Life Report
Hari Sabtu adalah hari dimana saya mesti mereview kembali pekerjaan selama satu pekan. Apa yang ingin dicapai, sampai dimana, apa kendalanya, dan bagaimana hasilnya? Sebuah rutinitas yang mengharuskan saya membuka catatan-catatan kerja. Laporan mingguan atau yang lebih dikenal dengan weekly report ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan di perusahaan mana pun.
Dalam kasus profesi saya, weekly report ini ibarat “palu pengadilan” yang siap men-judge apakah sesuatu itu layak atau tidak, atau mengatakan seseorang itu pantas dipromosikan atau justru sebaliknya, mengharuskan perusahaan memutus hubungan kerja dengan salah satu keluarga besarnya. Cukup berat menyusun kalimat dalam weekly report ini. Menjadi dilema bagi batin saya, karena kadang kala mesti berhubungan dengan kepentingan hidup orang lain.
Sekalipun pada intinya laporan saya berbicara tentang prosedur maupun personal yang out of track, bahasa dalam laporan tersebut selalu saya ramu sedemikian rupa. Sehingga terkesan netral, biasa-biasa, namun dengan tidak mengabaikan maksud yang hendak disampaikan pada pemilik perusahaan. Fyiuh, sebuah akhir pekan yang cukup menyita perhatian.
Sejenak saya membaca kembali weekly report yang hendak dikirim pekan ini. Saya melihat kembali surat tugas – surat tugas yang pekan kemarin berada di atas meja kerja. Sambil tersenyum saya berbicara sendiri, “Alhamdulillah hari ini tugas yang dibebankan pekan kemarin telah selesai”, dan tercatat dalam weekly report.
Hari ini tangan saya menulis weekly report untuk apa yang telah saya lakukan selama satu pekan, namun tanpa saya sadari tangan ini pula yang sedang menulis laporan kehidupan tentang amal apa yang telah saya lakukan. Bukan satu minggu, bukan satu hari, bukan pula satu jam, namun setiap saat, tangan ini mencatat segala apa yang saya lakukan. Laporan kehidupan ini berbicara gamblang tentang apa yang saya perbuat, bukan sekedar amal secara fisik, melainkan jauh ke dalam, menelusuk amal paling dasar di dalam hati. Inilah yang saya sebut Life Report.
Jika weekly report saya menilai sesuatu di luar diri saya, maka life report akan menilai diri saya secara utuh, tak terkurangi, tak melebihi, tak ada basa-basi, apa adanya sebagaimana asli. Hingga sang Pemberi Tugas tak segan-segan memberikan saya balasan atas apa yang saya perbuat sebagaimana yang tercatat dalam life report.
Masalah yang sekarang muncul adalah, ada catatan merah dalam life report saya. Anda mungkin tidak. Dengan segala kekhilafan saya, ada dosa dan maksiat yang tercatat jelas di life report tersebut. Baik tangan saya sadari melakukannya, atau entah diluar kesadaran. Sekali lagi, mungkin tidak demikian dengan Anda. Saya mungkin orang malang yang tinggal menunggu keputusan Pemilik Kehidupan. Surga tinggal impian, dan Neraka “pesangon” kemungkinan. Yang jelas, hari ini, detik ini, sang Pemilik Kehidupan masih memberikan jatah nafas dan memperpanjang kontrak hidup bagi saya. Sehingga saya hanya bisa mentafsir, bahwa ini adalah ampunan tersirat-Nya yang menjadi peluang bagi saya untuk menghapus catatan merah tersebut dengan memperbanyak catatan emas amal kebaikan.
Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Turmuzi, beliau berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih)
Selamat menyusun Life Report. Kita ingin balasan seperti apa? Jawabannya ada pada apa yang kita lakukan saat ini, tentu dengan ijin-Nya. (Insan Sains)
Jakarta, 30 Muharram 1431 H, 16 Januari 2010 M, 19:47 WIB
Jual Folding Bike Downtube 9FS (Complete ++)
Saya keluarin satu lagi dari kandang, sepeda lipat nge-jreng. Dengan harga pembelian US$ 399, sepeda ini termasuk paling top dikelasnya, bahkan dengan harga yang dipatok tersebut, sepeda lipat Downtube 9 Full Suspension ini bisa dikatakan “murah” untuk spesifikasi yang ruarrr biassa…
Posisi riding sangat nyaman, bisa disetting beberapa bagiannya sehingga bisa disesuaikan dengan gaya ride kita. Kabarnya Downtube 9FS ini banyak dicari oleh para penggila MTB. Dulu sempat bimbang ingin beli seli yang kokoh tapi ringan. Kebimbangan itu ditambah pula dengan budget yang masih terbatas.. xixixi
Pengennya spec tinggi, tapi kantong masih tipis. Dibanding Urbano 5.0 dan Oyama yang hampir sekelas dengan harga yang tak jauh beda, akhirnya terpilihlah Downtube 9FS.
Dan saya tidak menyesal memiliki DT 9FS ini. Bahkan serasa naikin Dahon Jetstream yang harganya 3-4 kalinya.
Efek bobbing memang tidak bisa lepas dari sepeda yang full suspension, termasuk pada Downtube 9FS ini, tapi setelah rearshock springnya disetel, ternyata efek bobbing tersebut bisa terkurangi. Sesuaikan dengan berat badan, itu intinya. Temen saya bahkan pernah ada yang XC pada Downtube 9FS ini. Dahsyat…!!
Dalam sisi perawatan dan penggantian part, boleh dibilang Downtube ini sepeda MTB 20″ dalam bentuk lipetan. Hampir semua parts sama dengan part sepeda MTB. Hub, Free hub, cassette, BB, Seatpost, headset, handlebar, stem, dan RD sepeda MTB.
Satu lagi kelebihannya, di Downtube 9FS sudah terpasang dudukan discbrake buat roda depan & belakang. Siapa tahu suatu saat tergoda untuk meng-upgrade rem nya.
Sekarang, saya ingin lepas lagi salah satu seli anggota keluarga ^_^ ini. Karena nampaknya seli ini sudah cukup gede buat punya tuan barunya… qeqeqe..
Sekarang waktu-nya jeprat-jepret..!!
Adapun untuk gambar part dan spesifikasinya adalah sebagai berikut :
- Batang bawah Alloy
- Rear disc tabs
- Ringan dan mudah melipat pedal.
- Alloy dan stainless frame dan batang quickreleases
- Machined rims sisi luar
- Carbon fiber tampak di shifter dan di diskrailleur
- Adjustable sudut faceplate dibatang yagn bisa dilepas
- 24H/ 28H spoked roda depan/ belakang lebih ringan
- 1,5″ ban depan, 1,75″ ban belakang
- 48T chainring dapat dilepas
- Jari-jari Stainless Steel
Sesuai judul, sepeda ini dijual “Complete ++”, artinya bukan cuman sepedanya doang yang mau dilepas, melainkan beserta accesories lainnya, yaitu :
Oia, satu lagi, sepeda lipat yang akan dijual ini masih mulus 99%. Baru beli akhir Desember 2009, dan baru dipake sekitar 20km, soalnya sering ditinggal luar kota. Sudah pula dipasang standar.
Dengan spesifikasi siap gowes diatas, Downtube 9FS ++ ini dilepas seharga : Rp. 5.000.000
Yang amat berminat dan kepengen banget silahkan contact :
E-mail : insansains (at) gmail (dot) com
HP : 0817 00 676 dua tiga
(Diutamakan yang belum punya sepeda, sehingga helm dan accesories lainnya bisa kepake)
– UPDATE 17 Januari 2010
SOLD… Sepeda telah memiliki tuan barunya, om Dedi. Thanks untuk semua yang sudah menghubungi dan mencoba menawar.. ^_^
[SOLD] Jual Dahon Cadenza Plus Bonus
Setelah melepas 3 koleksi Sepeda Lipat 20″, saatnya melepas sepeda lipat kesayangan….
Alasan jual : BU (Butuh Upgrade maksudnya
)
Sepeda lipat 26″, enak banget untuk gowes jarak jauh dengan tetap gak was-was kalau ditengah jalan gak kuat dan pengen naik angkot. ^_^ Sepeda ini sangat ringan untuk ukuran sepeda 26″. Bahkan diantara koleksi-koleksi sepeda lipat 20″ saya, Cadenza ini malah yang paling ringan.


Berikut gambar asli yang diambil September 2009
Brand : DAHON
Name : Cadenza
Type : Folding Bike
Condition : 2nd (95%)
Frame : Aluminium
Speeds: 16
Weight: 12.3 kg (27.1 lb)
Folding Time: 30 sec
Folded Size: 35 x 99 x 88 cm (13.7″ x 38.6″ x 34.3″)
FITUR
- Seatpost terintegrasi dengan mini-pump
- Frame MTB sehingga bisa dimodifikasi sesuai yang diinginkan
- Rasio crankset 11-32 sehingga meringankan gowesan
- Ketinggian stang dapat disesuaikan sehingga mengoptimalkan posisi bersepeda
- Ban Continental, cocok dijalan beraspal
- Hand Grip melebar diujung sehingga nyaman di telapak tangan (comfortable)
Berikut foto-foto yang diambil September 2009 :
BONUS :
- CatEye Wireless Cyclometer
- CatEye Front Lamp
- CatEye Rear Lamp
- Nice Bell
- Bottle Cage Alloy
Kekurangan :
- 3% Frame tergores karena pemakaian dan pelipatan
- Kabel rem terkelupas 1 cm
Dengan spesifikasi diatas, Cadenza dilepas seharga : Rp. 5.900.000
Yang amat berminat dan kepengen banget silahkan contact :
E-mail : insansains (at) gmail (dot) com
HP : 0817 00 676 dua tiga
FAQ
Q : Apakah harga bisa dinego?
A : Bisa, tapi jangan sadis
Q : Apakah bisa dikirim?
A : Tidak, diutamakan daerah Jakarta Selatan, dan diambil langsung
Q : Apakah bisa dicicil?
A : Bisa, untuk teman kantor atau tetangga saja.
Q : Dimana bisa dilihat dan dicoba sepedanya?
A : Rodalink Pesanggrahan, atau kantor Wardah di Jakarta Selatan
Q : Boleh nambah bonus helm gak?
A : Mungkin bisa, kalau saya sedang enak hati. Helm 2nd warna merah United.
—- UPDATE NEWS
Sepeda Lipat ini SUDAH TERJUAL.
Terima kasih yang sudah tanya-tanya dan nego harga lewat hp.
Jualan Dahon emang kayak jualan kacang goreng…
Menanti Pahlawan Kembali

Alhamdulillah, akhirnya kumpulan cerpen fiksi ilmiah-nya terbit juga. Dan cerpen berjudul “Menanti Pahlawan Kembali” terpilih jadi judul bukunya. InsyaAllah sedang menggarap novelnya. Kalau biasanya saya meresensi buku penulis lain, kali ini nyoba ngasih over-view cerpen sendiri.
Sebelumnya trims buat anak-anak ForSa (Forum Sains Indonesia) yang udah sharing ide-ide segarnya lewat postingan-postingan ilmiahnya, especially mimin dan momodnya (Larry & Ratna yang bentar lagi segera merit ^_^, Harry, Widy, Melnick, Ndar, etc). Lalu sahabat2 ex-pintunet yang gak bisa saya lupain sharing2-nya dan sudah ngajarin saya nulis (mba Apriel, mba Rina, mba Oline, mba Nisa, SUHU alias Alid, bang Jutawan, kang Darmawan, mas Eka, mas Ari, mas Chox, etc). Sahabat-sahabat blogger (Wi3nd, Rindu, Putri, Ari, Atik, Bunga, Al-Qifty, Nenyok, mas Hanifa, mas Ganjar, etc). Lalu sahabat2 di Daarut Tauhiid dan temen-temen kantor.
Cerpen ini saya buat dalam rasa bangga menjadi bagian dari negeri ini. Bukan hanya soal sumber daya alam kita yang melimpah dan menjadi incaran, namun di sisi lain negeri ini memiliki manusia-manusia yang cerdas. Anehnya, dua kelebihan tersebut belum bertemu pada satu titik potong, dan menemukan momentum sejarahnya. Bukan satu dua, generasi kita mencatat rekor prestasi dalam pertandingan tingkat internasional. Tapi lagi-lagi prestasi itu dibenam masalah-masalah lain negeri ini sehingga membuat kita serba kehilangan.
* * *
“You’re a great women, honey”, ucap Hans sambil mengusap keringat di kening istrinya. Menciumnya kemudian. Membelai rambut pirangnya serta. Nafas Lana masih tersenggal, namun ada sedikit lega merasuk, meski di ujung yang lain perih terasa. Setidaknya ia bahagia masih merasakan ciuman suami di keningnya. Ia selamat, dan mata birunya meng-isyaratkan syukur yang amat dalam. Pupilnya mengecil, menerawang syukur entah kemana. Yang jelas jatuh di wajah suaminya sambil menyungging senyum.
Kelegaan itu segera meredup. Bergulir menjadi ketegangan baru yang tak kalah hebat. Dulu, orang tua sangat bersyukur ketika melihat anaknya terlahir sempurna. Sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, dua mata berbinar, dan segala pesona lahir yang nampak tak ada cacat. Namun tidak demikian di jaman ini, dimana segala kesempurnaan baru di-judge bila hasil analisa GAR menyatakan bahwa gen bayi yang terlahir benar-benar memiliki nilai “raport” sempurna.
* * *
“Indonesia tak mungkin memberi kehidupan bagi kita”,
desak Hans ketika memaksa Purnama untuk mengubah keputusan.
“Seratus tahun Indonesia masih ada, tapi kita telah menjadi bangkai yang dilupakan dan sama sekali tak ada karya yang patut dikenang dan dibanggakan. Kita tetap hidup miskin, meski otak dan tenaga kita peras untuk menghiasi Indonesia.”
Keduanya terdiam sejenak.
“Indonesia terlalu kecil bagi otak secemerlang kau Pur. Di Swiss ini kau bisa menjadi dewa bagi para ilmuwan, tapi mengapa kau memilih menjadi budak di negeri yang tak bisa menjadi surga?”
Singkat jawab Purnama waktu itu, “Karena aku lahir di Indonesia”, sambil melangkah pergi meninggalkan Hans.
* * *
Kita dilahirkan di Indonesia, mengapa keringat kita harus tertumpah di tanah yang lain? Jika pahlawan itu mampu memberikan raganya untuk mempertahankan negeri, maka kita bisa memberikan ilmu kita untuk membangun negeri. “Kamu dihidupi… Aku menghidupi” Selamat membaca… ^_^ (Insan Sains)
Surabaya, 17 November 2009, 20:26
Rembulan, Pesona Seorang Mukmin
Semalam, bulan bulat sempurna. Sinarnya indah luar biasa, tak terhalang awan. Gelapnya malam yang dibalut pemadaman listrik di beberapa tempat di Jakarta, menambah sempurnanya gulita. Namun kegelapan itu benar-benar menambah pesona sang rembulan. Sangat kontras, dan makin memikat. Di waiting room sebelum bertolak ke Pekanbaru, saya sedikit berandai-andai.
Saya membayangkan, bila sayalah yang menjadi bulan (dan kamu yang jadi langitnya, ups.. kok malah ngelantur). Kita bayangkan, kitalah yang menjadi bulan. Dalam posisi sebagai bulan, kita tidak memiliki apapun untuk memercik cahaya yang bisa menerangi. Tidak sama sekali. Namun meski dipenuhi segala keterbatasan, bukan berarti kita ciptaan yang gelap mutlak, tanpa pesona. Karena ada sumber cahaya di dekat kita, yaitu matahari.
Namun cahaya matahari tidak seutuhnya langsung menjadikan kita purnama penuh pesona. Untuk menjadi purnama, kita mesti menyorong diri kita mendekati sumber cahaya. Pada posisi paling tepat. Hingga tiap sudut dan lengkung kita, terlihat utuh tak terbelah. Pada momentum seperti itulah, kita mampu menangkap sempurna cahaya matahari, dan memunculkan pesona ulung kita sebagai ciptaan yang bernama rembulan.
Maka begitu pula menjadi seorang muslim. Tak ubahnya dengan 6 milyard manusia yang berjalan di muka bumi. Yang menjadi pembeda adalah, seorang muslim memiliki “sumber cahaya”. Namun sumber cahaya itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak menyorong diri kita untuk menangkap cahayanya. Menyorong diri mendekati sumber cahaya membuat kita bukan lagi sebagai bulan melainkan rembulan, bukan lagi seorang muslim melainkan mukmin. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menyorong diri kita mendekati cahaya diatas cahaya tersebut?
Sebagaimana kita ketahui, berislam berarti berserah diri. Ketundukan. Jadi seorang mukmin bukanlah orang yang bertanya “saya ingin seperti apa?”. Tidak bertanya apa yang menjadi keinginannya. Tapi seorang mukmin, adalah manusia yang selalu bertanya “Allah menginginkan saya seperti apa?”. Karena memang Allahlah yang telah mendesain pribadi kita. Maka hanya dialah yang mengetahui fungsi kita sebagai apa.
Berbicara apa yang Allah inginkan bagi kita, masih merupakan sebuah konsep pribadi yang ideal. Pribadi diatas rata-rata yang sedikit sekali ruang inisiatif. Ini mungkin lebih cocok kita sebut sebagai malaikat yang berjalan di alam manusia. Realitasnya, kita memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja, mungkin telah paten melekat. Inilah yang bisa kita sebut, diri kita secara realitas. Membiarkan diri kita lebur dalam ruang realitas, tanpa mengukur standar idealitas, dipastikan menjadi orang yang paling merugi. Karena desain diri kita, jelas dimuati kekurangan-kekurangan fitrah, seperti sering tergesa-gesa, malas, ingin sesuatu yang instant, lalai, dan yang lainnya.
Maka berbicara bagaimana memunculkan pesona seorang mukmin, berarti berbicara tentang bagaimana menyorong diri kita untuk mempertemukan antara pribadi realitas kita dengan pribadi idealis yang telah dipetakan oleh sang Creator kita.
Pribadi realitas kita tentu bisa beragam. Dan penilaiannya kita kembalikan pada diri kita masing-masing. Yang perlu kita fahami adalah pribadi idealis seperti apa yang dapat memunculkan pesona kita sebagai seorang mukmin. Ada beberapa ayat dalam al-Quran, yang paling sederhana tentang konsep pribadi idealis ada pada surat An-Ashr yang tentu sudah kita hafal bersama.
Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasehati dalam kesabaran (QS. Al-Ashr : 1-3)
Allah menekankan pentingnya ayat-ayat ini dengan meletakkan sumpah pada perjalanan waktu. Para ahli tafsir sepakat, bahwa jika Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, itu berarti betapa pentingnya keberadaan makhluk tersebut. Ambil contoh, langit. Apa yang terjadi jika langit tidak ada? Demi bumi. Apa yang terjadi jika bumi tidak ada? Begitu pun dengan waktu. Apa yang terjadi jika waktu tidak ada? Maka merugilah mereka yang tidak memanfaatkan waktunya.
Menurut pada pemikir, waktu adalah sebuah konsep perbandingan yang diciptakan untuk membedakan peristiwa masa lalu dan masa sekarang. Perbedaan rentetan peristiwa dalam suatu kurun itu kita namakan dengan waktu. Jadi bagi seorang mukmin, waktu dapat diartikan sebagai batas masa memupuk amal yang membentang sejak kelahiran hingga kematiannya.
Ayat selanjutnya dari surat tersebut menyatakan persyaratan ideal seorang pribadi mukmin. Idealisme pertama bernama iman dan amal shalih. Kedua hal ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipecahkan. Iman yang dibangun dari dimensi akal dan berujung pada pertumbuhan keyakinan yang mendalam. Namun iman saja tidak cukup, mesti ada buah yang bisa dipetik. Buah itu bernama amal shaleh dalam bentuk gerak nyata. Saat akal, hati, dan raga telah menyatu, maka sampai disini kita bisa disebut pribadi ideal yang realistis.
Persyaratan ideal kedua yaitu saling mengingatkan dalam kebenaran. Dakwahlah ujung tombak kegemilangan ummat. Mencegah orang lain berbuat mungkar, dan mengajak orang lain mengerjakan yang ma’ruf. Maka ketika persyaratan ideal kedua ini dapat kita penuhi, kata Ibnu Qayyim kita telah menjadi pribadi sosial. Pribadi yang bermanfaat bukan hanya bagi keshalehan dirinya, melainkan pula bagi kemashalatan umat yang lain.
Persyaratan terakhir untuk memunculkan pesona kita sebagai seorang mukmin adalah menyangkut tentang bagaimana bertahan memunculkan pesona tersebut sampai akhir hayat. Hal ini terangkum dalam sebuah kata yang kita sebut Istiqomah. Dan satu-satunya perlengkapan untuk mencapai derajat istiqomah adalah kesabaran. Dan kesabaran tidak pernah bisa dilepaskan dari sebuah konsep yang kita sepakat menyebutnya dengan waktu.
Selamat menjadi rembulan. Menjadi mukmin “tebar pesona” (dalam pandangan positif). Saya yakin negeri ini akan kembali mempesona, dan menjadi “model sejarah”. Ada yang tahu kenapa? Jawabnya, karena ada engkau, aku, dan kita… (Insan Sains)
Pekanbaru 3 November 2009, 22:08 WIB
Bila Sisa Nafas Bisa Terhitung

Diantara seluruh sahabat saya, ada satu sahabat yang selalu spesial dimata saya. Belum lama saya mengenalnya, lebih kurang 1,5 tahun. Perkenalan ini menjadi luar biasa, setelah satu demi satu lembaran kehidupan dan sampul keluarganya menjadi novel hidup yang memberikan saya hikmah yang tidak bisa dibilang biasa.
“A, cobaan ini berat banget, nyaris bikin hilang akal. Doakan saya bisa lulus cumlaude” smsnya ketika dia sedang diuji dengan ujian paling berat saat Allah mengambil titipan yang dia (bahkan semua orang) anggap berharga. Namun, kemampuannya menyembuhkan diri sendiri setelah sehari sebelumnya nangis terisak bukan main, patut diacungi jempol.
Satu-satunya pelajaran hidup yang saya ambil darinya selama 1,5 tahun ini adalah “Tidak ada waktu lain selain bertasbih memuja Allah”. Di umurnya yang kepala dua, sahabat saya ini lebih mirip Rabi’ah abad 21. Bukan hanya terlahir dengan titipan wajah sempurna dari Allah, melainkan Allah telah menganugerahkan keluarga, status sosial, dan kecerdasan yang bukan biasa. Namun apa yang dipunyainya itu, tidak lantas menjadikannya lupa kepada Allah yang Maha Memberi Rezeki.
Jika orang lain tertidur pulas menekuk lutut, maka jam 02:30 dia membangunkan diri, membasuh anggota wudhu melawan dingin membiarkan beberapa saat menggigil. Sajadah kemudian digelar, mukena putih menjumbai, takbir pun lirih terdengar. Bila shubuh belum datang, tak lantas kantuknya memanja dia bersembunyi dibalik selimut, melainkan asyik bercengkrama dengan Al-Quran.
Tanyalah kepada waktu dhuha, kapan saja hari selain dia dilarang shalat, dia menyempurnakan shalat sunnahnya? Tanyakan pula pada kencleng mesjid berapa kali dia absen setiap waktu shalat wajib tanpa dia rogoh dari sakunya 5 ribu?
Kalau kita tanya kepadanya, kenapa bisa seperti itu? Dia akan menjawab “ini semua karena kebaikan dan pertolongan Allah”. Jawaban ini telak dia berikan. Tapi hari ini tanpa seijinnya saya hendak membocorkan jawaban lain yang mungkin akal awam kita mampu mencernanya. “A, apa sih yang saya harapkan lagi? Sudah habis semua, sekarang saya hanya ingin mendekat sama Allah saja”. Inilah pernyataan seorang perempuan yang Allah takdirkan kanker darah menyerang tubuhnya, menggerogoti tubuh semampainya hingga payah bahkan terkapar. Muntah darah dan menggigil luar biasa sudah biasa. Selang infus ketika cuci darah adalah sarapan rutinnya. “A, ini mungkin jalan Allah menarik saya kembali ke jalan-Nya, setelah sekian lama saya membandel. Bagian tubuh yang dulu sering menjadi bahan pamer, sekarang saya tutup sempurna dengan kerudung sebagai penyempurna keindahan perempuan muslim. Yang saya inginkan adalah mati khusnul khatimah di nafas-nafas terakhir.”
Kata-kata terakhirnya membuat saya tertegun. Baginya nafas akhir bisa diprediksi medis, meski di tangan Allahlah segala takdir pasti terjadi. Namun pelajaran yang saya dapatkan adalah, betapa berharganya arti tiap desah nafas bagi sahabat saya ini. Ah, seandainya kita diberitahu bahwa umur kita adalah hingga minggu depan. Masihkah kita akan menunda-nunda shalat saat adzan berkumandang? Berapa juz Al-Quran-kah yang akan kita baca? Atau mungkin akan berapa kali khatamkah? Berapa pula rupiah yang hendak kita infaqkan?
Bila jatah satu minggu saja sudah sedemikian hebat rencana ibadah yang ingin kita lakukan, maka bagaimanakah bila pengumuman kematian itu hanyalah satu hari sebelum hari yang pasti tiba itu?
Niscaya bukan hanya ibadah wajib yang kita kebut. Ibadah sunnah pun kita tumpuk. Kita akan mengatur sedemikian rupa, sehingga waktu terakhir kita berada dalam waktu terbaik, dalam tempat kebaikan, dalam posisi terbaik, dalam amal terbaik. Berharap semua orang menjadi pemaaf saat kita memelas maaf atas setiap ucapan yang menyakiti, atas perbuatan mendzalimi.
Jika kita berani lebih dalam lagi berandai-andai. Jikalau berita kematian itu datang satu menit sebelum tiba. Kira-kira adakah lisan kita masih lupa berdzikir? Dalam waktu 60 detik yang tersisa itu adakah kita masih memikirkan harta di genggaman? Saat itu kita mungkin akan tersadar, bahwa tak ada gunanya lagi harta yang kita cari dengan kepayahan, toh beberapa detik lagi, kitalah manusia bangkrut yang hasilnya hanya dinikmati orang lain.
Lalu mampukah kita membayangkan bila berita kematian itu sampai sempit sekali waktunya? Hasilnya seharusnya memunculkan dua kebiasaan. Pertama, kebiasaan tidak menyia-nyiakan waktu kecuali untuk beribadah. Kedua, kebiasaan untuk selalu mensyukuri hidup karena ternyata Allah masih memberikan jatah umur. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa Allah merahasikan datangnya waktu kematian. Agar kita berada dalam ruh dan jasad yang siap dengan perbekalan ibadah, dan membalutnya dengan syukur kala raga dan ruh masih menyatu.
Namun kita akan merasa aneh pada diri kita sendiri, saat justru kematian itu dirahasiakan kita malah berleha-leha. Ibadah yang seharusnya berada dalam tataran kuantitas malah babak belur. Kualitas apa lagi. Kita seakan merasa yakin bahwa kita masih bisa bernafas hingga esok bahkan tahun depan.
Ataukah kita hendak menunggu ujian hidup layaknya sahabat saya tersebut?
Ya Allah, sembuhkanlah dia. Angkat penyakit yang telah menghakimi umur singkatnya. Hilangkan duka dan laranya. Kabulkan permintaannya bila itu baik menurut-Mu, dan gantilah dengan yang lebih baik karena Engkau yang maha Mengetahui. Ya Allah mudahkan dia mencapai apa yang dicita-citakannya. Karuniakan kepadanya sisa nafas yang makin mendekatkan kepada-Mu. (Insan Sains)
Medan, 30 Oktober 05:02 WIB
Berbahagialah Indonesia

(Gambar diambil dari Flickr : Dragonroy-Two boys laughing Indonesia-15Jul07)
Setelah membuka file-file lama, saya ternyata masih menyimpan catatan dialog bersama Syaikh Aidh Al-Qarni (penulis buku best seller, La Tahzan) secara langsung di Islamic Book Fair (4 Maret 2005), Senayan. Berikut kutipan taujih beliau :
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Ba’da tahmid wa shalawat
Saya merasa senang menginjakkan kaki di Indonesia. Karena disinilah surganya dunia. Ada dua bait syair yang ingin saya berikan. Perlu kalian ketahui bahwa di negeri kalian ini ada 3 kenikmatan. Kenikmatan pertama, air. Kedua, alam yang kaya.
*Beliau terdiam sejenak*
Ketiga, wajah yang cantik-cantik.
*Hadirin pun tergelak bersama Syaikh yang tersenyum ringan*
Dan saya ingatkan kepada kalian, bersyukurlah atas kenikmatan yang telah Allah limpahkan ini. Tidak ada satupun negara yang dikaruniai Allah dengan karunia yang sedemikian besarnya, selain negara kalian ini. Maka bersyukurlah. Janganlah kalian bersedih, kalian mendapatkan segala kenikmatan di sini. InsyaAllah, kalau saya kembali ke negara saya, dan berceramah ke negara-negara lain, maka akan saya katakan, La Tahzan, Janganlah kamu bersedih. Pergilah kamu ke Indonesia, maka kamu akan merasa senang dengan segala kenikmatannya.
Dan saya mohon kepada kalian, agar mengirimkan saya air, dan wajah-wajah yang cantik, setibanya saya di negara saya, karena ditempat kelahiran saya hanya ada tanah yang gersang. Setibanya saya di negara saya, akan saya ceritakan kepada semua orang, segala yang bagus-bagus pada mereka tentang kalian.
Kami sangat menghargai dan selalu memperhatikan kalian, terutama dalam aksi-aksi yang menyangkut permasalahan umat Islam. Terutama aksi kalian memprotes karikatur nabi Muhammad saw. Tidak ada negara yang memiliki potensi seperti kalian. Seperti kalian ketahui, bahwa kalian adalah umat Muslim terbesar, secara mutlak di seluruh dunia, dengan 200 juta umat muslim. Maka saya berpesan, hindarilah perpecahan, sehingga jika suatu saat Amerika dan sekutu-sekutunya menjelek-jelekkan Islam. Maka kami, dengan bangga akan berkata, “Di sana ada saudara-saudara kami yang jumlahnya ratusan juta, kami tidak akan takut dengan kalian. Cukup bagi kami memiliki Indonesia.”
*Bulu kudukku merinding mendengarnya*
Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang baik, kalaupun ada perdebatan, maka berdebatlah dengan cara yang baik pula. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Kita bukan teroris. Teroris adalah mereka yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah, teroris adalah mereka yang membunuh anak-anak dan wanita.
Saya menyambut baik adanya Book Fair ini. Kalau sekiranya 1 juta orang saja, dari jumlah kalian yang 200 juta jiwa membaca buku La Tahzan, maka saya yakin Islam akan bangkit. Islam akan disegani. Maka saya pesankan kepada kalian, banyak-banyaklah membaca, baca buku apapun. Teknologi, kedokteran, filsafat, dll. Dan jadikan semua bermanfaat. Kami berharap, suatu saat kami tidak perlu lagi membeli mobil, membeli pesawat, dan yang lainnya dari Amerika, dan sekutu-sekutunya, tapi kami akan membeli semua itu dari kalian, Indonesia. Perlu kalian ketahui, saya telah menulis tafsir Al-Qur’an singkat, dan insyaAllah akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, khusus untuk kalian, maka saya berharap penerbit Qisty Press, dapat memberikan diskon khusus pada mereka semua agar dapat memiliki tafsir tersebut. Dan semoga tafsir tersebut bisa bermanfaat bagi kalian.
Saya juga berpesan, jika adzan sudah berkumandang, segeralah shalat, dan tinggalkanlah segala kesibukan kalian, tutuplah toko-toko kalian, tinggalkanlah pekerjaan kalian. Karena yang demikian itu adalah ciri mukmin yang sesungguhnya.
Saya pun menaruh rasa bangga kepada seluruh wanita-wanita kalian. Saya bangga karena sikap kalian yang baik, yang ramah, saya melihat wanita-wanita kalian ketika musim haji. Perasaan bangga ini, tidak hanya bagi wanita kalian yang sudah menutup kepala mereka dengan kerudung, tapi bagi mereka yang masih terbuka pun demikian. Mereka semua sangat sopan. Saya berharap, wanita yang masih terbuka dapat menutup kepala mereka kemudian hari.
Adapun mengenai musibah yang menimpa kalian silih berganti. Maka berbaik sangkalah kepada Allah, bisa jadi ini adalah ampunan dan kasih sayang Allah kepada kalian. Kita berharap mereka yang menjadi korban setiap musibah yang menimpa ini dikumpulkan di surga, karena surga lebih indah daripada Indonesia. Jangan kalian anggap ini sebagai adzab dari Allah, karena kalaulah ini adzab dari Allah, maka yang seharusnya mendapatkan adzab ini adalah Amerika dan Israel. Maka Berbahagialah. (Insan Sains)
Jakarta, 22 Syawal 1430H, 22:33 WIB
Membelah Arus
(Sumber gambar : Nuvailia – Rindu Allah – 10jan07)
Dalam bus kopaja 609 dari arah Blok M, saya sempat ditanya berulang-ulang oleh seorang gadis berjilbab rapi yang duduk di samping saya. “Jam berapa sekarang ya mas?”. Meski saya lebih menyukai panggilan “Kang” atau “Aa” (panggilan di rumah), saya memaklumi panggilan “Mas”-nya karena kami baru bertemu. Tak berani saya memandang wajahnya, dan nampaknya dia pun begitu.
Tak selang beberapa lama, untuk kedua kalinya ia menanyakan pertanyaan yang sama, “Jam berapa sekarang ya mas?” Saya pun menjawab “10 menit lagi jam enam mba”. Tak lama terdengarlah suara adzan maghrib, “Allahu akbar.. Allahu akbar...”. Dan gadis itu pun terlihat tergesa merobek resleting tasnya dan mengambil sebotol air mineral. Matanya memejam, bibirnya berbisik pelan, sedangkan ujung botol air mineral itu menempel di bibir bawahnya. Berdoa adalah satu-satunya hal yang terpikir oleh saya terhadap apa yang tengah dilakukan oleh gadis yang memancing saya memutar beberapa derajat sudut pandangan saya. Dia pun kemudian meneguk perlahan. Saya seakan merasakan tenggorokannya yang semula kering, kini basah. Ibarat bunga yang nyaris layu, namun kembali segar tersirami.
Oh… ternyata tadi ia sedang berpuasa. Subhanallah…! Setelah seperempat botol air tersebut berpindah ke lambungnya, kini ia membuka plastik hitam yang sejak tadi digenggamnya. “Mau gorengan mas?” tanya wanita muda itu. “Oh… tidak terima kasih” tolak saya halus. “Susah banget puasa kalau bukan di bulan Ramadhan!”, katanya disela kunyahan pisang molennya, “Banyak sekali godaannya!” lanjutnya setelah menelan kunyahan halus di mulutnya.
Kepalanya jelas terlihat menengok kiri-kanan. Tak tahu apa yang dicari. Tiba-tiba dia pun berdiri, “kiri bang.. kiri..”. Gadis itu turun dan bus kopaja pun berjalan. Saya menengok ke sebelah kanan ternyata terlihat kubah mesjid, saya pun dengan tergesa berdiri dan minta turun hendak mendirikan shalat maghrib. Berharap masih bisa ikut jamaah masjid tersebut.
Air keran membasahi anggota wudhu saya. Dingin sekaligus meninggalkan kesegaran. Saya jadi teringat pada gadis di kopaja tadi. Mungkin inilah yang dirasakannya ketika berbuka tadi, panas Jakarta dan dahaga yang menyiksa tiba-tiba lenyap dengan hadirnya bahagia ketika tegukan pertama.
Berpuasa di bulan Ramadhan tentunya tidak lebih sulit dibandingkan berpuasa di bulan lainnya. Sangat sulit untuk menjadi berbeda dan mempertahankan prinsip yang berbeda dengan yang diyakini kebanyakan orang. Memegang teguh prinsip di tengah desakan dari pihak yang berseberangan tentulah sangat sulit. Jika prinsip yang berseberangan dengan kita adalah hal positif dan kita terdesak untuk berbuat positif juga, maka hal tersebut justu sangat baik. Tetapi jika hal yang sebaliknya terjadi, dimana prinsip yang negatif yang berkembang pada orang kebanyakan, saat kita tidak kuat, maka dengan sangat mudah kita terseret di dalamnya.
Ketika teman-teman kampus pulang sebelum mata kuliah berakhir, meskipun tak jelas dosen hadir atau tidak, maka sangat sulit untuk membendung hasrat ingin pulang juga. Ketika teman-teman kantor bekerja sebagai individu terpisah dari kerjasama sebagai suatu team besar, maka susah sekali untuk tidak mengikuti pola mereka, tidak menerapkan pola elu-elu-gue-gue. Ketika banyak teman memilih jalan pintas, mampukah kita untuk tegas dan berkata “Tidak”?
Di tengah renungan saya sambil berjalan menuju mihrab mesjid, ternyata jamaah telah bubar. Di shaf depan saya menunggu, mencari teman untuk shalat berjamaah. Nihil. Namun tiba-tiba seorang perempuan yang baru saja saya temui di kopaja datang. Mukanya basah oleh air wudhu. “Mba.. kita berjamaah ya…” pinta saya. Dia pun tersenyum dan mengangguk.
Pertemuan kami hanya sesingkat itu, tapi dengan pertemuan itu Allah telah mengajarkan saya satu hal. Benar sekali perkataan rosul, bahwa suatu saat orang yang memegang teguh prinsip keislaman itu, ibarat seorang yang memegang besi yang telah menjadi bara api. Panas bahkan melukai. Pertanyaannya mampukah kita?
Jawabannya : Tentu saja mampu. Buktinya, gadis yang duduk disamping saya kala itu berhasil mempertahankan shaumnya ditengah godaan-godaan yang datang padanya. (Insan Sains)
Jakarta, 17 Syawal 1430H, 23:31 WIB
I’m Home…

Malam ini saya menemukan satu buku harian saya yang hilang. Pengalaman hidup saya selama tahun 2006 yang lampau. Lembar demi lembar patuh membalik mengikuti sapuan jemari. Tertahan sejenak, mengurai kalimat demi kalimat hingga tergambar gerak. Dalam sebuah ruang yang kita sebut ruang sejarah. Kadang bibir tersimpul senyum, terkadang mata yang dibujuk cengeng. Kadang mengharu biru, namun kadang menyesakkan batin.
Ah.. buku harian yang indah. Di mana saat itulah saya pertama kali jatuh cinta. Penuh bunga-bunga, meski di buku harian yang sama rasa itu tiba-tiba menjadi danau air mata, karena cinta itu pun harus kandas pada akhirnya. Tapi ada rasa syukur, karena rasa itu telah membuat kami dewasa dan bergerak terus lebih baik. Ada pula pengalaman ketika saya ketakutan dimaki-maki pemabuk, meski pada ujung buku harian, pemabuk tersebut bertaubat minta diajari shalat. Ada pula nama-nama yang tercatat jelas disana, yang tiap nama itu membangkitkan pelangi emosi tersendiri dalam jiwa saya.
Mengaitkan peristiwa demi peristiwa dalam buku harian tersebut telah membangkitkan kenangan yang mungkin sangat mahal bagi saya pribadi. Hingga saya menyadari ada satu buku harian digital yang nyaris saya lupakan. Yaitu BLOG. Ya.. sudah lama saya meninggalkan blog saya. Ada semacam kerinduan yang membuat saya ingin membaca ulang beberapa postingan. Tidak lupa komentar-komentar yang masuk. Ugggh… luar biasa. Inilah mungkin karunia memory yang Allah berikan. Saya merasa bahagia membaca kembali pengalaman saya di ruang sejarah ini. Meski ada pahit yang tidak bisa saya lupakan. Dan hari ini, saya akan kembali menempati rumah maya ini. Dengan segala suka dan duka yang ada di dalamnya. (Insan Sains)
Jakarta, 30 September 2009, 21:57 WIB
















