Resensi ini telah dipublikasikan di www.forumsains.com

Judul : Dari Atomos hingga Quark
Penulis : Hans J. Wospakrik
Penerbit : KPG & Penerbit Universitas Atma Jaya
Tahun : 2005
Genre : Ilmu Pengetahuan Umum
Tebal : 324 Halaman
ISBN : 979-91-0030-5

Buku multi-ilmu-eksakta yang dikarang oleh almarhum Hans J Wospakrik ini disampaikan dengan ringan serta jernih. Pembaca seakan-akan diajak untuk menapaki perjalanan panjang pencarian kebenaran hakikat zat yang merupakan satu-satunya zat terkecil yang menyusun alam semesta. Penulis santun kelahiran 50-an Irian Jaya ini, menghindari pembahasan-pembahasan rumit dan pencantuman kalkulasi-kalkulasi kompleks untuk memberi rasa nyaman bagi pembacanya.

Bab awal dalam buku yang terdiri dari 324 halaman ini, memulainya dengan menceritakan keadaan ilmu pengetahuan sebelum munculnya para pemikir-pemikir Yunani purba. Dimana saat itu, ilmu pengetahuan ibarat dikebiri dan hanya dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan. Hingga muncul seorang filsuf yang menyulut obor pencarian tak berujung sebuah ilmu pengetahuan tentang hakikat zat yang telah menjadi saripati kehidupan ini. Dialah Thales, yang menganggap bahwa zat dasar itu adalah air.

Semangat sang Thales untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, ternyata membakar semangat filsuf-filsuf lainnya. Herakleitos, Empedokles, dan Anaksagoras pun tak mau ketinggalan mengikuti perlombaan tak berujung ini. Masing-masing menyempurnakan pandangan yang dibawa filsuf sebelumnya. hingga Demokritos yang mencetuskan teori Atomos, yang mengatakan bahwa zat penyusun alam semesta ini adalah zat mungil yang tidak tampak dan tidak bisa dibelah lagi.

(more…)

Tulisan ini telah dipublikasikan di www.pintunet.com

Januari lalu, saya mencari penjelasan tentang teori bilangan (walaupun saya bukan seorang matematikawan, tapi lebih karena rasa ingin tahu saja). Seperti biasa, paman Google dalam sekejap memberitahu ratusan bahkan ribuan referensi bacaan. Ada satu link yang menarik perhatian saya, www.abeautifulmind.com). Dengan rasa penasaran saya mulai menelusuri situs tersebut. Ternyata judul sebuah film yang cukup terkenal. Ha..ha..ha.. norak sekali yach baru tahu!! Sinopsisnya cukup menarik, sehingga keesokan harinya saya langsung mendownloadnya.

Film ini merupakan kisah nyata seorang pria yang dikarunia berbagai kelebihan. Mulai dari wajah yang tampan, perawakan yang tegap dan gagah, serta kejeniusan yang luar biasa. Bahkan seiring bertambahnya waktu, dia dikaruniai pula istri yang selain cantik juga terbilang sangat cerdas, dan dari keluarga konglomerat. (Subhanallah, komplit banget tuh nikmat). Feeling saya, harusnya orang seperti dia dibuatkan biografinya. Dan ternyata dugaan saya benar, ada dalam bentuk novel. Tak ragu lagi saya membelinya di toko buku online kepercayaan saya (tentunya dengan harga diskon dan diantar ke rumah ^_^). Sebelum saya menonton filmnya, saya lebih tertarik menyelesaikan novel karangan Silvia Nassar tersebut terlebih dahulu (maklum senangnya baca sih, apalagi kan novel biasanya lebih lengkap dari filmnya)

Sedikit komentar antara Novel dan Filmnya
______________________________________________________________________________

Seperti yang dimaklumi bersama, bahwa adalah sebuah kesulitan untuk mendeskripsikan sebuah novel kedalam bentuk film. Banyak peristiwa-peristiwa, adegan-adegan yang tidak mampu untuk divisualisasikan. Film ini pun tidak ubahnya seperti hal diatas. Ada beberapa adegan yang ketika saya membaca novelnya, ingin saya lihat, diantaranya masa kecil dan kenakalan-kenakalan remajanya, serta hubungannya dengan keluarga yang ternyata tidak diulas di film ini. Walaupun demikian, cukup menariklah untuk ditonton, selain memberikan kita gambaran tentang kehidupan orang yang telah berjasa dalam kehidupan kita (secara tidak langsung), juga film ini mengandung unsur-unsur teladan yang patut ditiru. (Tapi kalau mau lebih gamblang lagi, ya beli aja novelnya. ^_^, di toko yang berdiskon yach supaya lebih hemat!)

Nilai positif yang saya dapat
______________________________________________________________________________

Dua karakter kuat dalam film ini, mungkin tidak akan hilang dari ingatan saya. Apalagi saya menontonnya tak kurang dari 8 kali (mumpung sejak awal Februari lalu ada tugas luar kota, jadi waktu malam digunakan untuk nonton film-film yang sebelumnya saya kumpulkan dan menurut saya mengajarkan moral dan menambah pengetahuan). Dua karakter itu adalah :

(more…)

Resensi ini telah dipublikasikan di www.wisata-buku.com

Judul : A Beautiful Mind
Penulis : Sylvia Nasar
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2005
Genre : Novel Biografi
Tebal : 625 Halaman
ISBN : 979-22-1464-x

A Beautiful Mind. Sebuah buku yang pernah memenangkan National Book Critics Circle Award pada tahun 1998 untuk kategori biografi, serta lolos pula sebagai finalis Pulitzer Prize. Buku ini mengisahkan kehidupan John Forbes Nash, Jr., yaitu salah sosok jenius Matematika Amerika Serikat yang menemukan Teori Permainan (Game Theory), penemu perilaku rasional, dan seorang Matematikawan yang menjabarkan teori Ekuilibrium –sekarang diabadikan dengan sebutan kesetimbangan Nash yang merupakan solusi ekonomi yang lebih canggih daripada metafora Invisible Hand-nya seorang ekonom terkemuka Adam Smith.

Game Theory atau yang singkatnya disebut sebagai “analysis of decision making” adalah sebuah analisis dengan mempertimbangkan strategi orang lain di dalam strategi kita. Salah satu aplikasi yang memanfaatkan Game Theory ini adalah untuk kejadian prisoner’s dilemma, dimana kejadian ini akan menguntungkan semua pihak bila mencapai sebuah titik yang dinamakan kesetimbangan Nash. Teori kesetimbangan ini lebih banyak digunakan pada bidang ekonomi.

Buku ini mengisahkan dengan baik saat-saat ketika intelektual Nash tengah berapi-api, serta memberikan sentuhan emosional ketika mengetengahkan bagaimana Nash diterjang penyakit skizofrenia yang sempat meringkuk, bolak-balik ke rumah sakit jiwa, dan tak lupa sang penulis menghadirkan tokoh tegar sang istri (Alicia) yang merupakan fisikawan muda yang cantik dan mencoba untuk tetap tabah menghadapi kondisi suaminya yang kian lama kian kritis. Sang penulis, Sylvia Nasar di sini sanggup memaparkan semua kehidupan Nash dengan sangat detil, bahkan kejahilan-kejahilan Nash ketika berada di Princeton University tak luput dikisahkannya.

Di bagian akhir, pembaca dibuat terharu biru, ketika sang Nash yang tengah menua pada umurnya yang ke-60 tahun, kala kesehatannya makin memburuk, justru dua keajaiban besar sedang menantinya, dan bersiap merangkul bahagia dirinya. Apakah itu? Yang jelas, hal inilah yang membuat industri per-film-an Dream Works terpincut untuk mengangkatnya menjadi sebuah film yang dibintangi oleh aktor ganteng Australia, Russel Crowe.(insansains)

Resensi ini telah dipublikasikan di www.wisata-buku.com

Judul : Mana yang Lebih Banyak, Orang Hidup atau Orang Mati?
& Mengapa Rambut Menjadi Uban? Dan 112 Pertanyaan Lain
Penulis : Mick O`Hare
Penerbit : Ufuk
Tahun : 2006
Genre : Ilmu Pengetahuan Umum
Tebal : 304 Halaman
ISBN : 979-1238-37-5

Disadari atau tidak, seluruh hal yang ada di alam ini menghadirkan banyak fakta ilmiah menarik. Sebagian dia ntaranya telah berhasil terungkap dan menyisakan decak kagum tersendiri bagi peradaban manusia, namun sebagian lagi masih menjadi teka-teki alam yang selalu menggoda untuk disibak. Manusia dengan potensi akal yang diberikan kepadanya senantiasa berusaha mencari makna terpendam dan terselubung dalam fakta keseharian yang mungkin dianggap remeh, salah satunya adalah para ilmuwan yang berusaha mencari penjelasan ilmiah atas segala fenomena-fenomena alam yang terjadi di kehidupan sehari-hari namun luput dari pandangan kita karena menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Apakah pernah terlintas dalam pikiran Anda tentang sesuatu yang Anda anggap remeh dan Anda benar-benar ingin sekali mengetahui alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Saat Anda berada di dapur sedang mengiris bawang, pernahkah Anda bertanya “Kenapa selalu keluar air mata?”, “Bisakah mengiris bawang tanpa mengeluarkan air mata?”

Atau mungkin ada seorang anak kecil yang bertanya kepada Anda, “Mengapa ingus warnanya hijau yach?”, “Kenapa sih langit berwarna biru?”, dan tentunya berbagai pertanyaan-pertanyaan “aneh” lainnya. Hmm… Apa yach kira-kira jawaban yang bisa kita berikan? Apakah kita sebagai seorang pendidik, atau sebagai orang tua cukup puas dan bijak dengan mengatakan “Duh… ibu tidak tahu!” Tanpa berusaha menggali jawaban yang sesungguhnya, atau setidaknya memicu anak kecil tersebut untuk mengetahui lebih jauh.

Nampaknya ketidaktahuan kita cukup sampai di sini saja. Sebab dengan adanya buku ini, pembaca dapat mengetahui hal-hal remeh bin temeh bin aneh bin nyeleneh yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Pada dasarnya buku ini merupakan kumpulan hasil tanya jawab berkaitan dengan sains sehari-hari yang terdapat dalam kolom Last Word di majalah New Scientist. Sebuah majalah cukup tersohor yang diterbitkan di Inggris, dan selalu membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan-perkembangannya, yang tentunya sebuah pengetahuan yang tidak didapatkan di bangku sekolah mana pun.

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang bisa ditemukan di dalam buku ini:

# Mengapa kaki penguin tidak beku?

# Mengapa rambut menjadi uban?

# Mengapa ketika menggelitik tubuh sendiri tidak tertawa?

# Apa benar kita masuk angin jika tidur tanpa selimut atau ditempat berangin?

# Mengapa burung tak terjatuh kala mereka tidur?

# Apa benar untuk menyeduh air teh atau kopi harus menggunakan air segar (bukan air yang telah mengalami dua kali perebusan)?

# Mengapa ikan tidak kentut?

# Bagaimana selamat dari lift yang jatuh bebas?

# Benarkah air panas yang diletakkan dalam freezer lebih cepat beku daripada air dingin?

# Mengapa tenggorokan serasa kering ketika kita sedang gugup?

Temukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sepele tersebut di buku ini. Wah… pokoknya seru-seru deh, yang jelas ada sekitar 112-an pertanyaan yang pasti diminati para pembaca sekalian. (insansains)

Berawal dari kegemaran membaca buku, akhirnya menjadi gemar pula membeli buku, walaupun kenyataannya cukup banyak buku-buku yang masih “perawan” dan masih tersegel rapih. Tempat favorite saya untuk membeli buku adalah PALASARI (Bandung). Satu-satunya alasan saya selalu membeli buku di sana adalah karena harganya yang jauh lebih murah walaupun setidaknya harus tiga kali pindah tempat duduk (baca : angkot) dari rumah ke Palasari. Hampir semua buku baru didiskon 30-35% (tanpa ditawar), dan buku-buku lama bisa jauuuuuh lebih murah (kalo bisa nawar).

Jadi teringat masa-masa sekolah dulu! Demi memenuhi hasrat memiliki buku baru tiap bulannya, saya rela untuk menahan rontaan perut kala bel istirahat makan siang berbunyi. Namun rasa perih perut itu akhirnya selalu terobati tiap kali “memperawani” segel plastik buku-buku baru itu. Ibarat puasa sejak imsak hingga bedug maghrib, kemudian dijamu dengan kenikmatan berbuka.. Ah… betapa nikmat bukan? tiap tegukan air yang membasahi tenggorokan ibarat hijaunya pepohonan yang dirindu oleh orang-orang di padang pasir yang gersang. (gak terasa yach, shaum ramadhan sudah semakin dekat)

Back to topic!
Sayangnya sejak Jakarta menyeret saya ke kota metropolitan (yang belum metropolis ini), PALASARI hanya tinggal kenangan. Sejak saat itulah, GRAMEDIA dan GUNUNG AGUNG menjadi tempat “nongkrong” saya menyiram kejemuan bekerja. Hem… tapi rada harus menghembuskan nafas panjang kalau ingin membeli buku disini. Muahal-muahal mintza ampiunz…! Sehingga planning penghematan anggaran hidup, bisa bobol kalo sering berkunjung ke sana apalagi tergoda untuk membeli buku…!

Alhamdulillah, sejak tahu ada toko buku online yang ternyata menjual buku-bukunya lebih murah, saya jadi lebih bersemangat lagi. Walaupun sebagian besar diskon yang ditawarkan tidak seperti dulu saya membeli di PALASARI, tapi lumayanlah, apalagi jika bisa diantar GRATIS! Ternyata era digital dan internet telah mengantarkan kita -para bookaholic- pada peradaban baru. Berikut saya share hasil pencarian saya bersama Om Google terhadap situs-situs yang menjual buku secara online :

(more…)

Resensi ini telah dipublikasikan di www.wisata-buku.com

Judul : Islam dan Tantangan Zaman
Penulis : Murtadha Muthahhari
Penerbit : Pustaka Hidayah
Tahun : 1996
Genre : Islam – Akhlaq
Tebal : 391 Halaman
ISBN : -

Islam memiliki ajaran-ajaran yang bersifat tetap dan tidak akan pernah berubah dari zaman ke zaman, namun di sisi lain zaman merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut perubahan, dan pembaruan. Setiap hari zaman datang dengan membawa berbagai hal baru yang berbeda dari kondisi-kondisi masa lalu.

Pertanyaannya, apakah Islam yang ajarannya tetap ini masih sesuai dengan zaman yang sudah berubah? Apakah mungkin sehelai baju untuk seorang anak berumur 2 tahun masih bisa dipakai ketika anak itu menginjak usia 20 tahun? Apakah Islam masih cocok diterapkan di zaman modern ini? Dan apakah hanya Islam satu-satunya ideologi, filsafat kemasyarakatan, kompas petunjuk perjalanan, dan gerak ke arah kesempurnaan, yang mengklaim kekekalan ajarannya? Dengan segala perubahan zaman yang terjadi, apakah seorang muslim mampu mempertahankan dirinya sebagai muslim yang taat, sementara Islam mengharuskannya untuk berpijak pada ajaran-ajarannya dalam menghadapi segala bentuk tuntutan zaman yang terus berkembang?

Kita mengalami sendiri, masa di mana, hidup bisa serba instant, jarak menjadi tidak berpengaruh, pokoknya serba praktis dan banyak hal yang di masa orang tua apalagi kakek kita dulu belum pernah ada, hari ini dengan segala kecanggihannya hadir di depan mata. Tiap hari ilmu pengetahuan membawa sesuatu yang baru. Ambil kasus tentang daging babi yang telah dilarang sejak masa Rosulullah SAW dimana tidak ada teknologi yang mampu menguak secara ilmiah. Kaum muslim serasa dimenangkan oleh munculnya penelitian yang menyatakan bahwa ditemukan sejenis Mikroba yang terdapat pada daging babi yang sangat berbahaya bagi tubuh. Namun tahun berganti tahun, ilmu pengetahuan datang dengan penemuan yang lebih baru dimana akhirnya ditemukan formula untuk menghilangkan / membunuh Mikroba ini. Lantas apakah hukum memakan daging babi menjadi halal?

(more…)

Tulisan ini telah dipublikasikan di www.pintunet.com

Hari itu ( Sabtu, 31 Mei 2008 ) aku berangkat ke kampus sambil niat mengisi waktu luang dengan membaca buku di angkot. Matahari Jakarta seperti biasa menunjukkan kegarangannya, menyengat ubun-ubunku hingga terasa mendidih, namun dengan setia aku menunggu angkot yang akan mengantarkanku menuntut ilmu itu.

Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya, aku dibuat tertawa nyinyir melihat angkot berwarna hijau-putih itu menampakkan diri. Bukan hanya gara-gara angkot yang akan kunaiki itu sudah butut bukan kepalang melainkan juga tengah dijejali orang-orang. Dengan mengucap basmalah kulandasan kaki kanan kemudian kaki kiriku di pintu mini bus reot itu. Kulihat sejenak sekeliling, tengah penuh sesak, seandainya pun ada kucing di tengah-tengah kerumunan ini, maka dipastikan binatang malang itu telah mati terhimpit dan menemui ajalnya.

Semua kursi tak berbusa itu telah penuh diduduki, keringat di kening dan sepanjang leher orang-orang yang duduk itu mengisyaratkan betapa mereka telah duduk lama disitu dan merasakan pengap yang luar biasa. Make-up seorang gadis remaja yang mungkin akan pergi bersama pacarnya itu telah memudar disiram keringat dan tersapu basuhan tangannya. Pun tak ketinggalan lebih menderita lagi orang-orang yang berdiri, termasuk diriku, bukan hanya keringat yang mengucur di sekujur tubuh yang tentunya menambah “harum” aroma angkot jadul itu, tapi juga wajah kusut menahan pegal tangan yang telah lama bergelantung di besi panjang, dan juga kaki yang silih berganti kesemutan. Di angkot yang sudah karatan itu pula kami harus berbagi udara yang sama, apa yang kuhirup adalah yang dikeluarkannya, dan yang dihirupnya adalah udara yang ku keluarkan. Inilah cermin salah satu transportasi umum (yang mungkin) terbanyak di ibu kota negara kita kawan!

Tapi tunggu,
(more…)

Fyiuh….. Ternyata saya memang gak bakat untuk menahan nafsu menulis saya. Di tengah project yang sedang saya lakukan ditambah lagi kerjaan kantor yang memaksa harus keliling Indonesia, juga tak lupa beberapa buku yang saya lahap habis seminggu terakhir ini justru makin buanyak memberikan inspirasi tulisan yang tidak bisa saya bendung lagi. Hugh… akhirnya saya mengambil keputusan untuk “nyiramin” lagi blog-blog saya ditengah aktifitas yang sebenarnya uncontrolled.

Tapi tak apalah, yang namanya nafsu itu perlu disalurkan dengan cara yang haq. Mudah-mudahan ini jalan yang tepat. Oiaa satu lagi, terima kasih kepada teman-teman blogger yang selalu “ngintip” blog ini selama kepergiannya dan mohon maaf untuk komentar-komentar yang masuk saat hari-hari vakum saya tidak bisa ditanggapi lebih lanjut karena saking banyaknya. Yups, hari ini seucrit aja ah nulisnya, masih harus nyiapin presentasi buat besok. “Bismillah…” Ya Allah dengan nama-Mu aku memulai kembali menulis, maka ridhai Ya Rabb!

Mohon Maaf…!!

Dikarenakan si empunya blog ini, ingin memfokuskan diri pada project robotic yang suntikan dana awalnya insyaAllah segera turun, maka blog ini untuk sementara waktu tidak akan diupdate. Bisa beberapa hari, bisa beberapa minggu, bisa beberapa bulan, bisa beberapa tahun (wah.. kelamaan..!). Padahal lagi semangat-semangatnya buat nulis, dan sedang asyik bikin cerpen science fiction.

Adapun blog yang akan lebih aktif adalah blog project saya di sini, dan tentunya masih bisa saling sapa menyapa via YM (id : insan_sains).

Mohon maaf bila ada komentar di blog ini yang belum sempat ditanggapi, maupun link yang belum dimasukkan pada blogroll.

Salam.

Mudah-mudahan, setelah semua ini terlewati, saya bisa bernafas dengan lega lagi….!!! dan kembali ke sini..! :)

Saat ini pun aku masih belum percaya bahwa akhwat (baca : gadis muslimah) cantik itu bersedia menerima pinanganku. Di depan sang abi (baca : ayah)-nya itu, aku sempat terdiam, melamun membayangkan betapa aku mungkin tergolong laki-laki paling beruntung di dunia ini. Tak di nyana, tak pernah disangka laki-laki Turki yang telah lama menetap di Indonesia ini dan masih mempunyai ikatan darah dengan salah seorang tokoh idolaku, Harun Yahya. Kelak (insyaAllah) aku akan memanggil pria dihadapan aku ini dengan sebutan “bapak mertua”.

Aku jadi teringat masa dimana aku mulai mengenal ahwat luar biasa ini di salah satu situs komunitas. SAFA begitulah dia memperkenalkan ID-nya. Aku pun tak mau kalah, InsanSains ID-ku, namaku sengaja tidak aku publikasikan. Kami makin akrab dengan seringnya berbagi ilmu dan informasi via Yahoo Messanger maupun email. Jujur, aku banyak mengambil pelajaran dari diskusi-diskusi kami selama ini, gadis lulusan mahasiswi Kedokteran Universitas Indonesia itu banyak membuka wawasan berpikirku, tidak hanya masalah keislaman yang dia mahfum, tapi juga beberapa keilmuan lainnya. Cukup banyak hal yang aku tahu tentang dirinya, itupun aku menyimpulkan sendiri dari tulisan-tulisannya selama ini. Aku sendiri belum pernah melihat foto dirinya seperti apa. Namun yang jelas, kepribadiannya sungguh menarik.

Hingga suatu saat, dia mengirimkan offline message di Yahoo Messangerku.

“Tidakkah kita ingin menyempurnakan separuh dien? ^_^”

Logo smiling face berbentuk garis bawah yang terletak diantara tanda pangkat (^_^) adalah ciri khasnya. Mungkin dia adalah tipe gadis yang selalu periang. Namun yang jelas, pesan singkatnya tersebut membuat diriku tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari. Kalimat itu selalu muncul di benakku! Tapi apa benar ditujukkan untukku? Lalu apakah istimewanya diriku? Aku pun segera meminta nasihat kepada murabbiku, “Ustadz, tolong donk bagaimana menyikapinya?”. Sang murabbi pun dengan bijak diikuti senyumannya menasehati :

“Akhi… (baca : panggilan untuk laki-laki), umur antum (baca : kamu) sudah pas, pekerjaan antum sudah mapan, keilmuan untuk mengarungi bahtera rumah tangga sudah antum miliki. Tidakkah antum ingin mendapatkan surga sebelum surga?

Sang murabbi pun melanjutkan,

Tidak baik menolak akhwat dari keluarga baik-baik. Sudah, segera saja antum balas, antum kirim biodata antum. Biarkan si akhwat mengetahui sebenarnya tentang antum. Dan mintalah dia untuk mengirimkan pula biodata dirinya. Perbanyaklah shalat Tahajjud dan mendekatkan diri kepada Allah. Nanti jika ingin berlanjut, insyaAllah ana (baca : saya, ustadz) insyaAllah membantu”

(more…)

Next Page »