir saya, tapi saya tetap harus netral, dan menjawab beberapa pertanyaannya ringan.
Hari ini, Senin 26 Agustus 2008, teman baru yang lain muncul. Nomor-nya benar-benar asing bagi handphone saya. Ucapan perkenalannya berbunyi seperti ini :
—————————————
Anda menerima 5 Pesan
Mailbox dari 085691687242.
sejak pukul 07:47 26/08/2008.
U/ mendengarkan silahkan tekan:
*123*3*5*085691687242*23456#
lalu OK/yes. Gratis.
—————————————
From:+6285691687268
Sent:Today 11:40 am
Benar-benar aneh. Biasanya kalo pesan dari operator selular selalu datang dari nama operator ataupun nomor layanannya. Sedangkan ini…? Nomor handphone pribadi..! Arrrgh.. tapi rasa penasaran saya memang tidak bisa dibendung. Akhirnya, saya pun masuk perangkapnya..! Dan sorenya saya mendapatkan pesan :
—————————————
Nominal yang Anda transfer
melewati total menerima
transfer per hari utk nomor
085691687242. Silahkan coba
nominal lain atau ulangi kembali
besok.
—————————————
From : 151
Sent : Today 03:47 pm
HAH??
Mendapat report SMS ini membuat saya merasa jadi orang bodoh (padahal iya). Tapi untunglah, sisa pulsa saya tinggal Rp. 3.000-an. Karena masih penasaran, akhirnya browsing-browsing di internet. Dan ternyata tidak sedikit pula orang-orang yang tertipu. Masyaallah…! Geram.. Kesel.. Pengen nimpuk… Akhirnya menelpon dua nomor sialan itu (085691687242 dan 085691687268). Tapi nihil, nomor yang satu tidak aktif dan nomor yang lainya, tidak mau diangkat. Pantang menyerah. Saya pencet lagi nomor telepon tersebut. Tak diangkat pula. Aaaah.. sekali lagi..! Dan si penipu itu masih tak mau beranjak mengangkat handphonenya.
Apa saya menyerah? Tidak. Saya lalu menghubungi teman yang dulu pernah punya pengalaman penipuan. Dapat informasi, katanya teman saya ini bisa mengetahui posisi realtime dari sebuah nomor handphone saja. Dengan wajah yang berbinar-binar saya menelpon teman ini, berharap bisa mengetahui nama dan lokasi si penipu tersebut. Wagh.. ternyata teman saya ini mengklarifikasi bahwa dia tidak melakukan hal seperti itu, walaupun pada dasarnya (secara teori) sangat memungkinkan untuk dilakukan, apalagi dia bekerja di perusahaan telekomunikasi.
Akhirnya, untuk melampiaskan kekesalan itu. Saya cuman bisa bersedekah Rp. 1 untuk si penipu itu dengan mengetikkan *123*3*5*085691687242*1#. Lumayanlah…! Walaupun kecil, tapi tetap sedekah…!! ^_^ Daripada melontarkan kata-kata umpatan yang berarti menunjukkan isi otak saya yang sebenarnya! Tidak ah…! tidak akan begitu…! Dan bonus bagi penipu itu, adalah nomor handphonenya terpampang di blog saya.
085691687268
085691687242
Silahkan bagi yang ingin bersedekah. Dia lagi kekurangan pulsa kali….!!! ^_^
Sumber bacaan :
http://www.mediakonsumen.com/Artikel2817.html
http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?action=printpage;topic=7303.0
http://blog.faniez.net/2007/05/27/sms-penipuan-lagi/
Pameran Pendidikan Jepang 2008

Sudah lama saya menantikan moment ini. Dari dulu pengen banget ikutan seminar dan pameran pendidikan, terutama dari Jepang, tapi selalu tidak bisa, karena kehabisan waktulah, karena bentroklah, dan karena-karena yang lainnya. Tapi akhirnya rasa penasaran itu bakalan sirna, coz ada good news dan kebetulan minggu ini saya benar-benar FREE….!!
Pokoknya hari Minggu tanggal 31 Agustus 2008 di JCC-Senayan. Yang punya waktu dan kesempatan ikutan yuk. Siapa tahu bisa ketemuan disana, insyaallah. Berikut bunyi beritanya:

JASSO
SURABAYA
Hari / Tanggal : Sabtu, 30 Agustus 2008
Jam : 10:00 -16:00
Tempat : Grand Ball Room Sheraton Hotel Surabaya
Jl.Embong Malang 25-31 Surabaya 60261
JAKARTA
Hari / Tanggal : Minggu , 31 Agustus 2008
Jam : 11:00 – 17:00
Tempat : Lower Lobby Jakarta Convention Center
Balai Sidang Jakarta Jl.Gatot Subroto Jakarta
( PAMERAN INI GRATIS , TERBUKA UNTUK UMUM )
Head First Design Pattern
| Judul | : Head First Design Pattern |
| Penulis | : Eric Freeman & Elizabeth Freeman |
| Penerbit | : O’REILLY |
| Tahun | : 2004 |
| Genre | : Pemprograman |
| Tebal | : 676 Halaman |
| ISBN | : 0596-007-124 |

Sebagai sebuah bahasa Object Oriented Programming yang sudah sangat mapan dan matang, tak heran bila kemudian menurut sebuah lembaga survei, menobatkan JAVA sebagai bahasa pemprograman yang paling banyak digunakan oleh para programmer di seluruh dunia karena ketangguhannya tersebut. Dengan segala keluwesannya, setiap aplikasi yang dibangun dalam bahasa Java dapat digunakan pada banyak flatform, mulai dari perangkat komputer, kamera digital, Personal Desktop Assistant, mobil, printer, games, ATM, smart card, peralatan medis, dan lain sebagainya.
Berbeda dengan bahasa pemprograman yang struktural, bahasa Object Oriented Programming bisa dikatakan lebih natural, dalam artian sesuai dengan cara alamiah kita berfikir. Walaupun demikian, tidak banyak lembaga-lembaga pendidikan yang menyiapkan peserta didiknya untuk memahami secara utuh bahasa Object Oriented Programming ini. Malah lebih sering kita menyaksikan, peserta didik justru harus dijejali dulu dengan bahasa pemprograman yang stuktural. Sehingga hal ini memberikan kesulitan yang cukup berarti ketika hendak beralih ke bahasa full Object Oriented Programming seperti Java ini. Imbasnya adalah, tidak banyak buku-buku dalam negeri yang mengupas tentang Object Oriented Programming ini secara menyeluruh dan benar-benar sesuai kaidah Object Oriented.
Kembali ke buku yang dibahas!
Dalam dunia Rekayasa Perangkat Lunak kita mengenal istilah flowchart untuk alur aplikasi pada pemprograman struktural, sedangkan untuk Object Oriented Programming dikenal istilah Pattern. Design pattern merupakan sebuah solusi terhadap masalah pemrograman umum yang sering dihadapi dan sering berulang terjadi dalam membangun sebuah software aplikasi. Design Pattern memberi tahu kita bagaimana mendesain sebuah class dan bagaimana membuat interaksi yang terjadi antar class sehingga class yang kita bangun bisa lebih elegan dan reusable (dapat dipakai berulang-ulang).
Pada dasarnya ada banyak sekali jenis pattern. Mulai dari pattern untuk arsitektur, creational, behavior, games pattern, bahkan pattern untuk server handal. Design Pattern memungkinkan programmer-programmer baik yang sudah mahir maupun yang masih awam dapat langsung menggunakan sebuah design tanpa harus mendesain dari awal. Dan di dalam buku ini, tentunya tidak mencakup semua pattern tersebut, hanya diambil beberapa pattern yang paling sering ditemui kemudian buku ini membahasnya secara mendetail namun dengan bahasa yang mudah difahami. Pattern-pattern yang dibahas diantaranya :
- Observer Pattern
- Decorator Pattern
- Factory Pattern
- Singleton Pattern
- Command Pattern
- Adapter and Facade Patterns
- Template Method Pattern
- Iterator and Composite Patterns
- State Pattern
- Proxy Pattern
- Compound Patterns
Buku Head First Design Pattern ini tergolong buku yang unik. Dalam buku ini dijelaskan pengetahuan-pengetahuan mendasar untuk membangun sebuah software aplikasi, tapi berbeda dengan buku-buku lain yang sejenis, buku ini lebih menarik karena disampaikan dalam bentuk cerita-cerita drama disertai dengan gambar-gambar yang menarik sehingga membuat kita tidak mudah jenuh, tapi justru sebaliknya lebih memudahkan pemahaman kita tentang sebuah konsep atau design pattern.
Tak hanya itu, dalam setiap ceritanya ada pula humor-humor segar yang disisipi. Pada halaman yang lain, pembaca pula akan disuguhi puzzle dan quiz untuk menguji seberapa banyak pembaca mampu memahami apa yang telah dijelaskan sebelumnya.
Overall, Head First Design Pattern ini sangat bagus untuk dijadikan buku pegangan untuk mendalami bahasa Java khususnya design pattern-nya. Belum ditemukan buku Design Pattern yang komplit, mendasar, dan menyenangkan seperti Head First Design Pattern ini. Pembaca akan diajak memahami seluk beluk Object Oriented Programming dan menjadikan kita mampu membuat kode yang lebih mapan, mudah ditelusuri, mudah dibaca dan dikembangkan, dan tentunya reusable. (insansains)
The Spirit of Pluralism
| Judul | : The Spirit of Pluralism;Menggali Nilai-Nilai Kehidupan, Mencapai Kearifan |
| Penulis | : Adi Ekopriyono |
| Penerbit | : Elex Media Komputindo |
| Tahun | : 2005 |
| Genre | : Sosial Budaya |
| Tebal | : 168 Halaman |
| ISBN | : 978-979-20-7673-8 |
.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita tengah hidup di tanah dimana berkumpul orang-orang dari berbagai suku, berbagai ras, berbagai bahasa, pun tak luput dari berbagai agama. Di tengah kehidupan yang serba plural ini, tentu kita masih mengharapkan kehidupan bermasyakat yang tetap harmonis. Tapi apakah kehidupan masyakat yang harmonis ini akan dapat terjadi bila masing-masing kita menganggap hanya dirinyalah satu-satunya kebenaran?
Buku ini bukan ingin mengajarkan tentang pluralisme –faham yang menganggap semua aliran kepercayaan adalah sama, bukan pula buku yang secara frontal menolak keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah menfatwakan keharaman pluralisme ini pada tanggal 29 Juni 2005 lalu. Bukan…! Sama sekali bukan mengarah ke sana. Akan tetapi isi buku ini lebih condong memaparkan sisi toleran dalam hal kemasyarakatan atau hubungan sosial yang seyogyanya bisa digali dan direalisasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk ini.
Buku karya Adi Ekopriyono ini berisi kumpulan essay-essay tentang nilai-nilai kemanusiaan (humanitas) yang sebagian di antaranya pernah dimuat di harian Suara Merdeka. Di dalam buku ini terdapat tiga puluh lima tulisannya yang dibagi ke dalam tiga bagian: Menemukan kebijaksanaan, Menggapai hati nurani, dan Menuju kedamaian jiwa. Buku ini banyak berbicara tentang kehidupan sosial di ranah Indonesia. Kadang berisi sindiran, kadang berisi penggalian makna sebuah peristiwa, kadang mengajak pembaca untuk bercermin diri.
Mengutip perkataannya seorang ulama muslim, “Ajaranku memang benar tapi mungkin ada salahnya. Dan ajaran orang lain salah, tapi mungkin ada benarnya.” Spirit inilah yang digali oleh penulis buku ini, dan dipaparkan secara menyejukkan di tengah mencuatnya konflik-konflik masyakarat yang selalu dikaitkan dengan agama dan berujung dengan diruncingkan menjadi konflik antar agama. Penulis mencoba menghidupkan kembali spirit toleran di tengah masyarakat yang plural. Dengan gaya bahasanya yang khas, mas Adi –panggilan akrab untuk si penulis– ini selalu menyisipkan ungkapan-ungkapan bahasa Jawa hampir dalam setiap tulisannya.
Overall, tulisan-tulisan dalam buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang merindukan terciptanya kehidupan masyakarat Indonesia yang harmonis di tengah segala pluralitasnya. (insansains)
Aa Gym dimata Insan Sains
Tulisan ini telah dimuat di www.pintunet.com (dengan sedikit revisi)
Astaghfirullah…… rabbal baraaya…
Astaghfirullah…… minal khathayaa… (2x)
Barang siapa… Allah tujuannya…
Niscaya dunia… akan melayaninya…
Namun siapa… dunia tujuannya…
Niscaya kan letih… dan pasti sengsara…
Diperbudak dunia… sampai akhir masa…
Entahlah berapa banyak orang yang mengenal syair diatas. Pun saya tak tahu berapa banyak orang yang tersentil dengan syair tersebut. Yang jelas saat menulis tulisan ini di malam yang sepi sambil mendengarkan nasyid tersebut tiba-tiba air mata saya berlinang, seakan-akan tersodorkan sebuah cermin yang memperlihatkan betapa wajah yang selama ini sibuk mengejar kebahagiaan, ternyata hanya memperpayah diri meraup kebahagiaan semu. Syair ini pula yang makin dimaknai makin menembus ke dasar hati terlebih mengorek-ngorek timbunan memori dimana sang penyair telah menorehkan sebuah kenangan manis bagi si penulis ini.
Rasa kehilangan seorang mubaligh kelahiran tahun 1962 ini mulai menyeruak tatkala berita pernikahannya yang kedua dipaparkan media. Semenjak itu ceramah-ceramah segar yang aplikatifnya itu seakan-akan terbenam ditelan kemarahan orang-orang yang berpendirian bahwa rumah tangga adalah singgasana yang boleh dan hanya boleh diduduki untuk seorang suami dan seorang istri, tidak lebih (selain anak). Ah.. tapi saya tidak ingin mengulas moment ini terlalu jauh. Terlalu nekad jika saya ngotot hendak mengulas hal yang masih belum mempunyai titik pijak yang sama ini, ada bermacam-macam orang, bermacam-macam latar belakang pendidikan, bermacam-macam karakter, dan tentunya bermacam-macam cara pandang pula. Jadi lebih netral bagi saya untuk mengulas tokoh ini sebatas pengalaman saya bersua dengan beliau, tidak lebih!
* * *
Restore Your Magnificence
Resensi ini telah dipublikasikan di www.wisata-buku.com
| udul | : Restore Your Magnificence; |
| Panduan Mengubah Hidup untuk Meraih Kembali Harga Diri | |
| Penulis | : Dr. Joe Rubino |
| Penerbit | : Elex Media Komputindo |
| Tahun | : 2004 |
| Genre | : Pengembangan Diri |
| Tebal | : 205 Halaman |
| ISBN | : 979-20-6019-7 |
.
Apakah harga diri itu? Harga diri adalah sebuah nilai yang menjadikan kita –manusia– mampu menjalani kehidupan sebagai makhluk sempurna dan mulia sebagaimana kodratnya ketika dilahirkan. Jika mengutip definisi harga diri dari seorang Psikoterapi terkenal, Nathaniel Branden, Ph.D., mengatakan “Harga diri adalah kecenderungan pengalaman diri sendiri sebagai orang yang mampu menghadapi tantangan-tantangan dasar kehidupan dan pantas mendapatkan kebahagiaan”.
Mereka yang memiliki harga diri yang tinggi adalah mereka yang mampu mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri, mereka mampu memberi manfaat bagi diri sendiri serta bagi orang lain. Sayangnya pengalaman-pengalaman buruk, masalah-masalah hidup, perkataan-perkataan negatif, kesalahfahaman, lambat laun mengikis harga diri tersebut dan menjatuhkan kita pada jurang kehinaan. Tak ayal banyak orang menjadi egois, memupuk kekayaan sekalipun memelaratkan orang lain, bekerja hanya sekedar mendapat gaji tanpa memberi sumbangsih, atau merasa diri sebagai orang kecil, tak pernah bisa bahagia, selalu merasa tersakiti, merasa tak pantas dicintai dan apalagi mencintai.
Sudah cukup! Semua orang memang memiliki masalah, tapi bukan berarti dengan masalah itu kita menjadi orang yang tidak bahagia apalagi sampai merendahkan harga diri kita. Di antara pembaca mungkin ada yang ingat dengan perkataan salah seorang ulama muda Indonesia, KH. Abdullah Gymnastiar yang mengatakan, “Bukan masalah itu yang menjadi masalah. Namun yang menjadi masalah adalah cara kita dalam menghadapi masalah tersebut”. Nah, buku ini merupakan penjabaran langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menghadapi setiap permasalahan hidup dan mengembalikan kembali harga diri kita sebagai manusia yang memiliki kemuliaan akhlaq.
Dr. Joe Rubino memaparkan dengan sangat terstruktur panduan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Ada tiga tahapan besar yang penulis buku ini sampaikan:
-
Menyelesaikan masalah masa lalu dan melihat sumber kemerosotan harga diri
-
Menentukan nilai-nilai yang bisa meningkatkan harga diri kita
-
Merancang visi dan tujuan masa depan untuk menjadi manusia yang terbaik
Dari bab ke bab pembaca diajak sang penulis untuk menerapkan langkah demi langkah memulai perjalanan kita menuju hidup yang bahagia dan bermanfaat bagi orang lain. Diakhir pembahasan tiap bab-nya selalu disisipkan latihan-latihan yang aplikatif sehingga memberi kesan buku ini bukan sekedar teoritis atau definitif semata.
Ada beberapa pembahasan yang sangat menarik dari buku ini dan selalu disinggung pada setiap bab-nya, yaitu tentang perbedaan fakta dan interpretasi. Dimana kadang-kadang kita menerima atau memberikan sebuah informasi yang dianggap sebagai sebuah fakta padahal telah menjadi pendapat sendiri (interpretasi). Kemampuan membedakan inilah yang kemudian diikuti dengan latihan pembentukan interpretasi positif yang dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Di samping itu, buku ini menyertakan pula contoh-contoh kasus pengambilan interpretasi yang salah, namun umum diambil seseorang hingga menggambarkan akibat negatif yang ditimbulkan. Lalu dengan bijak disuguhkan pula solusi jika seandainya orang dalam tiap kasus tersebut mampu membangun interpretasi positif, maka akhirnya dapat memberikan nilai dan tindakan yang berbeda dan menghasilkan hasil akhir yang lebih bermakna.
Satu lagi yang tidak ketinggalan, pembaca akan dibantu untuk menyusun visi hidup yang menjadi motor penggerak setiap gerak langkah kita. Kemudian dibantu pula untuk menyusun tujuan hidup yang akhirnya terjewantahkan dalam komitmen harian yang harus diterapkan. Benar-benar buku yang terstruktur dan cocok dijadikan panduan untuk membangun kembali citra diri kita. (insansains)





