Insan Sains Mati Meninggalkan…???
Gajah mati meninggalkan gading.
Harimau mati meninggalkan belang.
Kalau Insan Sains mati meninggalkan….??
Apa yang mau ditinggalkan oleh seorang Insan Sains buat peradaban ini?
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah catatan status teman baik saya di wall facebooknya,
“hidup adalah bagaimana kita bisa memberi sesuatu yang bisa berarti bagi hidup orang lain.. warisan yang tak tergantikan oleh seisi materi dunia.. warisan yang membuat hidup orang lain menjadi lebih berarti… pengalaman dan ilmu pengetahuan.. semoga suatu saat aku bisa meninggalkan itu bagi lingkunganku dan orang – orang yang ada disekitarku..” (Ali Rahman)
Penting gak sih kita berbicara dan memikirkan hal ini?
Gak penting! Kalau Anda tidak mengasihani hidup Anda.
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita meyakini bahwa hidup ini adalah soal berapa banyak yang dapat kita beri untuk orang, bukan berapa banyak yang kita peroleh dari orang.
Bagi saya, hidup adalah proses menanam benih.
Saya menjadi Programmer, yang jika mati saya meninggalkan program/software.
Saat ini program buatan saya masih dipakai oleh perusahaan dimana kemarin saya bekerja.
Saya menjadi Blogger, yang jika mati saya meninggalkan blog.
Saat ini sudah ada dua blog
Saya menjadi Writter, yang jika mati saya meninggalkan tulisan
Saat ini sudah dua buku dicetak.
It’s Happy To Read They Weekly Reports
Makin tipis waktu, makin senang membaca laporan-laporan mereka. Tapi mungkin juga bukan karena waktu yang tinggal bisa terhitung jari, melainkan karena weekly report – weekly report mereka sudah sangat enak dibaca. Meskipun tentu belum seluruhnya dan sepenuhnya. Tersisa dua kali lagi rasanya. Tentu setelah itu saya hanya bisa merindukan tulisan-tulisan mereka, 13 orang yang saya nantikan laporannya. Mungkin juga bukan hanya laporan-laporan mereka, tapi juga perjalanan-perjalanan menyenangkan dengan mereka. Hoho… terlalu banyak kenangan di sini.
I’ve to go to sleep now, there’s a lot of job waiting for me tomorrow. This post is to be continued…
#7 Ramadan
Lir-ilir, lir-ilir
Bangun, banguntandure wis sumilir
Pohon sudah mulai bersemi,Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baruCah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Wahai penggembala, panjatlah pohon blimbing ituLunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaianDodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkanDondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti soreMumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Mumpung terang rembulannya, mumpung banyak waktu luangYo surako… surak hiyo…
Mari bersorak-sorak ayo…
Setelah para nabi dan rosul, ada pemikiran manusia seperti kita yang tidak punah dimakan jaman. Karya-karya mereka tetap ada, meskipun bumi menelan jasad mereka, dan langit kehilangan ubun-ubun mereka. Einstein misalnya, formula E = mc2 nya masih tersohor hingga saat ini. Atau F = m.a nya Newton. Dalam bidang kesenian kita mengenal Mozart, atau The Beatles, bahkan kita juga tidak asing dengan grup musik Bimbo. Mereka ibarat orang-orang yang menanam pohon lintas jaman. Satu hal yang mungkin membuat karya mereka tetap diingat, yaitu “sarat makna” sehingga tidak bisa ditafsirkan 1000 tahun oleh 1000 orang.
Baca entri selengkapnya »
#6 Ramadan
Duh.. pak Imam…
Kalau mau olah raga bo ya jangan di mesjid toh
Apalagi pas waktu tarawehAnda mengajak rukuk serta sujud, mengejar rakaat
Walau tiada khusyu dan tu’maninah, jatuh sekarat
Kapan umat akan belajar menikmati malam, dengan shalat?
Bila Anda mengajari kami shalat, metode “kebelet”Duh.. pak Imam… pak Imam…
Kami tidak bisa berkata-kata lagi
Cukup sudah!
#5 Ramadan
Semua orang tiba-tiba peduli dengan suara adzan
“Alhamdulillah… adzan dzuhur”
“Alhamdulillah… sudah ashar”
“Mas jam berapa?” *jam 17:50*
“Alhamdulillah sebentar lagi maghrib”
“Ih.. cepet banget yah, sudah isya lagi”
“Jangan tidur dulu, sebentar lagi shubuh”Satu bulan ini suara muadzin menjadi primadona
Mudah-mudahan menjadi budaya kesehariaan
#4 Ramadan
Orang yang rugi lahir batin yaitu
Orang yang ketika shaum
Imannya makin melorot
Namun perutnya tambah gembrot
#3 Ramadan
Masih di mesjid yang sama, di Kota Hujan
Baru pertama kalinya kalimat “eh” terucap dalam do’a
Awal yang mengharukan, namun akhir yang menggelikan
Tarawih biasanya ditutup dengan do’a, dan niat shaum esok
Namun dengan sangat lantang dan keras, sang bilal mengucap
“Allahumma lakasumtu wabika aamantu, wa’alarizkika afatortu, eh…“
Spontan sang bilal tersadar *mungkin dari hasrat menghabiskan es buah maghrib tadi*
“Nawaitu shauma ghadin an ada-I fardi syahri ramadhana hazihis sanati lillahi Taala“Jama’ah saling tengok,
Lalu mengungging senyum,
Beberapa saat kesunyian pecah.
Berubah menjadi gelak tawa.Senyumlah Insan, hari ini hadiah dari Allah
“Eh….“
Kira-kira gimana wajah bilal itu yah…*membayangkan merah kepiting rebus*
#2 Ramadan
Hari ini saya menangis..
Sangat manis sekali sang imam melantunkan kalam
Bocor juga bendungan kecil di sudut mata ini
Tenggorokan pun tersempal pilu
Rakaat demi rakaat dituntun sang imam begitu khidmat
Tak terasa mata semakin sembab
Terlintas dosa-dosa yang aku pun malu mengingatnya
Berharap Allah sudi menerima sujud dan permintaan ampunkuDuhai Allah, terima kasih atas jamuan taraweh dariMu
Shalawat dan salam untuk rosul terbaikMu
Dan berkahilah sang imam dan keluarganya.
#1 Ramadan
Hari pertama itu seperti orang baru ketemu, jatuh hati.
Lantas cinta, dan selalu ingin bersama.
Maka mintalah keistiqomahan agar ibadahmu tidak mengendur.
Cerita Kita Belum Berakhir
Seperti sebuah buku yang “menggantung”. Halaman depannya terisi cerita tangisan saat kita terlahir. Tangisan ketakutan sesosok makhluk baru dalam dunia yang fana. Lain dengan orang-orang yang menyaksikan kita, mereka tersenyum bahagia, puas.
Hari-hari berlalu, lembaran-lembaran buku pun telah tercetak dan telah menjadi ketetapan bagi kita. Ada halaman-halaman yang lucu, sedih, gembira. Ada pula halaman-halaman suram, dan baru kita sadari saat ini. Namun jangan pernah menyerah. Masih ada halaman-halaman akhir yang kosong. Kita memang tidak pernah tahu berapa banyak halaman kosong yang masih tersedia bagi kita. Tapi yang pasti, ada halaman hari ini, masih putih bersih. Dan bisa kita tulis dengan cerita lebih baik.
Teruslah menulis cerita yang lebih baik di setiap halamannya. Jadikanlah buku kita “better ending” not only “happy ending”. Jadikanlah akhir hidup kita, mampu menjadi orang yang tersenyum puas, bahagia. Sedangkan orang-orang di sekitar kita, menangis kehilangan.


